Pagi bulan september 1977. Aku berada di sebuah desa kecil di pedalaman Riau daratan. Desa itu bernama Rangau, sebuah desa pelabuhan sungai di kecamatan Tanah Putih, Daerah Tingkat II Kabupaten Bengkalis yang kini (2009) masuk Kabupaten Rokan Hilir.
Aku berada di sebuah lpau, menghadappi segelas kopi dengan sepiring ketan dan goreng udang galah. Di lepau itu masih ada beberapa orang lainnya yang sama-sama minum dan sarapan pagi.
Tiba-tiba seorang kakek masuk. Semua tanda-tanda ketuanya hampir sempurna, kecuali penampilannya yang kelihatan segar dan energik. Dia melayangkan pandangannya kepada setiap orang di lepau itu, dan ketika ia memandang kepadaku, aku tersenyum yang dibalasnya dengan mengankat tangan dan tersenyum lebar.
"Anak tentu baru datang dari Duri," tanyanya sambil mengambil tempat duduk.
"Memang aku dari Duri, tapi numpang lewat saja. Sebenarnya aku dari Dumai," jawabku singkat.
Kembali ia tersenyum. Lalu kepada orang lepau ia berkata: "Bawakan kopi-o, ketan dengan goreng limbat."
"Apa tidak dengan goreng udang galah, kek?" tanya orang lepau menawarkan.
"Tidak, sekarang aku sedang igat dengan udang. Mereka membuat kulitku jadi gatal-gatal."
Ketika kulihat si kakek meraba-raba sakunya mencari rokok, segera kusodorkan sebatang kretek, yang disambutnya dengan tersenyum. Kemudian dengan bangga ia berkata kepada orang di lepau itu: "kau lihat Joman. Dari semua orang yang ada di sini, hanya aku yang dapat hadiah rokok. Tahukah kau apa artinya?"
"Artinya kakek tidak punya rokok," jawab lelaki yang dipanggilnya dengan Joman.
"Ai, ai... jangan kau berkata seenaknya saja, Joman. Buruk-buruk begini, aku masih punya rokok. Artinya adalah, peratma, aku termasuk orang yang murah rezeki. Kedua, orang kota lebih tahu menghargai orang tua seperti aku ini."
"Ya, seratus untuk kakek..." ujar Joman sambil menyantap ketan di piringnya.
"He... he... he...." kakek ketawa senang.
Tiba-tiba seorang lelaki setengah baya masuk. Ia memesan minuman, lalu mengambil tempat di sebelahku, berhadapan dengan si kekek.
"Ada rusa benggala memasuki kebunku seminggu yang lalu. Sudah tiga hari aku mengintipnya dengan bedil, tapi binatang itu seperti tahu bahwa aku mengintipnya."
"Apa kau masih memakai cara orang dahulu berburu?" tanya kakek sambil memandang lelalki litu dengan andangan seirus.
"Cara orang dahulu...? Seperti apa cara berburu orang dahulu itu?"
Kulihat kakek ketawa geli, sehingga giginya yang sudah ompong dan lidahnya yang merah kelihiatan dengan jelas. Lalu dengan serius ia berkata: "Ternyata kau tidak tahu apa-apa tentang dunia perburuan, Alang. Kalau kau mau berburu, harus tahu ilmu berburu. Jangan sembarangan. Kalau tidak, mungkin bisa saja kau sendiri yang jadi korban, bedilmu bisa pecah bertebaran, dan kau bisa celaka."
"Ya, tapi beri tahulah aku ini...?"
Kembali kakek tertawa terkekeh-kekeh: "He... he... he.... itu yang namanya ilmu perburuan. Kau tidak dapat bertanya begitu saja, kau harus menuntutnya. Datanglah malam nanti ke rumahku...."
Kemudain kakek menceritakan pengalaman masa mudanya sebagai permburu ulung, sehingga aku hampir ketinggalan motorboat yang akan membawaku pagi itu ke ibu kota kecamatan.
Aku berada di sebuah lpau, menghadappi segelas kopi dengan sepiring ketan dan goreng udang galah. Di lepau itu masih ada beberapa orang lainnya yang sama-sama minum dan sarapan pagi.
Tiba-tiba seorang kakek masuk. Semua tanda-tanda ketuanya hampir sempurna, kecuali penampilannya yang kelihatan segar dan energik. Dia melayangkan pandangannya kepada setiap orang di lepau itu, dan ketika ia memandang kepadaku, aku tersenyum yang dibalasnya dengan mengankat tangan dan tersenyum lebar.
"Anak tentu baru datang dari Duri," tanyanya sambil mengambil tempat duduk.
"Memang aku dari Duri, tapi numpang lewat saja. Sebenarnya aku dari Dumai," jawabku singkat.
Kembali ia tersenyum. Lalu kepada orang lepau ia berkata: "Bawakan kopi-o, ketan dengan goreng limbat."
"Apa tidak dengan goreng udang galah, kek?" tanya orang lepau menawarkan.
"Tidak, sekarang aku sedang igat dengan udang. Mereka membuat kulitku jadi gatal-gatal."
Ketika kulihat si kakek meraba-raba sakunya mencari rokok, segera kusodorkan sebatang kretek, yang disambutnya dengan tersenyum. Kemudian dengan bangga ia berkata kepada orang di lepau itu: "kau lihat Joman. Dari semua orang yang ada di sini, hanya aku yang dapat hadiah rokok. Tahukah kau apa artinya?"
"Artinya kakek tidak punya rokok," jawab lelaki yang dipanggilnya dengan Joman.
"Ai, ai... jangan kau berkata seenaknya saja, Joman. Buruk-buruk begini, aku masih punya rokok. Artinya adalah, peratma, aku termasuk orang yang murah rezeki. Kedua, orang kota lebih tahu menghargai orang tua seperti aku ini."
"Ya, seratus untuk kakek..." ujar Joman sambil menyantap ketan di piringnya.
"He... he... he...." kakek ketawa senang.
Tiba-tiba seorang lelaki setengah baya masuk. Ia memesan minuman, lalu mengambil tempat di sebelahku, berhadapan dengan si kekek.
"Ada rusa benggala memasuki kebunku seminggu yang lalu. Sudah tiga hari aku mengintipnya dengan bedil, tapi binatang itu seperti tahu bahwa aku mengintipnya."
"Apa kau masih memakai cara orang dahulu berburu?" tanya kakek sambil memandang lelalki litu dengan andangan seirus.
"Cara orang dahulu...? Seperti apa cara berburu orang dahulu itu?"
Kulihat kakek ketawa geli, sehingga giginya yang sudah ompong dan lidahnya yang merah kelihiatan dengan jelas. Lalu dengan serius ia berkata: "Ternyata kau tidak tahu apa-apa tentang dunia perburuan, Alang. Kalau kau mau berburu, harus tahu ilmu berburu. Jangan sembarangan. Kalau tidak, mungkin bisa saja kau sendiri yang jadi korban, bedilmu bisa pecah bertebaran, dan kau bisa celaka."
"Ya, tapi beri tahulah aku ini...?"
Kembali kakek tertawa terkekeh-kekeh: "He... he... he.... itu yang namanya ilmu perburuan. Kau tidak dapat bertanya begitu saja, kau harus menuntutnya. Datanglah malam nanti ke rumahku...."
Kemudain kakek menceritakan pengalaman masa mudanya sebagai permburu ulung, sehingga aku hampir ketinggalan motorboat yang akan membawaku pagi itu ke ibu kota kecamatan.































