Cara dalam memasarkan naskah artikel yang sudah selesai. Pertama mengajukan ke penerbit dan kedua diterbitkan sendiri. Jika Anda belum memiliki capital (modal) sebaiknya Anda tawarkan saja naskah Anda ke penerbit, karena Anda tidak perlu repot dalam mengurusi proses dari naskah hingga menjadi artikel dan bagaimana memasarkan ke penyalur serta konsumennya. Kalau mengambil posisi sebagai penulis naskah saja, kenapa harus menerbitkan sendiri. Menerbitkan sendiri ada risiko yang harus ditanggung, seperti jika buku tidak Iaku dan harus menjual dengan harga pokok. Anda pasti mengalami kerumitan dau masalah keuangan. Berbeda jika Anda memiliki modal dan karya Anda sudah banyak, serta artikel-artikel Anda termasuk buku best seller. Menerbitkan sendiri akan lebih menguntungkan daripada harus menerbitkan untuk orang lain.
Permasalahan yang dihadapi ketika menerbitkan artikel kepada penerbit, penulis pemula sering mengalami kendala. Naskah yang dikirimkan selalu ditolak, dan itu sangat menyakitkan hati penulis. Apalagi jika penolakannya tanpa alasan. Oleh sebab itu, pihak pengarang kemudian mau mengambil risiko dengan menerbitkan sendiri naskahnya. Nah, ini memang membutuhkan keberanian yang luar biasa, masalahnya kan perlu modal. Langkah nomor dua ini termasuk langkah spektakuler. Kalau Anda termasuk penulis jenis kedua yaitu dengan menerbitkan sendiri, sebaiknya bab ini dibaca untuk pengetahuan saja. Tetapi jika Anda ingin menerbitkan naskah Anda melalui penerbit maka bab ini akan sangat membantu banyak diri Anda.
Sulit bagi pemula memang sangat sulit bagi pemula untuk menerbitkan karyanya! Penulis dulu juga sempat frustrasi dan mau membuang naskah yang pertama penulis tulis kalau tidak karena kegigihan pengarang untuk terus mencari penerbit yang mau menerbitkan artikel yang pengarang tulis. Apalagi dengan penerbit besar, email Anda atau surat Anda tidak pernah digubris. Entah karena mereka sibuk atau karena memang betul-betul tidak mau menanggapi atau yang lebih celaka adalah alamat email itu sudah tidak difungsikan. Penerbit besar belum tentu memiliki layanan yang baik terhadap pengarang atau konsumen-konsumennya. Kesulitan itu kian bertambah besar dalam memasarkan naskah artikel, jika penerbit kurang menghargai nama dari penulisnya. Artinya mereka tidak mau mengambil risiko untuk menerbitkan karya-karya orang baru yang tidak memiliki nama di mata konsumennya. Sayang dong jangan berputus asa jika naskah anda ditolak, masih banyak penerbit lain yang butuh.
Pada dekade ketika pengarang SLTP, pengarang sempat membaca artikel dari suatu penerbitan mengenai kebijakan dalam menerbitkan artikel. Pada buku itu pengarang temukan bahwa kebijakan penerbit dalam menerbitkan artikel salah satunya adalah nama penulisnya. Kalau penulisnya masih baru, amat sangat dipertimbangkan, tetapi jika penulisnya adalah pengarang lama dan terkenal maka ia sangat cepat meloloskan setiap naskah yang dikirimkannya untuk diterbitkan. Selain nama penulis, naskah artikel masih kurang dari standar. Hal ini masih sangat tampak bagi pengarang pemula yang belum mempelajari standar suatu buku yang baik itu, meskipun tidak menutup kemungkinan penulis pemula malah bisa menjadi terkenal dengan hasil karya pertamanya. Jadi penulis pemula harus memperhatikan betul standar artikel yang dikerjakannya. Penerbit tidak mau mengambil risiko karena nama penulis itu baru dikenal dan buku yang ditulisnya belum memenuhi standar. Mungkin bab sebelumnya bisa menjadi pengetahuan dalam membuat artikel hingga buku bisa diterbitkan.
Kalaupun penerbit mau maka Anda diminta untuk menanggung kerugiannya, jika tidak habis setelah artikel itu dipasarkan. Kalau Anda tidak memiliki nyali biasanya akan segera menarik naskah artikel yang sudah Anda kirimkan. Wuh, ini memang membuat susah. Tapi kalau Anda mau menanggung risiko jika buku tidak laku dengan cara membelinya. Opsi yang ditawarkan oleh penerbit itu sebenarnya hanyalah gertak sambal. Penerbit ingin mengetahui sejauh mana penulisnya yakin kalau buku itu akhirnya diterbitkan dan dipasarkan. Penulis memiliki pengalaman yang sama dengan situasi seperti ini, Naskah penulis yang sudah diterbitkan itu harus dibeli jika tidak Iaku, dan opsi itu disampaikan di awal sebelum artikel itu mulai diedit.
Waktu itu penulis melihat bahwa naskah artikel yang penulis tulis memiliki segmen pasar yang luas, dan belum ada yang menulisnya, kenapa tidak berani menanggung risiko itu. Memang untuk mendapatkan keberanian Anda harus memiliki feeling kalau naskah buku Anda bisa Iaku. Kalau feeling Anda positif, maka opsi yang diberikan penerbit sebaiknya Anda hadapi, bukan menarik naskah. Tetapi jika feeling Anda negatif dan tidak yakin jika artikel itu laku, sebaiknya menarik naskah artikel itu lebih bijaksana. Tapi siapa nyangka ketika penulis balik meyakinkan, bahwa buku itu bakalan laris, pihak penerbit malah langsung mempercepat keputusannya untuk segera menerbitkan buku itu. Akhirnya penulis tahu buku itu bisa diterbitkan sebanyak 3 kali. Keputusan menanggung risiko itu karena adanya feling jika artikel itu bisa laku.
Permasalahan yang dihadapi ketika menerbitkan artikel kepada penerbit, penulis pemula sering mengalami kendala. Naskah yang dikirimkan selalu ditolak, dan itu sangat menyakitkan hati penulis. Apalagi jika penolakannya tanpa alasan. Oleh sebab itu, pihak pengarang kemudian mau mengambil risiko dengan menerbitkan sendiri naskahnya. Nah, ini memang membutuhkan keberanian yang luar biasa, masalahnya kan perlu modal. Langkah nomor dua ini termasuk langkah spektakuler. Kalau Anda termasuk penulis jenis kedua yaitu dengan menerbitkan sendiri, sebaiknya bab ini dibaca untuk pengetahuan saja. Tetapi jika Anda ingin menerbitkan naskah Anda melalui penerbit maka bab ini akan sangat membantu banyak diri Anda.
Sulit bagi pemula memang sangat sulit bagi pemula untuk menerbitkan karyanya! Penulis dulu juga sempat frustrasi dan mau membuang naskah yang pertama penulis tulis kalau tidak karena kegigihan pengarang untuk terus mencari penerbit yang mau menerbitkan artikel yang pengarang tulis. Apalagi dengan penerbit besar, email Anda atau surat Anda tidak pernah digubris. Entah karena mereka sibuk atau karena memang betul-betul tidak mau menanggapi atau yang lebih celaka adalah alamat email itu sudah tidak difungsikan. Penerbit besar belum tentu memiliki layanan yang baik terhadap pengarang atau konsumen-konsumennya. Kesulitan itu kian bertambah besar dalam memasarkan naskah artikel, jika penerbit kurang menghargai nama dari penulisnya. Artinya mereka tidak mau mengambil risiko untuk menerbitkan karya-karya orang baru yang tidak memiliki nama di mata konsumennya. Sayang dong jangan berputus asa jika naskah anda ditolak, masih banyak penerbit lain yang butuh.
Pada dekade ketika pengarang SLTP, pengarang sempat membaca artikel dari suatu penerbitan mengenai kebijakan dalam menerbitkan artikel. Pada buku itu pengarang temukan bahwa kebijakan penerbit dalam menerbitkan artikel salah satunya adalah nama penulisnya. Kalau penulisnya masih baru, amat sangat dipertimbangkan, tetapi jika penulisnya adalah pengarang lama dan terkenal maka ia sangat cepat meloloskan setiap naskah yang dikirimkannya untuk diterbitkan. Selain nama penulis, naskah artikel masih kurang dari standar. Hal ini masih sangat tampak bagi pengarang pemula yang belum mempelajari standar suatu buku yang baik itu, meskipun tidak menutup kemungkinan penulis pemula malah bisa menjadi terkenal dengan hasil karya pertamanya. Jadi penulis pemula harus memperhatikan betul standar artikel yang dikerjakannya. Penerbit tidak mau mengambil risiko karena nama penulis itu baru dikenal dan buku yang ditulisnya belum memenuhi standar. Mungkin bab sebelumnya bisa menjadi pengetahuan dalam membuat artikel hingga buku bisa diterbitkan.
Kalaupun penerbit mau maka Anda diminta untuk menanggung kerugiannya, jika tidak habis setelah artikel itu dipasarkan. Kalau Anda tidak memiliki nyali biasanya akan segera menarik naskah artikel yang sudah Anda kirimkan. Wuh, ini memang membuat susah. Tapi kalau Anda mau menanggung risiko jika buku tidak laku dengan cara membelinya. Opsi yang ditawarkan oleh penerbit itu sebenarnya hanyalah gertak sambal. Penerbit ingin mengetahui sejauh mana penulisnya yakin kalau buku itu akhirnya diterbitkan dan dipasarkan. Penulis memiliki pengalaman yang sama dengan situasi seperti ini, Naskah penulis yang sudah diterbitkan itu harus dibeli jika tidak Iaku, dan opsi itu disampaikan di awal sebelum artikel itu mulai diedit.
Waktu itu penulis melihat bahwa naskah artikel yang penulis tulis memiliki segmen pasar yang luas, dan belum ada yang menulisnya, kenapa tidak berani menanggung risiko itu. Memang untuk mendapatkan keberanian Anda harus memiliki feeling kalau naskah buku Anda bisa Iaku. Kalau feeling Anda positif, maka opsi yang diberikan penerbit sebaiknya Anda hadapi, bukan menarik naskah. Tetapi jika feeling Anda negatif dan tidak yakin jika artikel itu laku, sebaiknya menarik naskah artikel itu lebih bijaksana. Tapi siapa nyangka ketika penulis balik meyakinkan, bahwa buku itu bakalan laris, pihak penerbit malah langsung mempercepat keputusannya untuk segera menerbitkan buku itu. Akhirnya penulis tahu buku itu bisa diterbitkan sebanyak 3 kali. Keputusan menanggung risiko itu karena adanya feling jika artikel itu bisa laku.































