Dapatkan BACKLINK GRATIS dari beberapa website PR 6 dan PR 3. (Hanya sampai 31 Januari 2015)
























































































































































artikel of designed with the beautiful airplane prints
artikel of the top manufacturers of airplane crib bedding
artikel of the airplane crib bedding sets
artikel of the massive expense of helicopters
artikel of particularly rewarding as almost every RC airplane modeller
artikel of model airplane setup to offer a professional service
artikel of inexpensive disposable 35mm camera to the bottom of your model aeroplane
artikel of strapping some sort of camera to the model airplane
artikel of RC model airplane pilot
artikel of Electric power for your model airplane
artikel for the hobby of RC model airplane flying
artikel of aerial photography and video using your RC model airplane
artikel of professional aviation before returning to aeromodelling
artikel of the military when they were flying in the very airplane
artikel of be careful about with your model airplane

smartphone android iphone
smartphone android iphone
smartphone android iphone
self-improvement, family,
healthy, recipes, sport
smartphone android iphone
smartphone android iphone
computer, gadget, education
Business, Finance, Jobs
smartphone android iphone
smartphone android iphone
Cari Perbedaan
sejarah islam

7. Tokoh dan Perwatakan

Setiap cerita harus ada tokohnya, atau tak ada cerita tanpa tokoh. Tokoh adalah "alat" untuk membentuk peristiwa sebab-akibat dengan segala persoalannya, yang dijalin menjadi plot. Tokoh adalah "alat" pengarang dalam mengemukakan ide dan gagasan, menyampaikan pendapat dan pandangan. Melalui tokoh lah pembaca mengetahui bagaimana suatu persoalan dipandang, yang sesungguhnya merupakan pandangan dari pengarangnya sendiri, dan karenanya tokoh merupakan kacamata, dari mana dan bagaimana pengarang memandang suatu persoalan.

Mungkin contoh yang mudah dipahami adalah pada cerita yang disampaikan melalui wayang kulit. Melalui tokoh-tokohnya, misalnya Rahwana, yang merupakan boneka kulit belaka, Ki Dalang menggambarkan sifat anak manusia paling purba, yakni ambisi, keserakahan dan kezaliman. Melalui tokoh-tokoh ini pula (yang diwakili boneka kulit) , Ki Dalang membentuk peristiwa, menjalin kejadian sebab-akibat dengan seluruh permasalannya, menyampaikan ide dan pesan-pesan, dan melalui tokoh ini juga Ki Dalang mengambil kesimpulan dan membuat penyelesaian.

Umumnya yang ditampilkan sebagai tokoh adalah manusia. Hal ini disebabkan, karena semua persoalan yang dijalin menjadi cerita adalah persoalan manusia. Juga yang membacanya adalah manusia.

Namun sering juga ditampilkan ujud lain sebagai tokoh, misalnya binatang. Anda tentu masih ingat tentang tokoh binatang yang sangat populer di indonesia, yakni sang kancil. Dalam cerita "Kancil dengan Binatang Rimba" misalnya, semua tokohnya adalah binatang, seperti harimau, gajah, rusa, buaya dan sebagainya. Namun tokoh-tokoh binatang ini ditampilkan secara manusiawi, bisa berbicara, berpikir dan bertindak seperti manusia, namun dengan kondisi fisik yang tetap hewani (berwujud hewan). Untuk menyesuaikan dengan keperluan cerita, kadang-kadang ujud fisik binatang ini "dimanusiakan"sedikit, misalnya sang Kancil dibuat dapat memegang, padahal Anda tentu tahu bagaimana ujud "tangan" kancil. Anda juga tentu ingat tokoh-tokoh binatang dalam film kartun Amerika seperti Micky, si bebek Donald dan tokoh lainnya. Semua tokoh-tokoh binatang ini selalu dibuat manusiawi. Hal ini disebabkan, karena semua permasalahan yang membentuk cerita itu tetap permasalahan manusia, seperti cinta, cemburu, ambisi, kekuasaan, tertindas, mencari keadilan dan sebagainya, yang disampaikan oleh pengarang melalui tokoh binatang itu.

Ada berbagai alasan mengapa pengarang mempergunakan binatang sebagai tokohnya:

Alasan pertama adalah sebagai kreasi sang pengarang yang mungkin sudah jemu dengn tokoh manusia. Dengan mempergunakan tokoh binatang, terasa ada penyegaran dan kelucuan, terutama bagi anak-anak. Memanglah terasa lucu, bila sifat-sifat manusia dipasangkan kepada hewan dalam kondisi fisiknya yang tetap hewan, seperti kutipan kalimat dari cerita rakyat dengan judul "kambing dengan Ayam Jantan" yang disusun oleh pengarang buku ini sendiri, sebagai berikut:

Mendengar jawaban itu, ayam jantan tertawa terbahak-bahak, sampai beberapa helai bulunya berguguran.

Coba Anda bayangkan, bagimana seekor ayam jantan tertawa terbahak-bahak, sampai bulunya berguguran oleh goncangan tubuhnya. Bila Anda tidak tersenyum atau sekurang-kurangnya tidak merasa ada kelucuan , tentulah Anda seorang yang sama sekali tidak memiliki rasa humor. Lalu Anda bayangkan pula, bila yang ketawa itu bukan ayam, tapi manusia. Apa lucunya? (kecuali bila Anda bayangkan, bulu orang itu yang berguguran).

Alasan lainnya pemakaian tokoh binatang ini dalam cerita adalah untuk "penyamaran" atau "penyelubungan" tokoh yang sebenarnya. Tokoh yang sebenarnya manusia, untuk kepentingan keamanan, terutama kemanaan diri sang pengarang sendiri, harus diselubungi atau disamarkan sebagai binatang. Hal seperti ini terutama dijumpai dalam syair-syair Melayu Lama. Dalam cerita syair Nuri misalnya, pengarang ingin mengungkapkan kisah percintaan antara seorang bangsawan muda (ditokohkan sabagai burung Simbangan) dengan istri seorang pejabat tinggi istana (ditokohkan sebagai burung Nuri). Tentu saja pengarang tidak berani mengungkapkan percintaan yang terlarang ini secara terang-terangan, dan karenanya, sesuai dengan sifat kreatif seniman, sang pengarang tidaklah kehilangan akal: pergunakan saja tokoh burung. Demikianlah yang berlaku dengan syair-syair "Ikan Terubuk Berahikan Puyu-puyu dalam Lubuk", syair "Burung Pungguk", syair "Nyamuk dan Lalat", syair "Bunga Air Mawar", syair "Bayan Budiman" dan lain-lain. Tokoh hewan ini hanyalah tokoh simbolis belaka.

Sebenarnya pengambilan tokoh bisa siapa saja dan apa saja. Selain dari manusia dan hewan, bisa juga benda mati yang "dimanusiakan". Misalnya sebuah helm: Dengan sedih si helm bercerita pada temannya, sebuah panci usang tempat makan itik, bahwa ia telah pernah menyelamatkan nyawa tuannya ketika terjadi kecelakaan. Bila tidak karena perlindungannya, tentulah kepala tuannya itu sudah pecah. Tapi ketika tuannya membeli helm baru, dia diterlantarkan dalam gudang bersama-sama benda bekas lainnya. Akhirnya dijadikan tempat makanan itik, seperti juga panci usang  temannya bicara itu.

Di luar negeri, membuat cerita dengan tokoh hewan dan benda ini telah lama dikenal. Anderson misalnya, telah membuat banyak dongeng untuk cerita anak-anak dengan mempergunakan tokoh hewan dan benda ini. Ceritanya telah diterjemahkan dalam berpuluh-puluh bahasa dan digemari dimana-mana.

Dalam menampilkan tokoh, hendaknya Anda tetap berhati-hati. Jangan menghanyutkan diri dengan penyajian panjang lebar tentang model atau bentuknya, tapi ketengahkanlah dari keperluan dan makna kehadirannya. Memang penampilan bentuk lahiriah diperlukan, namun tetap dalam konteks keperluan cerita. Penggambaran fisik seorang wanita misalnya, katakanlah tentang kukunya yang dipanjangkan, dikuteks dan terawat rapi, hanya diperlukan utuk penggambaran seorang gadis kota, mungkin seorang mahasiswi, karyawati tingkat menengah atau gadis bar, untuk penggambaran kondisi kehidupannya dalam konteks peranannya sebagai wanita yang demikian itu. Tapi bila wanita yang ditampilkan itu seorang polwan (polisi wanita) misalnya, mungkin penampilannya sebagai tokoh bukan melalui kukunya yang terawat, tapi mungkin dari tubuhnya yang padat dan sintal dalam konteks keberadaanya sebagai seorang polwan.

Dalam cerpen "Kejantanan" (yang sinopsisnya sudah diterakan), misalnya penggambaran tokoh Natan dengan plot lelaki asing dengan otot lengan yang biasa saja, adalah untuk keperluan "kejutan" dari kemenangan tak terduga yang diperolehnya. Bila lelaki asing itu digambarkan dengan otot lengan yang lebih kekar dari yang dimiliki Natan, tentu kemenangannya tidak menjadi kejutan. Jadi sekali lagi, penggamaran fisik sang tokoh, yang bisa saja dengan detail pada bagian tertentu, haruslah tetap dalam konteks keberadaanya sebagai tokoh, yang melalui penggambaran itu sang tokoh diperkenalkan kepada pembaca. (Ingat tahap pengenalan dari plot).

Pada hakekatnya, tokoh adalah "alat" yang dipergunakan pengarang untuk menjalin jalan cerita (plot). Semua tokoh diberi peran sedemikian rupa dengan segala karakter (watak) yang dimilikinya. Dan dengan itu pula pengarang membuat peristiwa berikut unsur-unsur lainnya menjadi cerita. Jadi, sesungguhnya yang "diandalkan" pengarang dari seorang tokoh adalah wataknya, karekternya.

Dalam cerita pewayangan misalnya, semua tokoh diberi karakter khusus. Sering watak dari  tokoh ini ditampilkan melalui bentuk fisik. Misalnya tokoh penjahat digambarkan bertampang kriminil, tokoh yang baik dan jujur bertampang jernih dan lugu, orang yang berwatak keras digambarkan dengan wajah yang keras pula, si dungu dengan mulut setengah terbuka dan sebagainya. Walaupun dalam kenyataan sehari-hari hal ini tidak berlaku mutlak, karena ada penjahat berwajah Arjuna dan sebaliknya ada sang budiman berwajah kriminil, namun demikianlah yang selalu kita temukan dalam banyak karangan.

Cara penggambaran karakter yang lebih praktis tentu saja dengan penampilan bagaimana sang tokoh bersikap, bertingkah laku, dan berbuat. Dalam cerpen "kejantanan" misalnya, penggambaran watak orang asing sebagai orang yang sederhana dan rendah hati, digambarkan dengan pakaiannya yang cendrung lusuh dan mengambil tempat di sudut ruangan. Sedangkan penggambaran wataknya sebagai orang yang sabar dan baik hati dilakukan dengan sikapnya yang tidak emosi ketika dihina Natan, minuman yang dipesannya (yakni susu, bukan tuak), sedangkan wataknya yang tegas tergambar dari sikapnya yang tetap menuntut hasil taruhannya dari Natan. Disini kelihatan bahwa penggambaran watak (karakter) sang tokoh tidak dengan narasi, tapi dengan penggambaran sikap, tingkah laku dan perbuatan. Penampilan tokoh sebagai alat bercerita melalui wataknya ini dipergunakan dalam jenis cerita tertentu (yang akan diuraikan kemudian).

Pada cerita jenis lainnya lagi (juga akan diuraikan kemudian), penampilan tokoh sebagai "alat" lebih dominan melalui "suasana batin" sang tokoh. Yang "dipakai" dari sang tokoh adalah "suasana batinnya", seperti prinsip, pendapat, pandangan, rasa keadilan, pandangan tentang kebenaran dan sebagainya. Malalui "suasana batin" ini pengarang menyusun ceritanya. Dalam cerpen "Rusa Benggala", misalnya, suasana batin tokohnya (kakek Alang) berupa kebanggaan sebagai seorang pemburu ulung, merupakan bahan baku utama (ide dasar) yang dominan.

 








Copyright © 2010 by: www.IndexArticles.com

Proudly Powered by: Blogger
Designed by blogtemplate4u.com | Blogspot Tutorial