Merasakan kepuasan setelah naskah artikel itu menjadi sempurna. Oleh sebab itu, pekerjaan mengedit sebenamya lebih mengasyikkan dibanding menulis naskah artikel itu sendiri. Itu pengalaman penulis artikel, tidak tahu dengan penulis artikel profesional lain. Setiap individu memiliki pengalaman tersendiri ketika menulis. Sedangkan prosedur edit yang bisa dilakukan antara lain adalah selesaikan naskah artikel mulai bab awal sampai bab akhir, edit sesuai dengan gramatikalnya dan manfaatkan speed reading. Seperti diulas sebelumnya, penulis artikel mengedit naskah artikel setelah naskah artikel penulis artikel tulis semuanya tanpa melihat huruf terbalik, gramatikal yang terbalik serta lainnya, penting ketika sudah membuat kerangka dan kerangka itu komplit penulis artikel merasa sudah menulis pada rel benar.
Penulis artikel membiarkan jemari penulis artikel menuliskan apa saja terbersit dalam pikiran tanpa mau mengoreksi huruf, kata, kalimat, istilah, serta lainnya. Oleh sebab itu, penulis artikel baru mengedit naskah artikel berurut-urutan dari bab ke bab setelah keseluruhan bab mulai dari awal sampai akhir selesai ditulis. Namun langkah ini memang memberikan kesan bahwa penulis artikel kurang memandang mutu suatu tulisan karena hanya menulis apa saja semua terlintas dalam pikiran. Serta tidak mau melakukan control terhadap apa yang ditulisnya. Nah, secara kebiasaan memang seperti itu, tetapi terkadang ketika penulis artikel mengalami kemacetan dalam menulis sebuah alinea dalam sub bab satu bab, penulis artikel seringkali muiai melakukan editing kecil-kecilan pada bab bersangkutan hanya sekedar mengurutkan kembali apa yang ditulis dan menginginkan apa akan dituliskan selanjutnya muncul. Berikutnya penulis artikel edit naskah artikel sesuai dengan gramatikalnya.
Penulis artikel terus menulis saja penting gagasan penulis artikel muncul dalam bentuk tulisan. Tetapi ketika penulis artikel membacanya ulang, kalimat itu susunannya secara gramatikal susunanya terbalik. Nah, kalimat-kalimat yang gramatikalnya terbalik ini seringkali muncul dan dalam proses editing selalu memerlukan perbaikan. Oleh sebab itu, gunakanlah hukum DM atau MD sesuai dengan kebutuhandan keselarasan dalam tulisan itu. Contoh mengenai gramatikal DM atau MD sudah diedit bisa dibaca kembali di bab mengenai "Mendesain naskah artikel menggunakan tabel Leonardo" di sub bab Teknik menulis menggunakan tabel Leonardo". Lebih baik manfaatkan speed reading. Kecepatan membaca dalam mengedit naskah artikel sangat dibutuhkan. Kalau selama ini Anda adalah pehobi baca buku, maka melakukan editing dengan metode membaca cepat sangatlah baik. Selain bisa mempercepat pekerjaan Anda, efek tulisan yang dibaca secara cepat dapat menunjukan bahwa kata-kata disusun dalam kalimat itu sudah dalam posisi teratur dan benar.
Membaca cepat ini seolah-olah Anda tidak menikmati sebuah tulisan tetapi membuat tulisan sesuai dengan aturan mainnya. Tetapi ketika Anda sudah terbiasa melakukan editing dengan cara membaca cepat, mau tidak mau bisa menikmati tulisan buat. Nah, pada kondisi inilah semakin cermat pada tulisan yang Anda buat dan bagaimana memperlakukan susunan kata dalam kalimat itu. Pada saat itulah Anda, tidak mengenal kata sayang terhadap apa yang sudah tuliskan, sebab Anda akan kata-kata ataupun kalimat menurut tidak perlu ditampilkan. Penulis artikel pemula sering kali merasakan sayang pada kata-kata yang sudah disusunnya dalam sebuah kalimat yang sebenamya harus dibuang. Kalau kondisinya seperti ini maka proses editing dilakukan tidak jalan. Melalui speed reading, Anda pasti akan cepat memahami kata atau kalimat mana perlu dibabat hingga gundul. Kalau kalimatnya tidak efektif mengapa harus dipertahankan. Lebih baik dipangkas saja supaya alinea tersebut bisa dibaca dengan enak dan ringan. Editing memiliki tujuan membongkar, memangkas dan meluruskan kata-kata yang tidak pada tempatnya.
Di bawah ini ada satu kalimat yang memiliki kata tidak perlu, kalau dibiarkan kata itu cukup mengganggu. Kalimat Eli atas adalah kalimat dalam bagian buku ini yang kemudian diedit sedemikian rupa. Kalau membaca kalimat belum diedit, maka penulis artikel pemula biasanya merasa penulis artikel dengan kata kata ini, bagi penulis artikel pemula memiliki kesan wah. Tapi kalau tetap dipertahankan, kata menjadi tidak efektif, sebab kata temporer artinya sama dengan tidak bersifat permanen.
Kesulitan mengedit.
Dalam mengedit kita juga mengalami kesulitan meskipun kesulitan itu tidak bersifat permanen. Namun tetap saja menjadi kesulitan dalain aktivitas mengedit. Nah, kesulitan mengedit itu antara lain referensi yang digunakan belum lengkap, tulisan belum selesai, adanya kendala waktu, tidak adanya perlengkapan menulis memadai seperti kamus bahasa Indonesia, kamus bahasa Inggris maupun kamus populer berhubungan dengan ilmu sedang ditulis. Tidak adanya referensi tentunya membuat naskah artikel yang sudah selesaipun tidak akan diedit. Penulis artikel biasanya akan mencari referensi yang dibutuhkan dari buku-buku koleksi sendiri maupun dari perpustakaan ataupun dari internet. Selama pencarian referensi ini proses editing dengan sendirinya tidak bisa dilakukan. Bisa dilakukan jika memang naskah artikel buku tidak memerlukan referensi. Atau Anda memiliki gaya dalam menulis akan selalu melakukan editing sebelum keseluruhan selesai.
Bagaimanapun proses pencarian referensi, jika membutuhkan dalam tulisan akan menjadi faktor kesulitan dalam melakukan editing. Tulisan belum selesai percuma kalau diedit. Kalimat-kalimat yang berkesinambungan akan terlihat setelah ditulis lengkap. Melakukan editing sebelum kalimat lengkap akan membuat tulisan itu malah kacau. Sebaiknya memang melakukan editing ketika tulisan sudah rampung. Kenapa Anda akan lebih enak melakukan editingnya? Karena nantinya perlu menambah, mengurangi atau menyelipkan data sehingga editingnya tidak dilakukan dua kali.
Kendala waktu juga menjadi penyebab kesulitan dalam mengedit. Penulis artikel lebih suka mengedit naskah artikel di pagi hari sebab ketika pagi hari kita masih fresh dan otak kita juga belum banyak masalah keseharian seperti pekerjaan, atau problem-problem lain. Kalau mengeditnya malam hari, konsentrasi Anda sudah berkurang. Anda sudah kurang konsentrasinya. Melakukan editing diperlukan energi yang besar dan fokus. Dibanding dengan menuliskan naskah artikel sendiri, proses editing malah Iebih melelahkan karena keseluruhan (naskah artikel) ada pada diri kita secara total. Tidak ada kamus baik bahasa Indonesia, Inggris atau kamus yang berhubungan dengan tulisan, juga menjadi penyebab dalam kesulitan mengedit.
Referensi yang tidak ditemukan mengganggu dalam proses editing. Mengapa? Tulisan membutuhlan referensi mau tidak mau harus dicarikan, sementara Anda sedang mengedit, tentunya hal ini bisa menjadi kendala. Begitu pula dengan kamus kalau kita sedang menuliskan suatu kata dan masih ragu-ragu dengan arti kata itu maka proses editing lakukan juga akan mengalami hambatan. Penerbitan saat ini mengalami kemajuan sangat pesat. sehingga banyak penerbit membutuhkan naskah artikel. Kalau sebelumnya sebuah buku membutuhkan waktu yang cukup lama, kini waktu menjadi lebih singkat. Hal ini tentunya ditunjang oleh sarana mesin percetakan semakin canggih, adanya komputer, intemet, dan pola pemasaran buku yang signifikan.
Penulis artikel membiarkan jemari penulis artikel menuliskan apa saja terbersit dalam pikiran tanpa mau mengoreksi huruf, kata, kalimat, istilah, serta lainnya. Oleh sebab itu, penulis artikel baru mengedit naskah artikel berurut-urutan dari bab ke bab setelah keseluruhan bab mulai dari awal sampai akhir selesai ditulis. Namun langkah ini memang memberikan kesan bahwa penulis artikel kurang memandang mutu suatu tulisan karena hanya menulis apa saja semua terlintas dalam pikiran. Serta tidak mau melakukan control terhadap apa yang ditulisnya. Nah, secara kebiasaan memang seperti itu, tetapi terkadang ketika penulis artikel mengalami kemacetan dalam menulis sebuah alinea dalam sub bab satu bab, penulis artikel seringkali muiai melakukan editing kecil-kecilan pada bab bersangkutan hanya sekedar mengurutkan kembali apa yang ditulis dan menginginkan apa akan dituliskan selanjutnya muncul. Berikutnya penulis artikel edit naskah artikel sesuai dengan gramatikalnya.
Penulis artikel terus menulis saja penting gagasan penulis artikel muncul dalam bentuk tulisan. Tetapi ketika penulis artikel membacanya ulang, kalimat itu susunannya secara gramatikal susunanya terbalik. Nah, kalimat-kalimat yang gramatikalnya terbalik ini seringkali muncul dan dalam proses editing selalu memerlukan perbaikan. Oleh sebab itu, gunakanlah hukum DM atau MD sesuai dengan kebutuhandan keselarasan dalam tulisan itu. Contoh mengenai gramatikal DM atau MD sudah diedit bisa dibaca kembali di bab mengenai "Mendesain naskah artikel menggunakan tabel Leonardo" di sub bab Teknik menulis menggunakan tabel Leonardo". Lebih baik manfaatkan speed reading. Kecepatan membaca dalam mengedit naskah artikel sangat dibutuhkan. Kalau selama ini Anda adalah pehobi baca buku, maka melakukan editing dengan metode membaca cepat sangatlah baik. Selain bisa mempercepat pekerjaan Anda, efek tulisan yang dibaca secara cepat dapat menunjukan bahwa kata-kata disusun dalam kalimat itu sudah dalam posisi teratur dan benar.
Membaca cepat ini seolah-olah Anda tidak menikmati sebuah tulisan tetapi membuat tulisan sesuai dengan aturan mainnya. Tetapi ketika Anda sudah terbiasa melakukan editing dengan cara membaca cepat, mau tidak mau bisa menikmati tulisan buat. Nah, pada kondisi inilah semakin cermat pada tulisan yang Anda buat dan bagaimana memperlakukan susunan kata dalam kalimat itu. Pada saat itulah Anda, tidak mengenal kata sayang terhadap apa yang sudah tuliskan, sebab Anda akan kata-kata ataupun kalimat menurut tidak perlu ditampilkan. Penulis artikel pemula sering kali merasakan sayang pada kata-kata yang sudah disusunnya dalam sebuah kalimat yang sebenamya harus dibuang. Kalau kondisinya seperti ini maka proses editing dilakukan tidak jalan. Melalui speed reading, Anda pasti akan cepat memahami kata atau kalimat mana perlu dibabat hingga gundul. Kalau kalimatnya tidak efektif mengapa harus dipertahankan. Lebih baik dipangkas saja supaya alinea tersebut bisa dibaca dengan enak dan ringan. Editing memiliki tujuan membongkar, memangkas dan meluruskan kata-kata yang tidak pada tempatnya.
Di bawah ini ada satu kalimat yang memiliki kata tidak perlu, kalau dibiarkan kata itu cukup mengganggu. Kalimat Eli atas adalah kalimat dalam bagian buku ini yang kemudian diedit sedemikian rupa. Kalau membaca kalimat belum diedit, maka penulis artikel pemula biasanya merasa penulis artikel dengan kata kata ini, bagi penulis artikel pemula memiliki kesan wah. Tapi kalau tetap dipertahankan, kata menjadi tidak efektif, sebab kata temporer artinya sama dengan tidak bersifat permanen.
Kesulitan mengedit.
Dalam mengedit kita juga mengalami kesulitan meskipun kesulitan itu tidak bersifat permanen. Namun tetap saja menjadi kesulitan dalain aktivitas mengedit. Nah, kesulitan mengedit itu antara lain referensi yang digunakan belum lengkap, tulisan belum selesai, adanya kendala waktu, tidak adanya perlengkapan menulis memadai seperti kamus bahasa Indonesia, kamus bahasa Inggris maupun kamus populer berhubungan dengan ilmu sedang ditulis. Tidak adanya referensi tentunya membuat naskah artikel yang sudah selesaipun tidak akan diedit. Penulis artikel biasanya akan mencari referensi yang dibutuhkan dari buku-buku koleksi sendiri maupun dari perpustakaan ataupun dari internet. Selama pencarian referensi ini proses editing dengan sendirinya tidak bisa dilakukan. Bisa dilakukan jika memang naskah artikel buku tidak memerlukan referensi. Atau Anda memiliki gaya dalam menulis akan selalu melakukan editing sebelum keseluruhan selesai.
Bagaimanapun proses pencarian referensi, jika membutuhkan dalam tulisan akan menjadi faktor kesulitan dalam melakukan editing. Tulisan belum selesai percuma kalau diedit. Kalimat-kalimat yang berkesinambungan akan terlihat setelah ditulis lengkap. Melakukan editing sebelum kalimat lengkap akan membuat tulisan itu malah kacau. Sebaiknya memang melakukan editing ketika tulisan sudah rampung. Kenapa Anda akan lebih enak melakukan editingnya? Karena nantinya perlu menambah, mengurangi atau menyelipkan data sehingga editingnya tidak dilakukan dua kali.
Kendala waktu juga menjadi penyebab kesulitan dalam mengedit. Penulis artikel lebih suka mengedit naskah artikel di pagi hari sebab ketika pagi hari kita masih fresh dan otak kita juga belum banyak masalah keseharian seperti pekerjaan, atau problem-problem lain. Kalau mengeditnya malam hari, konsentrasi Anda sudah berkurang. Anda sudah kurang konsentrasinya. Melakukan editing diperlukan energi yang besar dan fokus. Dibanding dengan menuliskan naskah artikel sendiri, proses editing malah Iebih melelahkan karena keseluruhan (naskah artikel) ada pada diri kita secara total. Tidak ada kamus baik bahasa Indonesia, Inggris atau kamus yang berhubungan dengan tulisan, juga menjadi penyebab dalam kesulitan mengedit.
Referensi yang tidak ditemukan mengganggu dalam proses editing. Mengapa? Tulisan membutuhlan referensi mau tidak mau harus dicarikan, sementara Anda sedang mengedit, tentunya hal ini bisa menjadi kendala. Begitu pula dengan kamus kalau kita sedang menuliskan suatu kata dan masih ragu-ragu dengan arti kata itu maka proses editing lakukan juga akan mengalami hambatan. Penerbitan saat ini mengalami kemajuan sangat pesat. sehingga banyak penerbit membutuhkan naskah artikel. Kalau sebelumnya sebuah buku membutuhkan waktu yang cukup lama, kini waktu menjadi lebih singkat. Hal ini tentunya ditunjang oleh sarana mesin percetakan semakin canggih, adanya komputer, intemet, dan pola pemasaran buku yang signifikan.































