Pada cara ini pengarang pun bebas menggambarkan cerita melalui tokohnya, hampir sama bebasnya dengan cara "a" (sudut pandangan bebas). Tapi kebebasan ini hanya berlaku pada penggambaran suasana nyata dan perbuatan fisik belaka, sedangkan jalan pikir, perasaan hati dan suasana batin sang tokoh tak dapat diketahui pengarang. Jadi, pengarang bertindak sebagai seorang juru kamera belaka, yang hanya mungkin merekam peristiwa nyata.
Cara ini sebenarnya sebagai kreatifitas pengarang dalam mematuhi tuntutan logika pembaca, yang mungkin berpendapat, tidaklah mungkin ada orang (pengarang) yang dapat membaca pikiran, perasaan dan batin orang lain. Untuk penggarambaran hal-hal yang bersifat abstrak ini, sang tokoh harus diperlakukan sedemikian rupa, sehingga dari perbuatan fisiknya itu, dapat dibaca suasana batinnya. Atau dengan perkataan lain, untuk menggambarkan pikiran, perasaan dan batin sang tokoh, harus dilakukan melalui suatu indikator, yakni tingkah laku dan perbutan yang ditampilkannya sebagai tokoh. Jadi disini karakter sangatlah dominan dan memegang peranan penting.
Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah petikan di bawah ini:
Sejak tadi, belum satu kalimat pun yang dapat diselesaikannya. Beberapa kali ia coba menulis, namun berakhir dengan sobekan yang diremas dan dicampakkannya ke keranjang sampah. Kopi di sudut meja telah dingin, pada hal tadi ia berteriak agar segera diantarkan. Asbak telah penuh dengan puntung rokok, yang dipadamkan sebelum terbakar separuhnya....
Dalam petikan di atas, sama sekali tidak diceritakan suasana batin sang tokoh. Yang digambarkan adalah perbuatannya belaka. Tapi dari perbuatan itu dapat diketahui, bahwa dia (sang tokoh) sedang resah oleh sesuatu yang memberati pikiran dan batinnya, sehingga berkali-kali ia gagal menulis, berkali-kali pula ia memasang dan mematikan rokok, sedangkan kopi yang tadi sangat diminatinya, yang digambarkan dari bagaimana ia memintanya, sampai terlupakan olehnya.
Cara ini sebenarnya sebagai kreatifitas pengarang dalam mematuhi tuntutan logika pembaca, yang mungkin berpendapat, tidaklah mungkin ada orang (pengarang) yang dapat membaca pikiran, perasaan dan batin orang lain. Untuk penggarambaran hal-hal yang bersifat abstrak ini, sang tokoh harus diperlakukan sedemikian rupa, sehingga dari perbuatan fisiknya itu, dapat dibaca suasana batinnya. Atau dengan perkataan lain, untuk menggambarkan pikiran, perasaan dan batin sang tokoh, harus dilakukan melalui suatu indikator, yakni tingkah laku dan perbutan yang ditampilkannya sebagai tokoh. Jadi disini karakter sangatlah dominan dan memegang peranan penting.
Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah petikan di bawah ini:
Sejak tadi, belum satu kalimat pun yang dapat diselesaikannya. Beberapa kali ia coba menulis, namun berakhir dengan sobekan yang diremas dan dicampakkannya ke keranjang sampah. Kopi di sudut meja telah dingin, pada hal tadi ia berteriak agar segera diantarkan. Asbak telah penuh dengan puntung rokok, yang dipadamkan sebelum terbakar separuhnya....
Dalam petikan di atas, sama sekali tidak diceritakan suasana batin sang tokoh. Yang digambarkan adalah perbuatannya belaka. Tapi dari perbuatan itu dapat diketahui, bahwa dia (sang tokoh) sedang resah oleh sesuatu yang memberati pikiran dan batinnya, sehingga berkali-kali ia gagal menulis, berkali-kali pula ia memasang dan mematikan rokok, sedangkan kopi yang tadi sangat diminatinya, yang digambarkan dari bagaimana ia memintanya, sampai terlupakan olehnya.































