Uang Penjualan Penerbitan Artikel Pengarang
Dalam perjanjian penerbitan sering dicantumkan juga sesuatu ketentuan yang berbunyi, bahwa penerbit dapat memastikan akan mendapatkan lisensi hak cipta untuk menerbitkan karya tulis berikutnya dari pengarang artikel yang sama. Option semacam ini dapat bersyaratkan sama dan serupa dengan persyaratan dalam perjanjian yang sekarang. Atau dapat juga bersyaratkan lain, akan ditentukan kemudian. Akan tetapi options selamanya bersifat sepihak, ia mengikat pengarang artikel kepada pemodal, tapi sebaliknya penerbit tidak terikat.
Bagi pengarang artikel, menandatangani suatu perjanjian penerbitan berisikan pasal mengenai option ada untung dan ruginya. Keuntungannya terletak pada sudah adanya kepastian kesediaan penerbit untuk menerbitkan karya-tulisnya berikut. Ruginya ialah, kalau ternyata bahwa penerbit-partnernya merupakan penerbit yang kurang rajin dalam pemasaran artikel-artikelnya. Akan tetapi penempatan pasal tentang option dalam sesuatu perjanjian penerbitan tidak dapat dipaksakan oleh penerbit kepada pengarang artikel. Alasan utama penerbit menyodorkan klausul option semata-mata untuk memastikan diri, agar pengarang artikel mau tetap bekerja-sama dengannya. suatu alasan yang cukup wajar.
SEGI EKONOMI DARI PENERBITAN ARTIKEL.
Untuk mulai dengan usaha penerbitan artikel, pertama-tama diperlukan ialah sejumlah uang sebagai modal-awal, agar dapat mulai dengan operasinya. Kita bertolak dari teori, bahwa untuk mendapatkan uang, ter1ebih dulu harus ada uang. Pertanyaan berikutnya ialah berapa besarnya modal yang diperlukan? Kegiatan menerbitkan artikel seperti kita ketahui, merupakan suatu kegiatan industri yang bersifat modal-intensif. Dalam pembicaraan sehari-hari sering terdengar berbagai jumlah uang disebut sebagai modal permulaan berkisar antara 5 sampai 100 juta rupiah, yg akan digunakan untuk mulai dengan usahanya.
Perinciannya adalah seperti berikut:
1 biaya pembelian perlengkapan dan alat kantor, agar kegiatan di kantor dapat dilakukan dari saat kita mencari dan mendapatkan naskah sampai dengan kegiatan menerbitkan sesungguhnya.
2 biaya untuk staf karyawan di dalam masa yang sama.
3 biaya pembuatan produk dan pembelian lainnya diperlukan untuk memproduksi dalam masa yang sama.
Ketiga macam pembiayaan tersebut selanjutnya dapat diperinci lagi ke dalam beberapa sub-pembiayaan yang lebih kecil. Haruslah diusahakan penghitungan seteliti-telitinya masalah pengadaan dan penyediaan modal pertama ini, agar tidak ada uang berlebih tak terpakai, sebab uang yang demikian itu merupakan uang mahal.
Besar kecilnya modal permulaan yang diperlukan bergantung pada faktor berikut:
1 jenis artikel yang akan diterbitkan.
2 jumlah judul artikel yang direncanakan akan diterbitkan dalam periode tertentu.
3 kemungkinan dapat dihematnya apa yang biasa disebut sebagai biaya umum, misalnya dengan menggunakan ruangan rumah sendiri sebagai kantor, atau dengan membatasi jumlah tenaga pelaksana, umpamanya dengan melakukan sendiri beberapa jenis pekerjaan tertentu.
4 besarnya kredit yang didapat dari para supplier dalam periode antara pemberian kredit sampai dengan berhasilnya usaha.
Karena menerbitkan artikel merupakan kegiatan bersifat high risk , maka tidaklah akan mudah untuk mendapatkan sumber modal yang diperlukan. Walaupun demikian, selamanya masih saja dapat ditemukan sumber-sumber modal tersebut:
a Sumber komersial, seperti misalnya perusahaan investor, bank niaga, bank industri, badan penerbitan yang sudah ada, atau perusahaan niaga lainnya.
b Sumber perorangan, seperti misalnya uang milik sendiri, uang milik keluarga, atau perorangan lainnya.
Sumber Pemasukan Uang.
Penerbit mendapat uang masuk dari 1 penjualan artikel dan dari 2 penjualan hak-hak sampingan. Penjualan Artikel Penjualan kepada toko artikel dan grosir yang merupakan penjualan distributif, menempati bagian terbesar dalam sektor penjualan. Tetapi sekarang sudah banyak perusahaan penerbitan mencapai omset penjualan makin meningkat lewat penjualan langsung kepada perorangan atau badan lain non-toko artikel, walaupun cara ini banyak mengundang reaksi dari pihak pedagang artikel, karena dianggapnya sebagai penyerobotan daerah garapan niaga dan pemasaran. Tetapi sebaliknya kebanyakan penerbit beranggapan, bahwa cara penjualan langsung tersebut cukup mempunyai dasar kelayakan dan kewajaran.
Sebagai peniaga, pemodal tentu akan menjual artikelnya melalui saluran yang paling menguntungkan dan paling efisien, apa pun bentuknya salurannya itu. Kemudian kebijakan menjual langsung ini kepada penerbit justru memberikan jaminan untuk menanggulangi sikap pedagang artikel, yg hanya mau menjual artikel-artikel yang menurut anggapannya bisa laku, dan artikel-artikel lainnya tidak dibelinya.
Penjualan Hak Sampingan.
Selain hak untuk menerbitkan karya-tulis menjadi artikel, terdapat juga hak-hak lain yang masih dapat dikelola dan dipasarkan oleh pemodal, yg kemudian dapat pula menjadi sumber keuangan. Sesuai dengan bunyi perjanjiannya, antara lain disebutkan juga pengaturan mengenai bagi-hasil dari pengeksploitasian hak sampingan semacam itu, sebab untuk ini pun diperlukan izin dari pengarang artikelnya juga.
Diantara hak-hak sampingan dikenal Hak Paperback. Hak ini dapat dilisensikan oleh penerbit asal penerbit pertama, biasanya yang menerbitkan artikelnya dalam bentuk sampul-keras, kepada penerbit lain penerbit lain ini biasanya merupakan penerbit yang mengkhususkan hanya menerbitkan artikel paperback saja. Biasanya penerbit paperback memberikan uang muka kepada penerbit asal, yg kemudian akan diperhitungkan dengan pendapatan royalty. Besarnya royalty berkisar antara 7,5 dan 12,5 dari harga-jual-eceran. Lisensi diberikan untuk jangka waktu tertentu, antara dua tahun sampai lima tahun. Tanggal penerbitan artikel paperback biasanya diperlambat untuk memberikan kesempatan mendahulukan tanggal penerbitan artikel-sampul-kerasnya. Dari pendapatan royaltynya diadakan pembagian hasil antara penerbit asal dengan pengarang artikelnya, dan berkisar antara 40 sampai 50.
Dalam perjanjian penerbitan sering dicantumkan juga sesuatu ketentuan yang berbunyi, bahwa penerbit dapat memastikan akan mendapatkan lisensi hak cipta untuk menerbitkan karya tulis berikutnya dari pengarang artikel yang sama. Option semacam ini dapat bersyaratkan sama dan serupa dengan persyaratan dalam perjanjian yang sekarang. Atau dapat juga bersyaratkan lain, akan ditentukan kemudian. Akan tetapi options selamanya bersifat sepihak, ia mengikat pengarang artikel kepada pemodal, tapi sebaliknya penerbit tidak terikat.
Bagi pengarang artikel, menandatangani suatu perjanjian penerbitan berisikan pasal mengenai option ada untung dan ruginya. Keuntungannya terletak pada sudah adanya kepastian kesediaan penerbit untuk menerbitkan karya-tulisnya berikut. Ruginya ialah, kalau ternyata bahwa penerbit-partnernya merupakan penerbit yang kurang rajin dalam pemasaran artikel-artikelnya. Akan tetapi penempatan pasal tentang option dalam sesuatu perjanjian penerbitan tidak dapat dipaksakan oleh penerbit kepada pengarang artikel. Alasan utama penerbit menyodorkan klausul option semata-mata untuk memastikan diri, agar pengarang artikel mau tetap bekerja-sama dengannya. suatu alasan yang cukup wajar.
SEGI EKONOMI DARI PENERBITAN ARTIKEL.
Untuk mulai dengan usaha penerbitan artikel, pertama-tama diperlukan ialah sejumlah uang sebagai modal-awal, agar dapat mulai dengan operasinya. Kita bertolak dari teori, bahwa untuk mendapatkan uang, ter1ebih dulu harus ada uang. Pertanyaan berikutnya ialah berapa besarnya modal yang diperlukan? Kegiatan menerbitkan artikel seperti kita ketahui, merupakan suatu kegiatan industri yang bersifat modal-intensif. Dalam pembicaraan sehari-hari sering terdengar berbagai jumlah uang disebut sebagai modal permulaan berkisar antara 5 sampai 100 juta rupiah, yg akan digunakan untuk mulai dengan usahanya.
Perinciannya adalah seperti berikut:
1 biaya pembelian perlengkapan dan alat kantor, agar kegiatan di kantor dapat dilakukan dari saat kita mencari dan mendapatkan naskah sampai dengan kegiatan menerbitkan sesungguhnya.
2 biaya untuk staf karyawan di dalam masa yang sama.
3 biaya pembuatan produk dan pembelian lainnya diperlukan untuk memproduksi dalam masa yang sama.
Ketiga macam pembiayaan tersebut selanjutnya dapat diperinci lagi ke dalam beberapa sub-pembiayaan yang lebih kecil. Haruslah diusahakan penghitungan seteliti-telitinya masalah pengadaan dan penyediaan modal pertama ini, agar tidak ada uang berlebih tak terpakai, sebab uang yang demikian itu merupakan uang mahal.
Besar kecilnya modal permulaan yang diperlukan bergantung pada faktor berikut:
1 jenis artikel yang akan diterbitkan.
2 jumlah judul artikel yang direncanakan akan diterbitkan dalam periode tertentu.
3 kemungkinan dapat dihematnya apa yang biasa disebut sebagai biaya umum, misalnya dengan menggunakan ruangan rumah sendiri sebagai kantor, atau dengan membatasi jumlah tenaga pelaksana, umpamanya dengan melakukan sendiri beberapa jenis pekerjaan tertentu.
4 besarnya kredit yang didapat dari para supplier dalam periode antara pemberian kredit sampai dengan berhasilnya usaha.
Karena menerbitkan artikel merupakan kegiatan bersifat high risk , maka tidaklah akan mudah untuk mendapatkan sumber modal yang diperlukan. Walaupun demikian, selamanya masih saja dapat ditemukan sumber-sumber modal tersebut:
a Sumber komersial, seperti misalnya perusahaan investor, bank niaga, bank industri, badan penerbitan yang sudah ada, atau perusahaan niaga lainnya.
b Sumber perorangan, seperti misalnya uang milik sendiri, uang milik keluarga, atau perorangan lainnya.
Sumber Pemasukan Uang.
Penerbit mendapat uang masuk dari 1 penjualan artikel dan dari 2 penjualan hak-hak sampingan. Penjualan Artikel Penjualan kepada toko artikel dan grosir yang merupakan penjualan distributif, menempati bagian terbesar dalam sektor penjualan. Tetapi sekarang sudah banyak perusahaan penerbitan mencapai omset penjualan makin meningkat lewat penjualan langsung kepada perorangan atau badan lain non-toko artikel, walaupun cara ini banyak mengundang reaksi dari pihak pedagang artikel, karena dianggapnya sebagai penyerobotan daerah garapan niaga dan pemasaran. Tetapi sebaliknya kebanyakan penerbit beranggapan, bahwa cara penjualan langsung tersebut cukup mempunyai dasar kelayakan dan kewajaran.
Sebagai peniaga, pemodal tentu akan menjual artikelnya melalui saluran yang paling menguntungkan dan paling efisien, apa pun bentuknya salurannya itu. Kemudian kebijakan menjual langsung ini kepada penerbit justru memberikan jaminan untuk menanggulangi sikap pedagang artikel, yg hanya mau menjual artikel-artikel yang menurut anggapannya bisa laku, dan artikel-artikel lainnya tidak dibelinya.
Penjualan Hak Sampingan.
Selain hak untuk menerbitkan karya-tulis menjadi artikel, terdapat juga hak-hak lain yang masih dapat dikelola dan dipasarkan oleh pemodal, yg kemudian dapat pula menjadi sumber keuangan. Sesuai dengan bunyi perjanjiannya, antara lain disebutkan juga pengaturan mengenai bagi-hasil dari pengeksploitasian hak sampingan semacam itu, sebab untuk ini pun diperlukan izin dari pengarang artikelnya juga.
Diantara hak-hak sampingan dikenal Hak Paperback. Hak ini dapat dilisensikan oleh penerbit asal penerbit pertama, biasanya yang menerbitkan artikelnya dalam bentuk sampul-keras, kepada penerbit lain penerbit lain ini biasanya merupakan penerbit yang mengkhususkan hanya menerbitkan artikel paperback saja. Biasanya penerbit paperback memberikan uang muka kepada penerbit asal, yg kemudian akan diperhitungkan dengan pendapatan royalty. Besarnya royalty berkisar antara 7,5 dan 12,5 dari harga-jual-eceran. Lisensi diberikan untuk jangka waktu tertentu, antara dua tahun sampai lima tahun. Tanggal penerbitan artikel paperback biasanya diperlambat untuk memberikan kesempatan mendahulukan tanggal penerbitan artikel-sampul-kerasnya. Dari pendapatan royaltynya diadakan pembagian hasil antara penerbit asal dengan pengarang artikelnya, dan berkisar antara 40 sampai 50.































