2). Cerita Pendek
Cerita pendek (cerpen) adalah jenis karya fiksi yang memang lebih pendek jika dibandingkan dengan novel. Namun identitasnya sebagai salah satu bentuk khusus yakni cerpen, lebih dititik-beratkan dari cirinya yang membatasi objek cerita pada aspek yang terkecil. Karena pembatasan yang demikian itu, permasalahan yang disajikan tampak lebih jelas dan tajam.
Karena objek ceritanya dibatasi, maka unsur lainnya dari cerita seperti tokoh, peristiwa, lokasi tempat, lokasi waktu dan suasana, juga ikut terbatas. Tokohnya juga ada dua saja, namun ditampilkan secara gamblang dengan perwatakan yang jelas dan kuat, hingga sangat mengesankan. Demikian juga peristiwanya terbatas hanya pada satu kejadian, namun permasalahannya sangatlah jelas dan menarik. Lokasi tempat juga tidak banyak, sedangkan lokasi waktu biasanya tidak memakan tempo yang sama, misalnya hanya dalam beberapa minggu atau beberapa hari, malah bisa hanya beberapa jam belaka. Suasanya juga tidak bervariasi, acap kali berlangsung dalam satu suasana saja. Keterbatasan ini menyebabkan semuanya tamapil dengan kuat, jelas dan tajam. Karena itu pula, kesan yang ditimbulkannya bisa lebih lama dan dalam.
Namun sesungguhnya, menulis cerpen mempunyai seni lebih sulit dari menulis novel. Semuanya harus melalui pertimbangan yang tepat dan jitu. Kata-kata dan kalimat yang diturunkan harus selektif, dipilih dengan cermat, sehingga dengan uraian atau kalimat singkat saja dapat mengungkapkan pengertian yang jelas, ringkas namun indah dan mantap.
Dengan perkatan lain, pengarang haruslah "hemat atau ekonomis" dalam penggunaan kata. Prinsip "hemat" ini juga berlaku terhadap unsur lainnya. Kepandaian memiliih dan menempatkan unsur-unsur ini dalam kondisinya yang terbatas inilah yang merupakan seni khusus dalam membuat cerpen. Penggambaran watak seseorang yang bodoh agama dan "sangat hemat" misalnya, dapat saja dilakukakn dengan beberapa kalimat essei, tetapi ini bukanlah cara yang tepat untuk cerpen. Mungkin dengan memperlihatkan, bagaimana dia menyimpan puntung rokoknya yang masih panjang sebelum makan, kemudian mengisapnya kembali sesudah makan akan tapak lebih tajam dalam menggambarkan watak hemat dan bodoh akan haramnya rokok yang sudah mendekati kikir dari seorang tokoh.
Istilah "pendek" pada cerpen tidaklah sepenuhnya, karena bentuknya yang lebih pendek itu, misalnya jika dibandingkan dengan novel. Memang faktor ini ada juga, tapi yang merupakan ciri utamanya pembatasan masalah pada aspek yang terkecil itu. Ini terbukti, ada juga cerita pendek yagn ditulis agak panjang, sehingga hampir mendekati novelet. Tetapi karena sifat keterbatasan objek tersebut, cerita ini tetap tergolong sebagai cerpen, yakni "cerita pendek yang panjang" (long story). Sebaliknya, ada juga "cerita pendek yang pendek" (short short strory) karena selain dari pembatasan objek pada aspek terkecil, memang isinya singkat (pendek).
Terlepas dari ciri khusus yang membedakan cerpen dengan novel (yang telah diuraikan) maka jenis-jenis cerpen hampir sama dengan jenis-jenis seperti yang terdapat pada novel, dengan tambahan dua jenis lagi, yakni:
- Cerpen Suasana: yakni cerpen yang penyajiannya dilakukan melalui suasana cerita, umumnya suasana batin. Suasana ini sedemikian dominan mewarnai ceritanya, sehingga dengan mengabaikan hal ini, cerpen jenis ini akan kehilangan artinya. Hal ini hanya dapat dilakukan dalam cerpen karena suasana cerita biasanya hanya satu saja dan karenanya mudah dipertajam, sedangkan dalam novel, karena ceritanya panjang, suasananya jadi mejemuk dan beragam.
- Cerpen Setting: yakni cerpen yang ceritanya disajikan dengan penonjolan lokasi, sehingga pembaca seolah-olah ikut berada di tempat terjadinya cerita, karena digambarkan dengan jelas dan kuat. Demikian juga apabila yang dimaksud lokasi adalah lokasi waktu, maka pembaca seolah-olah berada di masa terjadinya cerita, walaupun itu seribu tahun yang lalu, misalnya masa kerajaan Sriwijaya.
Copyright © 2009 http://www.indexarticles.com/
Cerita pendek (cerpen) adalah jenis karya fiksi yang memang lebih pendek jika dibandingkan dengan novel. Namun identitasnya sebagai salah satu bentuk khusus yakni cerpen, lebih dititik-beratkan dari cirinya yang membatasi objek cerita pada aspek yang terkecil. Karena pembatasan yang demikian itu, permasalahan yang disajikan tampak lebih jelas dan tajam.
Karena objek ceritanya dibatasi, maka unsur lainnya dari cerita seperti tokoh, peristiwa, lokasi tempat, lokasi waktu dan suasana, juga ikut terbatas. Tokohnya juga ada dua saja, namun ditampilkan secara gamblang dengan perwatakan yang jelas dan kuat, hingga sangat mengesankan. Demikian juga peristiwanya terbatas hanya pada satu kejadian, namun permasalahannya sangatlah jelas dan menarik. Lokasi tempat juga tidak banyak, sedangkan lokasi waktu biasanya tidak memakan tempo yang sama, misalnya hanya dalam beberapa minggu atau beberapa hari, malah bisa hanya beberapa jam belaka. Suasanya juga tidak bervariasi, acap kali berlangsung dalam satu suasana saja. Keterbatasan ini menyebabkan semuanya tamapil dengan kuat, jelas dan tajam. Karena itu pula, kesan yang ditimbulkannya bisa lebih lama dan dalam.
Namun sesungguhnya, menulis cerpen mempunyai seni lebih sulit dari menulis novel. Semuanya harus melalui pertimbangan yang tepat dan jitu. Kata-kata dan kalimat yang diturunkan harus selektif, dipilih dengan cermat, sehingga dengan uraian atau kalimat singkat saja dapat mengungkapkan pengertian yang jelas, ringkas namun indah dan mantap.
Dengan perkatan lain, pengarang haruslah "hemat atau ekonomis" dalam penggunaan kata. Prinsip "hemat" ini juga berlaku terhadap unsur lainnya. Kepandaian memiliih dan menempatkan unsur-unsur ini dalam kondisinya yang terbatas inilah yang merupakan seni khusus dalam membuat cerpen. Penggambaran watak seseorang yang bodoh agama dan "sangat hemat" misalnya, dapat saja dilakukakn dengan beberapa kalimat essei, tetapi ini bukanlah cara yang tepat untuk cerpen. Mungkin dengan memperlihatkan, bagaimana dia menyimpan puntung rokoknya yang masih panjang sebelum makan, kemudian mengisapnya kembali sesudah makan akan tapak lebih tajam dalam menggambarkan watak hemat dan bodoh akan haramnya rokok yang sudah mendekati kikir dari seorang tokoh.
Istilah "pendek" pada cerpen tidaklah sepenuhnya, karena bentuknya yang lebih pendek itu, misalnya jika dibandingkan dengan novel. Memang faktor ini ada juga, tapi yang merupakan ciri utamanya pembatasan masalah pada aspek yang terkecil itu. Ini terbukti, ada juga cerita pendek yagn ditulis agak panjang, sehingga hampir mendekati novelet. Tetapi karena sifat keterbatasan objek tersebut, cerita ini tetap tergolong sebagai cerpen, yakni "cerita pendek yang panjang" (long story). Sebaliknya, ada juga "cerita pendek yang pendek" (short short strory) karena selain dari pembatasan objek pada aspek terkecil, memang isinya singkat (pendek).
Terlepas dari ciri khusus yang membedakan cerpen dengan novel (yang telah diuraikan) maka jenis-jenis cerpen hampir sama dengan jenis-jenis seperti yang terdapat pada novel, dengan tambahan dua jenis lagi, yakni:
- Cerpen Suasana: yakni cerpen yang penyajiannya dilakukan melalui suasana cerita, umumnya suasana batin. Suasana ini sedemikian dominan mewarnai ceritanya, sehingga dengan mengabaikan hal ini, cerpen jenis ini akan kehilangan artinya. Hal ini hanya dapat dilakukan dalam cerpen karena suasana cerita biasanya hanya satu saja dan karenanya mudah dipertajam, sedangkan dalam novel, karena ceritanya panjang, suasananya jadi mejemuk dan beragam.
- Cerpen Setting: yakni cerpen yang ceritanya disajikan dengan penonjolan lokasi, sehingga pembaca seolah-olah ikut berada di tempat terjadinya cerita, karena digambarkan dengan jelas dan kuat. Demikian juga apabila yang dimaksud lokasi adalah lokasi waktu, maka pembaca seolah-olah berada di masa terjadinya cerita, walaupun itu seribu tahun yang lalu, misalnya masa kerajaan Sriwijaya.
Copyright © 2009 http://www.indexarticles.com/































