Melalui bermain atau metode bercerita artikel akan lebih banyak mendapatkan perbendaharaan kata dan berani bertanya atau mengungkapkan apa yang didengarnya di hadapan kawan-kawannya, karena dengan banyaknya artikel memiliki perbendaharaan kata atau mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, artikel juga lebih mandiri dan lebih percaya diri dalam bersosialisasi baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan sekitarnya sendiri.
Masa prasekolah ini merupakan hal yang biasa bila artikel mengalami masalah pengucapan kata, artikel masih mempelajari dan memperaktekan kemampuannya. Dengan bantuan metode bercerita, disini diharapkan artikel mampu mengulang atau mengungkapkan kembali isi dari cerita guru tersebut. Selama masa awal kanak-kanak, anak-anak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar berbicara. Berbicara merupan sarana utama untuk bersosialisasi. Untuk meningkatkan komunikasi, anak-anak harus menguasai dua pokok yang merupakan unsur penting dalam belajar berbicara, unsur yang pertama adalah harus meningkatkan kemampuan untuk mengerti apa yang dikatakan orang lain, kedua harus meningkatkan kemampuan bicara yang dapat dimengeri orang lain.
Masalah dalam berbahasa dan berbicara pada artikel biasanya baru disadari ketika artikel mulai menggunakan suara dan mengungkapkan konsep mereka sendiri. Meskipun masalah bahasa biasanya akan menghilang atau berkurang dengan berlakunya waktu, namun secara rata-rata artikel dengan gangguan komunikasi biasanya lebih bermasalah dalam berprilaku atu bersosialisasi.
Kemampuan berbahasa lisan merupakan kemampuan berbahasa pertama yang dikuasai anak. Menurut Sugono (1997 : 14) dalam buku metode pengembangan bahasa artikel usia dini, bahasa lisan adalah bahasa yang dihasilkan dengan menggunakan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasarnya. Ragam lisan mengcakup aspek lafal, tata bahasa dan kosa kata. Dalam hal ini yang termasuk ragam bahasa lisan adalah kemampuan berbicara dan menyimak.
Permaslahan yang dipaparkan diatas, mengindikasikan terlambatnya kemampuan bahasa pada artikel yang seharusnya artikel dapat mengekspresikan idenya. Agar kemampuan bahasa artikel tercapai dengan baik, maka perlu adanya stimulus yang memungkinkan artikel mengembangkan kemampuan bahasa anak, dendan memberikan kesepatan pada artikel yang bermain, bergerak dan membuat sesuatu dengan permainannya.
Melalui pembelajaran artikel dapat mengembangkan berbagai macam keterampilan, memberikan kesenangan dan informasi. Salah satu kegiatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk menoptimalisasi kemampuan bahasa adalah melalui bercerita. Bercerita dengan menggunakan gambar atau tampa gambar dan artikel dapat menyimak atau menceritakan isi ceritanya.
Kemampuan bahasa sangatlah penting untuk artikel dapat bersosialisasi, menyampaikan keinginannya baik berupa tulisan atau ucapan. Tetapi dalam hal ini yang terjadi di TK negeri pembina kecamatan kampar sebagian artikel belum bisa, mengembangkan kemampuan bahasanya seperti menyampaikan kata atau menceritakan apa yang telah diceritakan guru baik dalam menyampaikan kata atau menceritakan apa yang telah diceritakan gurunya.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latarbelakang masalah diatas maka diidentifikasi maslah sebagai berikut:
1. kurangnya kemampuan artikel dalam berbicara.
2. Sebagian artikel belum bisa menceritakan isi cerita yang telah diceritakan guru
C. Pembatasan masalah
Penulis membatasi ruang lingkup permasalahan yaitu: peningkatan kemampuan bahasa melalui metode bercerita.
D. Perumusan masalah
Dari uraian diatas yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: Apakah metode bercerita dapat meningkatkan kemampuan bahasa artikel usia 5-6 tahun.
E. Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut:
Untuk mengetahui peningkatan kemampuan bahasa artikel di TK negeri pembina kecamatan kampar melalui metode bercerita.
F. Manfaat hasil penelitian
Penelitian ini dapat diharapkan agar memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis terhadap peningkatan kemampuan bahasa artikel melalui metode bercerita. Manfaatnya antara lain:
1. Dapat berguna sebagai pengetahuan ilmiah
2. Dapat dijadikan bahan masukan bagi guru dalam meningkatkan kinerjanya
3. Dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak
4. Menambah wawasan guru dalam proses pembelajaran
5. Menambah cakrawala dan wawasan yang luas bagi penulis
DESKRIPTIS TIORITIS
Pengertian perkembangan bahasa
Menurut Piaget (1997:180), perkembangan bahasa artikel TK masih bersifat egosentris, yaitu segala sesuatu yang berorientasi pada dirinya sendiri. Perkembangan bahasa artikel dipakai sebagai tolak ukur kecerdasannya dikemudian hari. Pada masa itu, artikel mengusai kemampuan bicara, tetapi mereka harus lebih banyak belajar sebelum mereka mencapai kemampuan berbahasa orang dewasa.
Perkembangan bahasa adalah pengasuhan yang memberikan stimulasi sensori motorik, sering bercerita, berdiskusi dengan anak, serta memberikan dorongan untuk mengungkapkan dirinya (Lazurdi 1991:9).
Bahasa sebagai fungsi dari komunikasi memungkinkan kedua individu atau lebih mengekspresikan berbagai ide, arti, perasaan, dan pengalaman. Menurut Badudu dalam Nurbiana (1989) menyatakan bahwa bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antara masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan, dan keinginannya.
Menurut Bromley dalam Nurbiana (1992:1-11) mendefinisikan bahasa sebagai sistem simbol yang teratur untuk mentransper berbagai ide maupun informasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun verbal. Simbol visual tersebut dapat dilihat, ditulis, dibaca sedangkan verbal dapat diucapkan dan didengar.
Masa prasekolah ini merupakan hal yang biasa bila artikel mengalami masalah pengucapan kata, artikel masih mempelajari dan memperaktekan kemampuannya. Dengan bantuan metode bercerita, disini diharapkan artikel mampu mengulang atau mengungkapkan kembali isi dari cerita guru tersebut. Selama masa awal kanak-kanak, anak-anak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar berbicara. Berbicara merupan sarana utama untuk bersosialisasi. Untuk meningkatkan komunikasi, anak-anak harus menguasai dua pokok yang merupakan unsur penting dalam belajar berbicara, unsur yang pertama adalah harus meningkatkan kemampuan untuk mengerti apa yang dikatakan orang lain, kedua harus meningkatkan kemampuan bicara yang dapat dimengeri orang lain.
Masalah dalam berbahasa dan berbicara pada artikel biasanya baru disadari ketika artikel mulai menggunakan suara dan mengungkapkan konsep mereka sendiri. Meskipun masalah bahasa biasanya akan menghilang atau berkurang dengan berlakunya waktu, namun secara rata-rata artikel dengan gangguan komunikasi biasanya lebih bermasalah dalam berprilaku atu bersosialisasi.
Kemampuan berbahasa lisan merupakan kemampuan berbahasa pertama yang dikuasai anak. Menurut Sugono (1997 : 14) dalam buku metode pengembangan bahasa artikel usia dini, bahasa lisan adalah bahasa yang dihasilkan dengan menggunakan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasarnya. Ragam lisan mengcakup aspek lafal, tata bahasa dan kosa kata. Dalam hal ini yang termasuk ragam bahasa lisan adalah kemampuan berbicara dan menyimak.
Permaslahan yang dipaparkan diatas, mengindikasikan terlambatnya kemampuan bahasa pada artikel yang seharusnya artikel dapat mengekspresikan idenya. Agar kemampuan bahasa artikel tercapai dengan baik, maka perlu adanya stimulus yang memungkinkan artikel mengembangkan kemampuan bahasa anak, dendan memberikan kesepatan pada artikel yang bermain, bergerak dan membuat sesuatu dengan permainannya.
Melalui pembelajaran artikel dapat mengembangkan berbagai macam keterampilan, memberikan kesenangan dan informasi. Salah satu kegiatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk menoptimalisasi kemampuan bahasa adalah melalui bercerita. Bercerita dengan menggunakan gambar atau tampa gambar dan artikel dapat menyimak atau menceritakan isi ceritanya.
Kemampuan bahasa sangatlah penting untuk artikel dapat bersosialisasi, menyampaikan keinginannya baik berupa tulisan atau ucapan. Tetapi dalam hal ini yang terjadi di TK negeri pembina kecamatan kampar sebagian artikel belum bisa, mengembangkan kemampuan bahasanya seperti menyampaikan kata atau menceritakan apa yang telah diceritakan guru baik dalam menyampaikan kata atau menceritakan apa yang telah diceritakan gurunya.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latarbelakang masalah diatas maka diidentifikasi maslah sebagai berikut:
1. kurangnya kemampuan artikel dalam berbicara.
2. Sebagian artikel belum bisa menceritakan isi cerita yang telah diceritakan guru
C. Pembatasan masalah
Penulis membatasi ruang lingkup permasalahan yaitu: peningkatan kemampuan bahasa melalui metode bercerita.
D. Perumusan masalah
Dari uraian diatas yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: Apakah metode bercerita dapat meningkatkan kemampuan bahasa artikel usia 5-6 tahun.
E. Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut:
Untuk mengetahui peningkatan kemampuan bahasa artikel di TK negeri pembina kecamatan kampar melalui metode bercerita.
F. Manfaat hasil penelitian
Penelitian ini dapat diharapkan agar memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis terhadap peningkatan kemampuan bahasa artikel melalui metode bercerita. Manfaatnya antara lain:
1. Dapat berguna sebagai pengetahuan ilmiah
2. Dapat dijadikan bahan masukan bagi guru dalam meningkatkan kinerjanya
3. Dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak
4. Menambah wawasan guru dalam proses pembelajaran
5. Menambah cakrawala dan wawasan yang luas bagi penulis
DESKRIPTIS TIORITIS
Pengertian perkembangan bahasa
Menurut Piaget (1997:180), perkembangan bahasa artikel TK masih bersifat egosentris, yaitu segala sesuatu yang berorientasi pada dirinya sendiri. Perkembangan bahasa artikel dipakai sebagai tolak ukur kecerdasannya dikemudian hari. Pada masa itu, artikel mengusai kemampuan bicara, tetapi mereka harus lebih banyak belajar sebelum mereka mencapai kemampuan berbahasa orang dewasa.
Perkembangan bahasa adalah pengasuhan yang memberikan stimulasi sensori motorik, sering bercerita, berdiskusi dengan anak, serta memberikan dorongan untuk mengungkapkan dirinya (Lazurdi 1991:9).
Bahasa sebagai fungsi dari komunikasi memungkinkan kedua individu atau lebih mengekspresikan berbagai ide, arti, perasaan, dan pengalaman. Menurut Badudu dalam Nurbiana (1989) menyatakan bahwa bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antara masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan, dan keinginannya.
Menurut Bromley dalam Nurbiana (1992:1-11) mendefinisikan bahasa sebagai sistem simbol yang teratur untuk mentransper berbagai ide maupun informasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun verbal. Simbol visual tersebut dapat dilihat, ditulis, dibaca sedangkan verbal dapat diucapkan dan didengar.































