Memiliki mental lemah tentu saja karena ia tidak berani melihat kenyataan. Saya pada awal mengajukan artikel sudah berapa kali ditolak sama penerbit. Namun saya tetap mencari penerbit yang mau menerbitkan karya saya. Artikel pertama saya sangat sederhana, yaitu mengenai kewirausahaan. Waktu itu banyak penerbit memprediksikan buku itu tidak bisa laku karena belum ada artikel sejenis di pasaran. Mengirim email ke sana kemari, dan mengirimkan hard copy-nya buku itu masih juga ditolak. Akhirnya saya berpikir, apa yang membuat naskah itu ditolak. Apakah judulnya nama saya atau naskah terlalu panjang. Suatu kali saya meminta komentar dari mereka, kemudian diketahui bahwa judul buku tidak menjual, terlalu panjang dan memerlukan contoh yang rinci. Nah, barulah saya mengubah semuanya . Saya kemudian mencari lagi penerbit yang mau menerbitkan. Target awal bukan membidik penerbit besar, yang penting buku bisa diterbitkan dahulu. Benar saja ketika buku itu diterbitkan pertama kali artikel itu langsung meledak. Sampai hari ini artikel itu sudah diterbitkan 14 kali.
Penolakan yang dilakukan penerbit bukanlah penolakan permanen, sebab sebelum naskah artikel penulis diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, naskah serupa juga pernah ditolak. Bahkan penerbit memberikan opsi, jika buku tidak bisa terjual, penulisnya harus membelinya. Pada kenyataannya setelah saya yakin bahwa buku itu bisa laku dan menyakan berani menanggung jika tidak laku, akhirnya buku diterbitkan. Jika saya tidak berani mengambil resiko, maka artikel itu tidak pernah diterbitkan. Bersyukur artikel yang menurut penerbitnya tidak memiliki pasar akhirnya bisa dicetak 3 kali.
Takut diejek lebih parah lagi, sebab tidak semua orang suka dengan pekerjaan menulis. Ketika penulis pernah mengatakan bahwa penulis juga penulis artikel, lawan bicara penulis wajahnya langsung menunjukkan mimik yang aneh. Memangnya kalau seseorang yang bisa menulis buku merupakan hal yang aneh. Tidak itu saja di tempat kerja dimana semua orang berpikir menggunakan logika, ketika penulis bercerita bisa menulis artikel mereka jadi bingung. Apalagi buku untuk orang-orang tertentu dianggap sebagai bacaan picisan dan kalau penulis mengaku sebagai penulis artikel, tentunya pribadi penulis termasuk pribadi picisan. Sulit memang memprediksi kemauan lawan bicara. Oleh sebab itu, banyak penulis pemula yang takut sekali diejek jika ia bisa menulis. Kalau sudah takut diejek seperti ini, mana mungkin orang akan terus menulis. Ia sudah down sebelum melakukannya.
Berbeda sekali dengan di Amerika,sejak sekolah dasar semua murid diajarkan bagaimana bisa menulis artikel. Ada seorang teman yang memiliki relasi sebuah pondok pesantren. Pengasuh pondok pesantrennya pernah sekolah di Amerika dan ia bingung melihat hampir semua murid di Amerika bisa menulis artikel, meskipun hanya beberapa halaman. Oleh sebab itu, ketika ia kembali ke Indonesia, ia segera mencari guru yang bisa mengajari anak didiknya untuk bisa menulis. Ini true story dan merupakan impian yang teraplikasi oleh sang pengasuh pondok pesantren tersebut.
Sebagai ekses lain adalah terkenalnya penulis yang disebabkan oleh karya-karyanya yang best seller. Seorang penulis tentunya memiliki tanggung jawab yang besar terhadap hasil karyanya. Sehingga ketika banyak orang mendaulatnya maka ia harus sering tampil di depan forum. Entah itu mengadakan talk show, memberikan seminar, memberikan konsultasi serta hal-hal lainnya yang berkaitan sekali dengan hasil karyanya. Melihat hal ini tentunya seorang penulis pemula menjadi takut sehingga perasaan takut ini dapat menghalangi produktivitas menghasikan karya tulis artikel.
Penolakan yang dilakukan penerbit bukanlah penolakan permanen, sebab sebelum naskah artikel penulis diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, naskah serupa juga pernah ditolak. Bahkan penerbit memberikan opsi, jika buku tidak bisa terjual, penulisnya harus membelinya. Pada kenyataannya setelah saya yakin bahwa buku itu bisa laku dan menyakan berani menanggung jika tidak laku, akhirnya buku diterbitkan. Jika saya tidak berani mengambil resiko, maka artikel itu tidak pernah diterbitkan. Bersyukur artikel yang menurut penerbitnya tidak memiliki pasar akhirnya bisa dicetak 3 kali.
Takut diejek lebih parah lagi, sebab tidak semua orang suka dengan pekerjaan menulis. Ketika penulis pernah mengatakan bahwa penulis juga penulis artikel, lawan bicara penulis wajahnya langsung menunjukkan mimik yang aneh. Memangnya kalau seseorang yang bisa menulis buku merupakan hal yang aneh. Tidak itu saja di tempat kerja dimana semua orang berpikir menggunakan logika, ketika penulis bercerita bisa menulis artikel mereka jadi bingung. Apalagi buku untuk orang-orang tertentu dianggap sebagai bacaan picisan dan kalau penulis mengaku sebagai penulis artikel, tentunya pribadi penulis termasuk pribadi picisan. Sulit memang memprediksi kemauan lawan bicara. Oleh sebab itu, banyak penulis pemula yang takut sekali diejek jika ia bisa menulis. Kalau sudah takut diejek seperti ini, mana mungkin orang akan terus menulis. Ia sudah down sebelum melakukannya.
Berbeda sekali dengan di Amerika,sejak sekolah dasar semua murid diajarkan bagaimana bisa menulis artikel. Ada seorang teman yang memiliki relasi sebuah pondok pesantren. Pengasuh pondok pesantrennya pernah sekolah di Amerika dan ia bingung melihat hampir semua murid di Amerika bisa menulis artikel, meskipun hanya beberapa halaman. Oleh sebab itu, ketika ia kembali ke Indonesia, ia segera mencari guru yang bisa mengajari anak didiknya untuk bisa menulis. Ini true story dan merupakan impian yang teraplikasi oleh sang pengasuh pondok pesantren tersebut.
Sebagai ekses lain adalah terkenalnya penulis yang disebabkan oleh karya-karyanya yang best seller. Seorang penulis tentunya memiliki tanggung jawab yang besar terhadap hasil karyanya. Sehingga ketika banyak orang mendaulatnya maka ia harus sering tampil di depan forum. Entah itu mengadakan talk show, memberikan seminar, memberikan konsultasi serta hal-hal lainnya yang berkaitan sekali dengan hasil karyanya. Melihat hal ini tentunya seorang penulis pemula menjadi takut sehingga perasaan takut ini dapat menghalangi produktivitas menghasikan karya tulis artikel.































