Bagi kebayakan orang, mengawali menulis artikel sangatlah sulit. Mau membuat satu baris kata-kata saja sulitnya bukan main, apalagi kata-kata panjang berderet-deret sampai menjadi artikel setebal 400 halaman. Siapa sanggup kecuali penulis gaek sudah puluhan tahun menulis artikel. He...he.... entar dahulu. suatu perjalanan sangat jauh membutuhkan satu langkah saja untuk menempuhnya. Kakek saya selalu mengatakan demikian ketika penulis masih kanak-kanak dan ketika saya meminta agar ia memijat-mijat tubuh saya. Benar juga nasehat kakek saya, pekerjaan apapun tidak ada sulit dilakukan jika mau memulainya. Anda mungkin tidak pernah terpikir betapa sulitnya sama seperti anda bayangkan, bagaimana penulis gaek itu mengawali karyanya. Namun ia tidak pernah putus asa. Ia terus menulis artikel dan terus menulis.
Jadi, kondisi seperti di atas tidak ada yang mengetahuinya. Saya memiliki seorang om yang juga tidak paham bahwa menulis sebenarnya bisa mendatangkan uang. Tetapi ia tetap ngotot bahwa itu bukan suatu pekerjaan tetapi sekedar hobi. Kalau menurut penulis aktivitas hobi justru selalu mengeluarkan uang. Tetapi hobi menghasilkan uang bukanlah sebuah hobi. Bisa jadi suatu pekerjaan karena dikerjakan tidak paruh waktu tetapi total. Oleh sebab itu, ketika penlulis pernah membuktikan dalam 3 bulan bisa menulis artikel sebanyak 7 judul artikel maka pihak editor kebingungan karena takut kualitas artikel menjadi jelek. Buktinya artikel itu akhirnya bisa diterbitkan dan laku.
Jadi seting awalnya bahwa menulis ini hanyalah sebagai pekerjaan kedua bukan utama. Kalau menjadi penluis sebagai pekerjaan utama malah tidak nyaman dengan editor, karena dikhawatirkan membuat artikel tidak bermutu. Kalau kapala lagi penuih dan pengalamanan cukup banyak, maka menulis dengan kecepatan apapun kualtiasnya sama. Bukankah yang ditulis adalah sekitar pengalaman pekerjaan maupuan pengalaman hidup.maka penulis tidak bisa mengingkari bahwa banyak sekali bisa ditulis kalau memang mau. Namun kenyataanya tidaklah sedikit menolak hal itu. Menulis artikel masih dianggap sebagai aktivitas sakral pada sebagian orang dan sebagian lain tidak peduli dan acuh tak acuh, sebagian lagi tidak ada nilai komersialnya. Anda coba dan terus cobalah. Kalau Anda sudah bisa menemukan urat nadinya menulis artikel dan mendapatkan rejeki dari menulis artikel, anda baru bisa berkata: mau mau, aku mau....
Ketika kami duduk dibangku SMP penulis pernah memimpikan menjadi penulis tenar sekelas Charles Dicken atau seperti yang lain karena anak-anak idolanya hanya pada hal ditemuinya dan dibacanya. Bagaimana saya mewujudkannya? Saya diam-diam menulis di belakang artikel ketika usai pelajaran sekolah. Saya menulis artikel apa saja kami temui di sekolah. Catatan-catatan itu sebenarnya awal mulanya kenapa setahun kemudian cerpen kami mengisahkan seorang bapak yang kini hidup menderita setelah membunuh istrinya dengan pistolnya sendiri. Inspirasi menuilis cerita ini adalah dari kisah tetangga mengalami peristiwa sebenarnya, cuma kami menulisnya dalam bentuk cerita pendek. Orang tua kami terkejut ketika tulisan itu dimuat di Pos Kota. selanjutnya tulisan kami dimuat diberbagai majalah di Jakarta yakni majalah Bobo, Gadis, Anita, Mitra serta lainnya. Semua diawali dari satu langkah ketika v mulai menulis artikel, entah apa saja kami tulis, kami tidak tahu penting ada yang kami tulis.
Jadi, kondisi seperti di atas tidak ada yang mengetahuinya. Saya memiliki seorang om yang juga tidak paham bahwa menulis sebenarnya bisa mendatangkan uang. Tetapi ia tetap ngotot bahwa itu bukan suatu pekerjaan tetapi sekedar hobi. Kalau menurut penulis aktivitas hobi justru selalu mengeluarkan uang. Tetapi hobi menghasilkan uang bukanlah sebuah hobi. Bisa jadi suatu pekerjaan karena dikerjakan tidak paruh waktu tetapi total. Oleh sebab itu, ketika penlulis pernah membuktikan dalam 3 bulan bisa menulis artikel sebanyak 7 judul artikel maka pihak editor kebingungan karena takut kualitas artikel menjadi jelek. Buktinya artikel itu akhirnya bisa diterbitkan dan laku.
Jadi seting awalnya bahwa menulis ini hanyalah sebagai pekerjaan kedua bukan utama. Kalau menjadi penluis sebagai pekerjaan utama malah tidak nyaman dengan editor, karena dikhawatirkan membuat artikel tidak bermutu. Kalau kapala lagi penuih dan pengalamanan cukup banyak, maka menulis dengan kecepatan apapun kualtiasnya sama. Bukankah yang ditulis adalah sekitar pengalaman pekerjaan maupuan pengalaman hidup.maka penulis tidak bisa mengingkari bahwa banyak sekali bisa ditulis kalau memang mau. Namun kenyataanya tidaklah sedikit menolak hal itu. Menulis artikel masih dianggap sebagai aktivitas sakral pada sebagian orang dan sebagian lain tidak peduli dan acuh tak acuh, sebagian lagi tidak ada nilai komersialnya. Anda coba dan terus cobalah. Kalau Anda sudah bisa menemukan urat nadinya menulis artikel dan mendapatkan rejeki dari menulis artikel, anda baru bisa berkata: mau mau, aku mau....
Ketika kami duduk dibangku SMP penulis pernah memimpikan menjadi penulis tenar sekelas Charles Dicken atau seperti yang lain karena anak-anak idolanya hanya pada hal ditemuinya dan dibacanya. Bagaimana saya mewujudkannya? Saya diam-diam menulis di belakang artikel ketika usai pelajaran sekolah. Saya menulis artikel apa saja kami temui di sekolah. Catatan-catatan itu sebenarnya awal mulanya kenapa setahun kemudian cerpen kami mengisahkan seorang bapak yang kini hidup menderita setelah membunuh istrinya dengan pistolnya sendiri. Inspirasi menuilis cerita ini adalah dari kisah tetangga mengalami peristiwa sebenarnya, cuma kami menulisnya dalam bentuk cerita pendek. Orang tua kami terkejut ketika tulisan itu dimuat di Pos Kota. selanjutnya tulisan kami dimuat diberbagai majalah di Jakarta yakni majalah Bobo, Gadis, Anita, Mitra serta lainnya. Semua diawali dari satu langkah ketika v mulai menulis artikel, entah apa saja kami tulis, kami tidak tahu penting ada yang kami tulis.































