Memang di negeri kita, kedudukan seorang penulis masih jauh dari layak dibandingkan di negara lain, misalnya di Inggris. Disana, seorang penulis artikel fokus menulis artikel saja bisa hidup dari karya-karyanya. Namun di Indonesia tidak bisa menjadikan menulis itu sebagai pekerjaan utama. Walau pernyataan ini tidak benar sepenuhnya, sebab sampai kini masih banyak pula orang menjadikan menulis sebagai tumpuan sumber hidupnya. Misalnya Agnes jessical. Selain banyak prosedur penerbit dia harus ikuti, juga tidak adanya kejelasan dalam skedule penerbitan. Karya Anda mungkin tidak bisa diterbitkan tahun ini, namun tiba-tiba nongol artikel contohnya. Begitu pula ketika artikel dijadwalkan terbit bulan Juni misalnya, ketika ditunggu sampai bulan Juni ternyata artikel itu juga belum terbit. Banyak hal menjadi alasan sehingga semua menjadi di luar prediksi.
Celakalah bagi penulis hidup dengan menuls saja tanpa mengerjakan pekerjaan lain. Mana ada uang bisa diterima jika penerbitan artikelnya itu sendiri tidak pasti. Hal inilah membuat mengapa penulis di Indonesia dianggap bukan sebagai profesi, karena dapat uangnya sama seperti monyet sedang menggoyang-goyang buah asam. Tapi kalau digunakan sebagai pekerjaan sambilan okelah, namun jangan coba-coba bagi sudah beranak pinak menjadikan sebagai pekerjaan utama. Kalau masih bujang sih boleh saja, karen dia hanya menghidupi diri sendiri.
Uraian di atas bukan maksud untuk mengecilkan hati seorang penulis artikel, terutama masih pemula, sebab bagi pemula produktif, tentunya uraian diatas tidak berlaku. Penulis hanya berbicara untuk penulis tidak produktif saja. Mana mungkin seorang penulis artikel tidak produktif bisa mengandalkan hidup dari menulis. Mustahil toh? Hanya penulis bisa menulis sebanyak-banyaknya dan mengirimkan ke banyak penerbit, maka ialah akan menerima uang mengalir.
Menulis masih belum dianggap sebagai profesi mengasyikkan. Coba saja tanyakan pada Susan, boneka Ria Agnes itu? Pasti jawabannya kalau besar akan mendi dokter, insinyur tau notaris. Cita-cita menjadi penulis artikel masih jauh dari angan-angan kita. Orang menganggap profesi penulis itu apa sih? Maka tidaklah salah kalau penulis artikel Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy harus mengatur dirinya supaya seperti orang bekerja kantoran dengan mengontrak ruko. Namun Anda harus tahu, ia bersama Andrea Hirata penulis Laskar Pelangi pernah masuk dalam surat kabar sebagai penghasil royalty berjumlah miliaran rupiah.
Nah, kalau sudah ada yang memecahkan rekor seperti ini orang baru membelalakkan matanya kalau menjadi penulis artikel itu bisa menghasilkan uang banyak. Kalau kita membaca beritanya JK. Rowling bisa menjadi kaya nomor dua setelah ratu Elizabeth II di Inggris, maka orang semakin membelalakkan matanya lagi. Berita Andrea Hirata dan Habiburrahman merupakan kenyataan, sebab artikel dituliskannya sudah laku jutaan eksemplar. Nah, apakah Anda tidak mau menjadi penulis sehingga bisa menghasilkan penghasilan besar? Tidak usah menjadi seperti merekalah kalau hanya sekedar menginginkan setahun hanya terima 50 jutaan rupiah royaltynya. Asal... Anda produktif menulis dan tulisan Anda minimal bisa diterbitkan. Impian itu bisa diraih. Syukur-syukur kalau kemudiaan menjadi best seller. Pasar sulit diprediksi. Artikel katanya editor atau marketingnya penerbit tidak bisa laku, ketika benar-benar dicetak ternyata artikel itu laku keras. Perilaku konsumen sekarang ini susah sekali ditebak, maunya bagaimana. Sebaliknya terus menulis sajalah sampai Anda mendapatkan rezeki sangat luar biasa.
Celakalah bagi penulis hidup dengan menuls saja tanpa mengerjakan pekerjaan lain. Mana ada uang bisa diterima jika penerbitan artikelnya itu sendiri tidak pasti. Hal inilah membuat mengapa penulis di Indonesia dianggap bukan sebagai profesi, karena dapat uangnya sama seperti monyet sedang menggoyang-goyang buah asam. Tapi kalau digunakan sebagai pekerjaan sambilan okelah, namun jangan coba-coba bagi sudah beranak pinak menjadikan sebagai pekerjaan utama. Kalau masih bujang sih boleh saja, karen dia hanya menghidupi diri sendiri.
Uraian di atas bukan maksud untuk mengecilkan hati seorang penulis artikel, terutama masih pemula, sebab bagi pemula produktif, tentunya uraian diatas tidak berlaku. Penulis hanya berbicara untuk penulis tidak produktif saja. Mana mungkin seorang penulis artikel tidak produktif bisa mengandalkan hidup dari menulis. Mustahil toh? Hanya penulis bisa menulis sebanyak-banyaknya dan mengirimkan ke banyak penerbit, maka ialah akan menerima uang mengalir.
Menulis masih belum dianggap sebagai profesi mengasyikkan. Coba saja tanyakan pada Susan, boneka Ria Agnes itu? Pasti jawabannya kalau besar akan mendi dokter, insinyur tau notaris. Cita-cita menjadi penulis artikel masih jauh dari angan-angan kita. Orang menganggap profesi penulis itu apa sih? Maka tidaklah salah kalau penulis artikel Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy harus mengatur dirinya supaya seperti orang bekerja kantoran dengan mengontrak ruko. Namun Anda harus tahu, ia bersama Andrea Hirata penulis Laskar Pelangi pernah masuk dalam surat kabar sebagai penghasil royalty berjumlah miliaran rupiah.
Nah, kalau sudah ada yang memecahkan rekor seperti ini orang baru membelalakkan matanya kalau menjadi penulis artikel itu bisa menghasilkan uang banyak. Kalau kita membaca beritanya JK. Rowling bisa menjadi kaya nomor dua setelah ratu Elizabeth II di Inggris, maka orang semakin membelalakkan matanya lagi. Berita Andrea Hirata dan Habiburrahman merupakan kenyataan, sebab artikel dituliskannya sudah laku jutaan eksemplar. Nah, apakah Anda tidak mau menjadi penulis sehingga bisa menghasilkan penghasilan besar? Tidak usah menjadi seperti merekalah kalau hanya sekedar menginginkan setahun hanya terima 50 jutaan rupiah royaltynya. Asal... Anda produktif menulis dan tulisan Anda minimal bisa diterbitkan. Impian itu bisa diraih. Syukur-syukur kalau kemudiaan menjadi best seller. Pasar sulit diprediksi. Artikel katanya editor atau marketingnya penerbit tidak bisa laku, ketika benar-benar dicetak ternyata artikel itu laku keras. Perilaku konsumen sekarang ini susah sekali ditebak, maunya bagaimana. Sebaliknya terus menulis sajalah sampai Anda mendapatkan rezeki sangat luar biasa.































