Di sini pengarang menetapkan salah seorang tokohnya untuk terus dipantau dan diikuti ceritanya. Tapi tokoh ini bukan orang pertama (aku), melainkan orang ketiga (dia). Melalui tokoh "dia", pengarang bisa bercerita lebih bebas, tidak terikat dengan keterbatasan yang dialami tokoh "aku". Pengarang juga bisa menggambarkan karakter dan suasana kejiwaan si "dia", malah dapat memberikan komentar mengenai karakter dan suasana batin tokoh "dia" itu, yang tidak mungkin dilakukan dengan tokoh "aku".
Di sini cara berpikir tokoh "dia" tidak harus menentukan jalan cerita, namun semua cerita yang disajikan haruslah melalui tokoh ini. Jadi dapat dilihat, disamping ada kebebasan yang lebih luas, ada pula keterbatasan tertentu, bila dibandingkan dengna sudut pandangan bebas. Karena itu cara ini dapat dianggap sebagai gabungan antara cara "a" dengan cara "b" dan cara "b" pengarang mempunyai keterbatasan sebatas "akunya" saja, maka pada cara c ini pengarang bertindak sebagai peninjau. Cara ini cocok untuk menggambarkan cerita yang realitstis dan mementingkan penonjolan untuk tokoh tertentu. Tokoh yang ingin ditonjolkan inilah yang ditokohkan sebagai "si dia".
Di sini cara berpikir tokoh "dia" tidak harus menentukan jalan cerita, namun semua cerita yang disajikan haruslah melalui tokoh ini. Jadi dapat dilihat, disamping ada kebebasan yang lebih luas, ada pula keterbatasan tertentu, bila dibandingkan dengna sudut pandangan bebas. Karena itu cara ini dapat dianggap sebagai gabungan antara cara "a" dengan cara "b" dan cara "b" pengarang mempunyai keterbatasan sebatas "akunya" saja, maka pada cara c ini pengarang bertindak sebagai peninjau. Cara ini cocok untuk menggambarkan cerita yang realitstis dan mementingkan penonjolan untuk tokoh tertentu. Tokoh yang ingin ditonjolkan inilah yang ditokohkan sebagai "si dia".































