MENERBITKAN ARTIKEL DI TAHAP EDITORIAL
Secara operasional, kegiatan menerbitkan artikel dibagi dalam tiga tahap: tahap editorial, tahap produksi dan tahap distribusi. Di tiap tahap, penerbit mempunyai berbagai rekan bekerja yang menurut kelompoknya menuntut cara bekerja sendiri pula, sedangkan tiap tahap tersebut memiliki sifat dan cara pelaksanaan yang berbeda. Di tahap editorial misalnya, penerbit artikel berurusan dengan pengarang dan karangannya; di tahap produksi pekerjaannya bersifat serba teknis, sedangkan di tahap distribusi penanganannya erat berkaitan dengan perniagaan.
Perkembangan di Tahap Editorial
Naskah karangan masuk ke perusahaan penerbitan melalui dua saluran: naskah artikel yang dibawa oleh pengarangnya sendiri, dan naskah artikel yang dikarang atas permintaan penerbit. Marilah kita amati apa saja yang terjadi dan apa pula yang harus dilakukan penerbit pada waktu seberkas naskah karangan sampai di tangannya.
Merupakan kebiasaan baik untuk pertama-tama memperhatikan terlebih dulu segi administrative pada saat penerimaan naskah artikel semacam itu. Sebaiknya untuk tiap naskah artikel yang masuk dibuatkan kartu-naskah untuk mencatat semua keterangan. yang penting dari pengalaman ternyata, bahwa penerbit pada suatu saat tidak hanya menggarap satu naskah saja, melainkan beberapa karangan sekaligus. Kartu naskah semacam itu sangat membantu untuk mengingat berbagai data, fakta dan kesepakatan serta janji-janji dari kedua pihak, pengarang maupun penerbit.
Kita mengetahui, bahwa pada umumnya tiap penerbit memiliki corak dan kebijaksanaan (policy) sendiri dalam kegiatan penerbitan artikel-nya. Naskah karangan yang isinya tidak sesuai dengan corak dan kebijaksanaan perusahaan, sebaiknya segera dikembalikan saja kepada pengarang pembawa naskah artikel, dengan penjelasan, mengapa naskah artikel itu dikembalikan. Dan merupakan sikap yang baik untuk memberitahukan kepada pengarang, dengan penerbit mana sebaiknya ia harus berhubungan.
Sekarang kita kembali ke persoalan naskah artikel. Tadi sudah dikemukakan, bahwa kartu-naskah digunakan sebagai sarana untuk menginga-ingat data, fakta, kesepakatan dan janji dari dan kepada kedua pihak. Untuk tiap berkas naskah artikel yang masuk ke perusahaan, haruslah segera dibuatkan kartu-naskah dan pengisiannya pun harus segera dilakukan mengenai apa saja yang sudah dapat dicatat. Selanjutnya dalam penanganan berikutnya, semua perubahan data, fakta, kesepakatan dan janji harus dibubuhkan di ruangan-ruangan yang sudah disediakan. Jangan sekali-kali mengandalkan saja pada daya ingatan kita atau pada daya ingatan rekan sekantor kita. Terlampau banyak masalah yang harus diperhatikan, sehingga tanpa penggunaan kartu-naskah artikel semacam itu, kita cenderung untuk melupakan data penting ataupun menebak keliru.
Kumpulan kartu ini sebaiknya selalu ada di meja penyunting, di tempat yang tetap, sehingga setiap petugas dari bagian keredaksian dengan mudah dapat mencarinya. Pada setiap temu karya berkala, penyunting harus membawanya serta. Baca Pertama Langkah awal penggarapan naskah adalah apa yang biasa dikenal sebagai baca pertama, Baca pertama dilakukan oleh penyunting utama, dan kegunaannya ialah untuk mendapatkan factor-faktor penentu: akan menerbitkan artikel itu atau tidak akan menerbitkan.
Yang harus diperhatikan oleh penyunting pembaca pertama ini ialah:
(1) kesesuaiannya dengan kebijaksanaan penerbitan yang sudah digariskan;
(2) kelayakan untuk diterbitkan;
(3)kemungkinan bakal dibeli orang.
Penyunting pembaca pertama dalam kegiatannya tidak bekerja sendiri, melainkan harus selalu membicarakannya dan minta saran dan pendapat dari kepala bagian produksi, bagian distribusi (penjualan), dan bila dipandang perlu dari seorang pembaca ahli dari luar perusahaan. Yang dimaksudkan dengan kesesuaiannya dengan kebijaksanaan penerbitan ialah masalah yang menyangkut jenis subyek karangan (artikel umum, artikel pelajaran sekolah, ilmu pengetahuan, kanak-kanak, agama, artikel rujukan seperti ensiklopedi dan kamus, olah raga, hobi dan lain sebagainya). Sebab pada umumnya, sebuah usaha penerbitan pada akhirnya akan mengarah ke sesuatu corak tertentu sebagai lambang kebanggaan ataupun stempel dari perusahaannya.
Yang dimaksudkan dengan kelayakan untuk diterbitkain ialah masalah-masalah yang berkaitan dengan isi karangan dan integritas pengarangnya. Perihal isi karangan dan pengarangnya pengamatannya perlu dilakukan dari beberapa segi: Apakah gagasan yang terkandung di dalam artikel merupakan tema yang cukup baik? Apakah ceritanya cukup memiliki daya-tarik bagi pembacaanya nanti? Apakah pengarang benar-benar berada dalam keadaan dan kedudukan mampu untuk penulisan subyek karangan yang dimaksud? Apakah gagasan dalam ceritanya cukup aktual? Apakah karangan berisikan cukup banyak materi untuk isi artikel? Apakah gagasannya merupakan gagasan baru, dan apakah sebelumnya sudah pernah diterbitkan naskah oleh penerbit lain dengan subyek yang sama? Bagaimana kira-kira perbandingan nilai bobot antara artikel yang sedang dibaca dengan naskah dari penerbit lain itu?
Secara operasional, kegiatan menerbitkan artikel dibagi dalam tiga tahap: tahap editorial, tahap produksi dan tahap distribusi. Di tiap tahap, penerbit mempunyai berbagai rekan bekerja yang menurut kelompoknya menuntut cara bekerja sendiri pula, sedangkan tiap tahap tersebut memiliki sifat dan cara pelaksanaan yang berbeda. Di tahap editorial misalnya, penerbit artikel berurusan dengan pengarang dan karangannya; di tahap produksi pekerjaannya bersifat serba teknis, sedangkan di tahap distribusi penanganannya erat berkaitan dengan perniagaan.
Perkembangan di Tahap Editorial
Naskah karangan masuk ke perusahaan penerbitan melalui dua saluran: naskah artikel yang dibawa oleh pengarangnya sendiri, dan naskah artikel yang dikarang atas permintaan penerbit. Marilah kita amati apa saja yang terjadi dan apa pula yang harus dilakukan penerbit pada waktu seberkas naskah karangan sampai di tangannya.
Merupakan kebiasaan baik untuk pertama-tama memperhatikan terlebih dulu segi administrative pada saat penerimaan naskah artikel semacam itu. Sebaiknya untuk tiap naskah artikel yang masuk dibuatkan kartu-naskah untuk mencatat semua keterangan. yang penting dari pengalaman ternyata, bahwa penerbit pada suatu saat tidak hanya menggarap satu naskah saja, melainkan beberapa karangan sekaligus. Kartu naskah semacam itu sangat membantu untuk mengingat berbagai data, fakta dan kesepakatan serta janji-janji dari kedua pihak, pengarang maupun penerbit.
Kita mengetahui, bahwa pada umumnya tiap penerbit memiliki corak dan kebijaksanaan (policy) sendiri dalam kegiatan penerbitan artikel-nya. Naskah karangan yang isinya tidak sesuai dengan corak dan kebijaksanaan perusahaan, sebaiknya segera dikembalikan saja kepada pengarang pembawa naskah artikel, dengan penjelasan, mengapa naskah artikel itu dikembalikan. Dan merupakan sikap yang baik untuk memberitahukan kepada pengarang, dengan penerbit mana sebaiknya ia harus berhubungan.
Sekarang kita kembali ke persoalan naskah artikel. Tadi sudah dikemukakan, bahwa kartu-naskah digunakan sebagai sarana untuk menginga-ingat data, fakta, kesepakatan dan janji dari dan kepada kedua pihak. Untuk tiap berkas naskah artikel yang masuk ke perusahaan, haruslah segera dibuatkan kartu-naskah dan pengisiannya pun harus segera dilakukan mengenai apa saja yang sudah dapat dicatat. Selanjutnya dalam penanganan berikutnya, semua perubahan data, fakta, kesepakatan dan janji harus dibubuhkan di ruangan-ruangan yang sudah disediakan. Jangan sekali-kali mengandalkan saja pada daya ingatan kita atau pada daya ingatan rekan sekantor kita. Terlampau banyak masalah yang harus diperhatikan, sehingga tanpa penggunaan kartu-naskah artikel semacam itu, kita cenderung untuk melupakan data penting ataupun menebak keliru.
Kumpulan kartu ini sebaiknya selalu ada di meja penyunting, di tempat yang tetap, sehingga setiap petugas dari bagian keredaksian dengan mudah dapat mencarinya. Pada setiap temu karya berkala, penyunting harus membawanya serta. Baca Pertama Langkah awal penggarapan naskah adalah apa yang biasa dikenal sebagai baca pertama, Baca pertama dilakukan oleh penyunting utama, dan kegunaannya ialah untuk mendapatkan factor-faktor penentu: akan menerbitkan artikel itu atau tidak akan menerbitkan.
Yang harus diperhatikan oleh penyunting pembaca pertama ini ialah:
(1) kesesuaiannya dengan kebijaksanaan penerbitan yang sudah digariskan;
(2) kelayakan untuk diterbitkan;
(3)kemungkinan bakal dibeli orang.
Penyunting pembaca pertama dalam kegiatannya tidak bekerja sendiri, melainkan harus selalu membicarakannya dan minta saran dan pendapat dari kepala bagian produksi, bagian distribusi (penjualan), dan bila dipandang perlu dari seorang pembaca ahli dari luar perusahaan. Yang dimaksudkan dengan kesesuaiannya dengan kebijaksanaan penerbitan ialah masalah yang menyangkut jenis subyek karangan (artikel umum, artikel pelajaran sekolah, ilmu pengetahuan, kanak-kanak, agama, artikel rujukan seperti ensiklopedi dan kamus, olah raga, hobi dan lain sebagainya). Sebab pada umumnya, sebuah usaha penerbitan pada akhirnya akan mengarah ke sesuatu corak tertentu sebagai lambang kebanggaan ataupun stempel dari perusahaannya.
Yang dimaksudkan dengan kelayakan untuk diterbitkain ialah masalah-masalah yang berkaitan dengan isi karangan dan integritas pengarangnya. Perihal isi karangan dan pengarangnya pengamatannya perlu dilakukan dari beberapa segi: Apakah gagasan yang terkandung di dalam artikel merupakan tema yang cukup baik? Apakah ceritanya cukup memiliki daya-tarik bagi pembacaanya nanti? Apakah pengarang benar-benar berada dalam keadaan dan kedudukan mampu untuk penulisan subyek karangan yang dimaksud? Apakah gagasan dalam ceritanya cukup aktual? Apakah karangan berisikan cukup banyak materi untuk isi artikel? Apakah gagasannya merupakan gagasan baru, dan apakah sebelumnya sudah pernah diterbitkan naskah oleh penerbit lain dengan subyek yang sama? Bagaimana kira-kira perbandingan nilai bobot antara artikel yang sedang dibaca dengan naskah dari penerbit lain itu?































