Masalah perbukuan di tanah air kita makin hari makin banyak mendapat perhatian, baik dari kalangan Pemerintah maupun dari masyarakat. Gejala ini tidaklah mengherankan bahkan sangat menggembirakan, karena laju pertumbuhan anak Indonesia yang bersekolah dari tahun ke tahun memang menunjukkan arah yang naik secara tetap dan terus-menerus. Sejalan dengan itu pula perlu kiranya dipikirkan untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan industri artikel sebagai satu bagian yang tak terelakkan dalam konteks ini.
Salah satu komponen dari industri artikel adalah penerbit, dan kemajuan dari dunia penerbit haruslah berjalan sejajar dengan kemajuan tingkat tulis-baca yang sedang berkembang di dalam masyarakat kita ini. Isi artikel ini merupakan upaya penyusun untuk lebih mempopulerkan lagi permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan menerbitkan artikel. Materi yang diuraikan di dalamnya lebih ditekankan pada pengenalan terhadap dasar-dasar kegiatan dari menerbitkan artikel, dan bahan-bahannya sudah pemah diuji-cobakan selama 4 tahun pada kursus Penerbitan artikel di Pusat Gratika Indonesia, Jakarta. Sumbangsih dari penyusun ini semoga dapat mempopuler awal dari langkah-langkah berikutnya dalam mengakselerasikan minat dalam bidang yang cukup penting ini.
Keinginan untuk berkomunikasi merupakan landasan fundamental dari kondisi manusia. Dan industri artikel adalah konsekuensi komersial dari keinginan tersebut. Bentuk fisikal artikel seperti yang kita kenal sekarang, berasal dari kira-kira 1000 tahun yang lampau; namun sebagai benda komoditi yang efektif baru diakui semenjak ditemukannya mesin cetak di abad kelima belas. Di masa sebelumnya,apa yang dikualifikasikan sebagai penerbit ialah para majikan yang menyewa, mempekerjakan, bahkan memaksa budah-budak untuk menyalingandakan tulisan yang sebelumnya sudah dibuat oleh orang lain. Hasil penggandaan ini kemudian dijual oleh sang majikan jadi sudah pula menyerupai kegiatan jual-beli, walaupun belum dapat dikatakan sebagai kegiatan niaga yang sesungguhnya. Baru setelah artikel dapat digandakan melalui proses produksi massal, orang membuat artikel untuk tujuan komersial.
Jadi pada mulanya, penerbitan adalah pencetakan, yaitu sebagai kegiatan pembuatan (manufacturing), dan belum berfungsi sebagai penyebarluasan. Baru di abad kesembilan belas, penerbit berfungsi seperti fungsinya yang sekarang, yakni sebagai promotor dari kata-kata tercetak. Kalau diharuskan memberikan definisi, maka menerbitkan berarti mempublikasikan kepada umum, mengetengahkan ke khalayak ramai, kata dan gambar yang telah diciptakan oleh jiwa-jiwa kreatif, kemudian disunting oleh para penyunting, untuk selanjutnya digandakan oleh para pencetak. Kalau pengertian ini diterapkan pada artikel, maka menerbitkan merupakan rangkaian kegiatan, di mana tiap mata rantainya secara tersendiri tidak dapat disebut sebagai kegiatan menerbitkan.
Proses menerbitkan dapat dikatakan lengkap, bila sesuatu naskah karangan sudah ditransformasikan menjadi bentuk artikel dan kemudian didistribusikan ke pasar yang memang menjadi tujuannya. Tidaklah dapat dikatakan, orang telah melakukan kegiatan menerbitkan, apabila yang dilakukan hanyalah penanganan editorialnya saja. Tidak pula dapat dikatakan sebagai menerbitkan sesuatu, bila yang dilakukan hanyalah mencetak dan menjilid saja, atau menjual artikel saja, atau hanya mendistribusikan saja.
Menerbitkan artikel adalah proses terpadu dari semua kegiatan tersebut di atas, baik yang melakukannya itu perorangan ataupun beberapa orang secara bersamaan. Menerbitkan artikel adalah seluruh prosedur intelektual dan niaga dalam pemilihan, penyaringan, dan penataan pembuatan artikel, untuk kemudian dipromosikan kepada tujuan yang akhir.
Komponen-komponen dari Industri Artikel.
Kita mengenal lima komponen utama di dalam industri buku: pengarang, penerbit, pencetak, pedagang artikel, dan perpustakaan. Marilah kita bicarakan komponen tersebut satu demi satu.
Pengarang
Walaupun kelima komponen tersebut, satu demi satu di anggap sama bobotnya, namun beberapa daripadanya ada yang berbobot kurang daripada yang lain. Tetapi yang jelas tidak kurang berbobot adalah pengarang, karena sesungguhnya ia merupakan unsur pencipta dari apa yang akan dikomunikasikan. Tanpa adanya pengarang, penerbit tidak akan mempunyai kegiatan apa pun juga. Janis pengelompokan dalam dunia pengarang sudah tentu disesuaikan dengan jenis karangan yang dibuat, tetapi ada pula cara pengelompokan lain yang lebih lazim digunakan orang.
Pembedaan yang paling mudah ialah antara pengarang profesional dan pengarang non-profesional. Golongan yang pertama menganggap pekerjaan menulis sebagai sumber utama untuk hidupnya, atau setidaknya sumber penghasilannya untuk sebagian terbesar datang dari penulisannya, sedangkan jenis karya tulisnya dapat bersifat khusus ataupun umum. Ini berarti, bahwa seorang pengarang profesional dapat saja menulis mengenai suatu subyek tertentu, dan pada kesempatan lain menulis sebuah novel, artikel non-fiksi, artikel petunjukturis, artikel sejarah, artikel biografi. Ia pun biasanya bersedia untuk menulis brosur tentang riwayat sesuatu perusahaan, atau brosur berisikan iklan. Pendek kata hampir semua bidang yang dianggapnya mampu untuk ditulis serta dapat dianggap pula sebagai sumber keuangan yang cukup bisa diandalkan, seperti misalnya cerita untuk film, untuk televisi dan lain sebagainya.
Seorang pengarang non-profesional sebaliknya dapat merupakan pengarang free-lance, atau seorang guru yang menulis artikel pelajaran, atau seorang yang memiliki sesuatu hobi, kemudian membuat karangan berseri tentang hobinya itu. Dapat juga dimasukkanke dalam golongan pengarang non-profesional, mereka yang sesungguhnya tidak berprofesi sebagai pengarang, seperti misalnya tokoh juara olah raga yang meminjamkan namanya untuk diotobiografikan.
Di Zaman modem sekarang ini, publik biasanya melihat dan memandang pengarang dengan rasa kekaguman dan hormat (tetapi ini barangkali sekedar untuk mengimbangi keengganannya membeli artikel karangannya). Kekaguman dan rasa hormat ini sekarang bahkan meluas kepada kelompok jurnalis dan ahli kritik, sehingga bolehlah dikatakan, bahwa kedudukan pengarang di dalam masyarakat memang dipandang tinggi dan memadai, terutama bagi pengarang profesional. Akan tetapi pada umumnya penghasilan pengarang rata-rata rendah atau biasa saja. Walaupun demikian, dari abad ke abad muncul saja lagi pengarang-pengarang baru yang memang berniat untuk menjadi seorang pengarang sebagai profesinya. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa dorongan untuk berkomunikasi serta kegebyaran pandangan terhadap pengarang lebih penting daripada besarnya imbalan jasanya.
Namun daya tarik yang menentukan bagi kelompok pengarang untuk menulis sesuatu adalah situasi dan kondisi, dimana pengarang dapat melakukan profesi kreatifnya dengan bebas dan mantap, dan di mana terdapat cukup banyak permintaan akan artikel karena memang masyarakat memerlukan artikel untuk dibaca. Penciptaan situasi dan kondisi yang demikian itu tidak dapat diandalkan dari satu pihak saja. Baik yang berwajib, maupun pengarang sendiri, penerbit, orang tua dan masyarakat mempunyai peran yang menentukan akan keberhasilan penciptaan kondisi yang demikian itu.
Salah satu komponen dari industri artikel adalah penerbit, dan kemajuan dari dunia penerbit haruslah berjalan sejajar dengan kemajuan tingkat tulis-baca yang sedang berkembang di dalam masyarakat kita ini. Isi artikel ini merupakan upaya penyusun untuk lebih mempopulerkan lagi permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan menerbitkan artikel. Materi yang diuraikan di dalamnya lebih ditekankan pada pengenalan terhadap dasar-dasar kegiatan dari menerbitkan artikel, dan bahan-bahannya sudah pemah diuji-cobakan selama 4 tahun pada kursus Penerbitan artikel di Pusat Gratika Indonesia, Jakarta. Sumbangsih dari penyusun ini semoga dapat mempopuler awal dari langkah-langkah berikutnya dalam mengakselerasikan minat dalam bidang yang cukup penting ini.
Keinginan untuk berkomunikasi merupakan landasan fundamental dari kondisi manusia. Dan industri artikel adalah konsekuensi komersial dari keinginan tersebut. Bentuk fisikal artikel seperti yang kita kenal sekarang, berasal dari kira-kira 1000 tahun yang lampau; namun sebagai benda komoditi yang efektif baru diakui semenjak ditemukannya mesin cetak di abad kelima belas. Di masa sebelumnya,apa yang dikualifikasikan sebagai penerbit ialah para majikan yang menyewa, mempekerjakan, bahkan memaksa budah-budak untuk menyalingandakan tulisan yang sebelumnya sudah dibuat oleh orang lain. Hasil penggandaan ini kemudian dijual oleh sang majikan jadi sudah pula menyerupai kegiatan jual-beli, walaupun belum dapat dikatakan sebagai kegiatan niaga yang sesungguhnya. Baru setelah artikel dapat digandakan melalui proses produksi massal, orang membuat artikel untuk tujuan komersial.
Jadi pada mulanya, penerbitan adalah pencetakan, yaitu sebagai kegiatan pembuatan (manufacturing), dan belum berfungsi sebagai penyebarluasan. Baru di abad kesembilan belas, penerbit berfungsi seperti fungsinya yang sekarang, yakni sebagai promotor dari kata-kata tercetak. Kalau diharuskan memberikan definisi, maka menerbitkan berarti mempublikasikan kepada umum, mengetengahkan ke khalayak ramai, kata dan gambar yang telah diciptakan oleh jiwa-jiwa kreatif, kemudian disunting oleh para penyunting, untuk selanjutnya digandakan oleh para pencetak. Kalau pengertian ini diterapkan pada artikel, maka menerbitkan merupakan rangkaian kegiatan, di mana tiap mata rantainya secara tersendiri tidak dapat disebut sebagai kegiatan menerbitkan.
Proses menerbitkan dapat dikatakan lengkap, bila sesuatu naskah karangan sudah ditransformasikan menjadi bentuk artikel dan kemudian didistribusikan ke pasar yang memang menjadi tujuannya. Tidaklah dapat dikatakan, orang telah melakukan kegiatan menerbitkan, apabila yang dilakukan hanyalah penanganan editorialnya saja. Tidak pula dapat dikatakan sebagai menerbitkan sesuatu, bila yang dilakukan hanyalah mencetak dan menjilid saja, atau menjual artikel saja, atau hanya mendistribusikan saja.
Menerbitkan artikel adalah proses terpadu dari semua kegiatan tersebut di atas, baik yang melakukannya itu perorangan ataupun beberapa orang secara bersamaan. Menerbitkan artikel adalah seluruh prosedur intelektual dan niaga dalam pemilihan, penyaringan, dan penataan pembuatan artikel, untuk kemudian dipromosikan kepada tujuan yang akhir.
Komponen-komponen dari Industri Artikel.
Kita mengenal lima komponen utama di dalam industri buku: pengarang, penerbit, pencetak, pedagang artikel, dan perpustakaan. Marilah kita bicarakan komponen tersebut satu demi satu.
Pengarang
Walaupun kelima komponen tersebut, satu demi satu di anggap sama bobotnya, namun beberapa daripadanya ada yang berbobot kurang daripada yang lain. Tetapi yang jelas tidak kurang berbobot adalah pengarang, karena sesungguhnya ia merupakan unsur pencipta dari apa yang akan dikomunikasikan. Tanpa adanya pengarang, penerbit tidak akan mempunyai kegiatan apa pun juga. Janis pengelompokan dalam dunia pengarang sudah tentu disesuaikan dengan jenis karangan yang dibuat, tetapi ada pula cara pengelompokan lain yang lebih lazim digunakan orang.
Pembedaan yang paling mudah ialah antara pengarang profesional dan pengarang non-profesional. Golongan yang pertama menganggap pekerjaan menulis sebagai sumber utama untuk hidupnya, atau setidaknya sumber penghasilannya untuk sebagian terbesar datang dari penulisannya, sedangkan jenis karya tulisnya dapat bersifat khusus ataupun umum. Ini berarti, bahwa seorang pengarang profesional dapat saja menulis mengenai suatu subyek tertentu, dan pada kesempatan lain menulis sebuah novel, artikel non-fiksi, artikel petunjukturis, artikel sejarah, artikel biografi. Ia pun biasanya bersedia untuk menulis brosur tentang riwayat sesuatu perusahaan, atau brosur berisikan iklan. Pendek kata hampir semua bidang yang dianggapnya mampu untuk ditulis serta dapat dianggap pula sebagai sumber keuangan yang cukup bisa diandalkan, seperti misalnya cerita untuk film, untuk televisi dan lain sebagainya.
Seorang pengarang non-profesional sebaliknya dapat merupakan pengarang free-lance, atau seorang guru yang menulis artikel pelajaran, atau seorang yang memiliki sesuatu hobi, kemudian membuat karangan berseri tentang hobinya itu. Dapat juga dimasukkanke dalam golongan pengarang non-profesional, mereka yang sesungguhnya tidak berprofesi sebagai pengarang, seperti misalnya tokoh juara olah raga yang meminjamkan namanya untuk diotobiografikan.
Di Zaman modem sekarang ini, publik biasanya melihat dan memandang pengarang dengan rasa kekaguman dan hormat (tetapi ini barangkali sekedar untuk mengimbangi keengganannya membeli artikel karangannya). Kekaguman dan rasa hormat ini sekarang bahkan meluas kepada kelompok jurnalis dan ahli kritik, sehingga bolehlah dikatakan, bahwa kedudukan pengarang di dalam masyarakat memang dipandang tinggi dan memadai, terutama bagi pengarang profesional. Akan tetapi pada umumnya penghasilan pengarang rata-rata rendah atau biasa saja. Walaupun demikian, dari abad ke abad muncul saja lagi pengarang-pengarang baru yang memang berniat untuk menjadi seorang pengarang sebagai profesinya. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa dorongan untuk berkomunikasi serta kegebyaran pandangan terhadap pengarang lebih penting daripada besarnya imbalan jasanya.
Namun daya tarik yang menentukan bagi kelompok pengarang untuk menulis sesuatu adalah situasi dan kondisi, dimana pengarang dapat melakukan profesi kreatifnya dengan bebas dan mantap, dan di mana terdapat cukup banyak permintaan akan artikel karena memang masyarakat memerlukan artikel untuk dibaca. Penciptaan situasi dan kondisi yang demikian itu tidak dapat diandalkan dari satu pihak saja. Baik yang berwajib, maupun pengarang sendiri, penerbit, orang tua dan masyarakat mempunyai peran yang menentukan akan keberhasilan penciptaan kondisi yang demikian itu.































