Bisakah menulis digunakan sebagai sumber mendapatkan penghasilan? Nah pertanyaan ini sama seperti orang main sepak bola, yaitu melakukan sliding pada lawan. Kan tadi sudah dikabarkan kalau menulis bisa untuk mencari nafkah atau profesi, atau sebagai hobi. Jika informasinya bisa untuk mendapatkan sumber penghasilan, berarti Anda akan lebih tertarik dan mendorong diri untuk tetap konsisten menu1is Royalty-nya tidak kecil kalau artikel Anda best seller.
Pada tahun 2007 sampai 2008 ada 2 penulis fiksi yang menerima royalty miliaran rupiah dari penerbit atas artikel best seller-nya. Cuba tebak? Penulis sudah menyinggung-nyinggung sebelumnya. Karya mereka semuanya difilemkan, dan ia dari produser juga mendapatkan uang. Bukankah ini menarik? Kalau tidak menarik jangan teruskan membaca artikel ini. Akhirnya jadikan menulis sebagai cara mengumpulkan uang untuk standar hidup Anda. Jika untuk kaya, penulis pikir jangan. Tapi untuk memperbaiki standar hidup Anda sudah bisa. Jika pembaca sekalian konsisten, tapi kalau pembaca sekalian tidak konsisten lebih baik jangan deh. Cari pekerjaan lain saja yang lebih safe. Ini sejujurnya.
Kalau ada pengarang yang membuat artikel dengan judul Kaya Raya Dengan Menulis, pengarang adalah orang yang paling tidak setuju. Mengapa? Terus terang pengarang takut membuat kecewa orang. Jika artikel pembaca sekalian best seller pembaca sekalian bisa kaya raya, kalau tidak ya tidak bisa kaya raya. Hanya untuk memperbaiki standar hidup saja cukup lumayan. Atau sebagai sumber penghasilan tambahan cukup baik. Oleh sebab itu, buatlah artikel yang bisa best seller. Rumusnya sudah dipaparkan sebelumnya di artikel ini.
Menggeser hobi ke profesi.
Kalau ingin konsisten caranya memang harus menggeser hobi menulis ini menjadi sebuah profesi. Jika membuat aktivitas menulis sebagai hobie maka Anda akan kekeringan uang. Tapi kalau sebagai profesi Anda akan kebanjiran uang. Betulkah? Hal ini bisa betul atau tidak tergantung pula pada Anda. Jika pengarang artikel bilang bisa untuk profesi, tetapi Anda tidak menulis dan karyanya sedikit, maka nanti pengarang artikel yang disalahkan. Menjadikan menulis sebagai profesi tentunya harus total dan tidak separuh-separuh. Jika hobi akan menghabiskan uang maka profesi bisa menghasilkan uang. Itu yang harus Anda tahu. Hobi apa pun kalau dihukumi pasti akan menghabiskan uang. Jika Anda hanya hobi menulis doang, tentunya Anda akan kehabisan uang untuk membeli kertas, membeli camilan, minum, vitamin serta lainnya supaya Anda bisa menulis. Tapi kalau sebagai profesi meskipun Anda mengeluarkan biaya, tapi Anda juga mendapatkan uang dari penerbit sehingga bisa meng-cover biaya yang Anda keluarkan.
Kalau bisa masuklah ke club tulis menulis. Seperti Forum Lingkar Pena. Kenapa harus masuk ke club itu? Tentunya supaya pembaca sekalian terus-menerus bersemangat dan mendapatkan berbagai informasi baru dalam bidang tulis-menulis. Biasanya pembaca sekalian akan mendapatkan pengalaman baru yang dialami penulis artikel lain melalui sharing, atau bacaan yang diterbitkan oleh club itu. Selain semangat tentunya supaya energi menulis terus muncul sehingga mendorong untuk selalu konsisten dalam menulis. Menulislah dengan cara yang ulang-alik, seperti menulis bagian yang ringan dulu dan merupakan pengetahuan Anda. Dan kemudian baru menulis materi-materi yang berat dan membutuhkan pembelajaran.
Setiap yang pembaca sekalian tulis tidak semuanya merupakan bagian yang pembaca sekalian kuasai. Bisa jadi pembaca sekalian perlu bertanya ke narasumber. Maka menulislah dengan cara yang tidak urut, kalau sudah selesai bab-bab yang mudah barulah menulis yang sulit. Ini adalah suatu cara pembaca sekalian agar konsisten menulis dan berhenti menulis hanya karena harus menemukan referensi terlebih dahulu.
Bangga sebagai Penulis artikel.
Tidak semua orang merasa bangga menjadi penulis artikel. Pada suatu kesempatan ketika kami berkumpul dengan berbagai kalangan yang tidak kami kenal, ada satu orang yang menanyakan profesi seseorang. Ketika orang yang ditanya itu menjawab bahwa profesinya sebagai penulis, tiba-tiba dahi orang yang bertanya itu mengerut. Ia bak melihat makhluk yang baru turun dari planet Pluto. Setelah dianalisa dengan benar bahwa orang lain pun ternyata tidak mengerti dengan profesi sebagai penulis artikel. Sebab dalam KTP pada umumnya orang tidak mencantumkan dan jarang ada yang mencatumkan di kolom pekerjaan itu sebagai penulis. Jika sebagai wartawan banyak, tetapi sebagai penulis artikel penulis artikel rasa dari 1.000 orang paling 1 orang.
Penulis artikel tidak yakin seseorang mau mencantumkan pekerjaannya sebagai penulis artikel meskipun prediksinya 100011. Saya rasa orang di atas sebenarnya bangga dengan apa yang menjadi profesinya. Ia tidak merasa bersalah ketika menyebutkan kalau dirinya adalah penulis artikel. Tapi dalam lingkungan kehidupan kita, tidak semua orang bisa menerima pekerjaan itu. Apalagi sekarang keadaan sudah modern. Sudah ada ATM, maka semakin tidak diakui profesi penulis itu. Orang tidak tahu kalau penulis itu mendapat bayaran yang ditransfer di rekeningnya. Orang baru bisa dihargai kalau memiliki pekerjaan sebagai orang kantoran, selain setiap hari memiliki uang, ia setiap bulan mendapatkan gaji. Dan, ia berangkat dari rumah pagi hari dan pulang di petang hari. Jika penulis artikel, hanya nongkrong saja di meja dengan komputernya, dan tidak pergi ke kantor di pagi hari dan pulang petang.
Di kantongnya kalau diraba juga kosong. Apa ia disebut sudah bekerja? Nah, fenomena inilah yang masih belum bisa dihapus dari lingkungan hidup sekitar kita. Orang kemudian menyiasati dengan memilih mengajar untuk menutupi profesi sebenarnya. Jika ditanya apa profesinya, profesinya guru, dosen, atau apa saja untuk menutupi profesi yang sebenarnya, yaitu sebagai pengarang artikel. Orang akhirnya tidak bisa merasakan kebanggaannya sebagai pengarang artikel yang diakibatkan lingkuugan sekitarnya tidak mengerti. Kasus pengarang fiksi Ayat-ayat Cinta sampai mengontrak ruko, juga karena adanya fenomena orang masih belum bisa membanggakan pengarang sebagai profesi. Yang ada mungkin profesi tukang khayal, karena yang dibikin memang khayalan semata. Akhirnya orang memandang bahwa orang yang bekerja di rumah bukanlah seorang pekerja. Ia sedang mengganggur. Nah, fenomena inilah yang masih belum bisa dihapus dari lingkungan hidup sekitar kita.
Sayang sekali di Indonesia bahwa profesi sebagai penulis artikel masih belum populer. Oleh sebab itu, untuk menutupi profesi itu, mereka kemudian mengaku sebagai wartawan, dosen, konsultan, atau profesi lain sebagai profesi utamanya.
Pada tahun 2007 sampai 2008 ada 2 penulis fiksi yang menerima royalty miliaran rupiah dari penerbit atas artikel best seller-nya. Cuba tebak? Penulis sudah menyinggung-nyinggung sebelumnya. Karya mereka semuanya difilemkan, dan ia dari produser juga mendapatkan uang. Bukankah ini menarik? Kalau tidak menarik jangan teruskan membaca artikel ini. Akhirnya jadikan menulis sebagai cara mengumpulkan uang untuk standar hidup Anda. Jika untuk kaya, penulis pikir jangan. Tapi untuk memperbaiki standar hidup Anda sudah bisa. Jika pembaca sekalian konsisten, tapi kalau pembaca sekalian tidak konsisten lebih baik jangan deh. Cari pekerjaan lain saja yang lebih safe. Ini sejujurnya.
Kalau ada pengarang yang membuat artikel dengan judul Kaya Raya Dengan Menulis, pengarang adalah orang yang paling tidak setuju. Mengapa? Terus terang pengarang takut membuat kecewa orang. Jika artikel pembaca sekalian best seller pembaca sekalian bisa kaya raya, kalau tidak ya tidak bisa kaya raya. Hanya untuk memperbaiki standar hidup saja cukup lumayan. Atau sebagai sumber penghasilan tambahan cukup baik. Oleh sebab itu, buatlah artikel yang bisa best seller. Rumusnya sudah dipaparkan sebelumnya di artikel ini.
Menggeser hobi ke profesi.
Kalau ingin konsisten caranya memang harus menggeser hobi menulis ini menjadi sebuah profesi. Jika membuat aktivitas menulis sebagai hobie maka Anda akan kekeringan uang. Tapi kalau sebagai profesi Anda akan kebanjiran uang. Betulkah? Hal ini bisa betul atau tidak tergantung pula pada Anda. Jika pengarang artikel bilang bisa untuk profesi, tetapi Anda tidak menulis dan karyanya sedikit, maka nanti pengarang artikel yang disalahkan. Menjadikan menulis sebagai profesi tentunya harus total dan tidak separuh-separuh. Jika hobi akan menghabiskan uang maka profesi bisa menghasilkan uang. Itu yang harus Anda tahu. Hobi apa pun kalau dihukumi pasti akan menghabiskan uang. Jika Anda hanya hobi menulis doang, tentunya Anda akan kehabisan uang untuk membeli kertas, membeli camilan, minum, vitamin serta lainnya supaya Anda bisa menulis. Tapi kalau sebagai profesi meskipun Anda mengeluarkan biaya, tapi Anda juga mendapatkan uang dari penerbit sehingga bisa meng-cover biaya yang Anda keluarkan.
Kalau bisa masuklah ke club tulis menulis. Seperti Forum Lingkar Pena. Kenapa harus masuk ke club itu? Tentunya supaya pembaca sekalian terus-menerus bersemangat dan mendapatkan berbagai informasi baru dalam bidang tulis-menulis. Biasanya pembaca sekalian akan mendapatkan pengalaman baru yang dialami penulis artikel lain melalui sharing, atau bacaan yang diterbitkan oleh club itu. Selain semangat tentunya supaya energi menulis terus muncul sehingga mendorong untuk selalu konsisten dalam menulis. Menulislah dengan cara yang ulang-alik, seperti menulis bagian yang ringan dulu dan merupakan pengetahuan Anda. Dan kemudian baru menulis materi-materi yang berat dan membutuhkan pembelajaran.
Setiap yang pembaca sekalian tulis tidak semuanya merupakan bagian yang pembaca sekalian kuasai. Bisa jadi pembaca sekalian perlu bertanya ke narasumber. Maka menulislah dengan cara yang tidak urut, kalau sudah selesai bab-bab yang mudah barulah menulis yang sulit. Ini adalah suatu cara pembaca sekalian agar konsisten menulis dan berhenti menulis hanya karena harus menemukan referensi terlebih dahulu.
Bangga sebagai Penulis artikel.
Tidak semua orang merasa bangga menjadi penulis artikel. Pada suatu kesempatan ketika kami berkumpul dengan berbagai kalangan yang tidak kami kenal, ada satu orang yang menanyakan profesi seseorang. Ketika orang yang ditanya itu menjawab bahwa profesinya sebagai penulis, tiba-tiba dahi orang yang bertanya itu mengerut. Ia bak melihat makhluk yang baru turun dari planet Pluto. Setelah dianalisa dengan benar bahwa orang lain pun ternyata tidak mengerti dengan profesi sebagai penulis artikel. Sebab dalam KTP pada umumnya orang tidak mencantumkan dan jarang ada yang mencatumkan di kolom pekerjaan itu sebagai penulis. Jika sebagai wartawan banyak, tetapi sebagai penulis artikel penulis artikel rasa dari 1.000 orang paling 1 orang.
Penulis artikel tidak yakin seseorang mau mencantumkan pekerjaannya sebagai penulis artikel meskipun prediksinya 100011. Saya rasa orang di atas sebenarnya bangga dengan apa yang menjadi profesinya. Ia tidak merasa bersalah ketika menyebutkan kalau dirinya adalah penulis artikel. Tapi dalam lingkungan kehidupan kita, tidak semua orang bisa menerima pekerjaan itu. Apalagi sekarang keadaan sudah modern. Sudah ada ATM, maka semakin tidak diakui profesi penulis itu. Orang tidak tahu kalau penulis itu mendapat bayaran yang ditransfer di rekeningnya. Orang baru bisa dihargai kalau memiliki pekerjaan sebagai orang kantoran, selain setiap hari memiliki uang, ia setiap bulan mendapatkan gaji. Dan, ia berangkat dari rumah pagi hari dan pulang di petang hari. Jika penulis artikel, hanya nongkrong saja di meja dengan komputernya, dan tidak pergi ke kantor di pagi hari dan pulang petang.
Di kantongnya kalau diraba juga kosong. Apa ia disebut sudah bekerja? Nah, fenomena inilah yang masih belum bisa dihapus dari lingkungan hidup sekitar kita. Orang kemudian menyiasati dengan memilih mengajar untuk menutupi profesi sebenarnya. Jika ditanya apa profesinya, profesinya guru, dosen, atau apa saja untuk menutupi profesi yang sebenarnya, yaitu sebagai pengarang artikel. Orang akhirnya tidak bisa merasakan kebanggaannya sebagai pengarang artikel yang diakibatkan lingkuugan sekitarnya tidak mengerti. Kasus pengarang fiksi Ayat-ayat Cinta sampai mengontrak ruko, juga karena adanya fenomena orang masih belum bisa membanggakan pengarang sebagai profesi. Yang ada mungkin profesi tukang khayal, karena yang dibikin memang khayalan semata. Akhirnya orang memandang bahwa orang yang bekerja di rumah bukanlah seorang pekerja. Ia sedang mengganggur. Nah, fenomena inilah yang masih belum bisa dihapus dari lingkungan hidup sekitar kita.
Sayang sekali di Indonesia bahwa profesi sebagai penulis artikel masih belum populer. Oleh sebab itu, untuk menutupi profesi itu, mereka kemudian mengaku sebagai wartawan, dosen, konsultan, atau profesi lain sebagai profesi utamanya.































