Dapatkan BACKLINK GRATIS dari beberapa website PR 6 dan PR 3. (Hanya sampai 31 Januari 2015)
























































































































































artikel of designed with the beautiful airplane prints
artikel of the top manufacturers of airplane crib bedding
artikel of the airplane crib bedding sets
artikel of the massive expense of helicopters
artikel of particularly rewarding as almost every RC airplane modeller
artikel of model airplane setup to offer a professional service
artikel of inexpensive disposable 35mm camera to the bottom of your model aeroplane
artikel of strapping some sort of camera to the model airplane
artikel of RC model airplane pilot
artikel of Electric power for your model airplane
artikel for the hobby of RC model airplane flying
artikel of aerial photography and video using your RC model airplane
artikel of professional aviation before returning to aeromodelling
artikel of the military when they were flying in the very airplane
artikel of be careful about with your model airplane

smartphone android iphone
smartphone android iphone
smartphone android iphone
self-improvement, family,
healthy, recipes, sport
smartphone android iphone
smartphone android iphone
computer, gadget, education
Business, Finance, Jobs
smartphone android iphone
smartphone android iphone
Cari Perbedaan
sejarah islam

14. Mengenal Bentuk Karya Fiksi

1). Roman dan Novel.

Semula bentuk karya fiksi roman dan novel sama saja. Keduanya mempunyai bentuk yang sama dengan ciri-ciri yang sama pula. Hanya istilahnya saja yang berlainan.

Istilah roman berasal dari daratan Eropa, khususnya Perancis dan Belanda. Ada yang berpendapat, bahwa istilah roman dipakai karena cerita seperti itu berasal dari cerita-cerita Romawi (Italy), namun ada pula berpendapat, bahwa istilah roman dipergunakan, karena cerita bentuk ini selalu menyajikan kisah percintaan yang romantis.

Bagi kita, tentang asal-usul istilah itu tak perlu diperdebatkan. Yang penting, roman merupakan suatu istilah untuk benrtuk prosa tertentu, yang sangat banyak ditulis oleh pengarang-pengarang kita pada masa sebelum Perang Dunia II.

Memang pada masa itu, di daratan Eropa sedang suburnya cerita roman ditulis. Pengaruhnya memasuki Indonesia melalui bahasa Belanda, kemudian bentuk prosa ini ditulis oleh pengarang-pengarang Indonesia dengan cerita yang terjadi di Indonesia. Demikianlah hampir semua prosa Balai Pustaka termasuk jenis roman ini.

Secara umum, roman merupakan bentuk prosa yang menceritakan kehiduan tokoh-tokohnya mulai dari kecil sampai dewasa dan sering juga sampai mati. Jalinan ceritanya tak pernah lepas dari jalinan cinta. Memang bisa juga tema lain ditampilkan, namun kisah percintaaan tetap ambil bagian dalam membangun jalan ceritanya.

Setelah Perang Dunia II, pengaruh prosa Belanda di Indonesia mulai mundur. Mungkin pengalaman yang pahit selama revolusi menegakkan kemerdekaan, membawa pengaruh kepada sikap orang tentang segala sesuatu yang berasal dari Belanda. Sejalan dengan itu, orang yang bisa berbahasa Belanda kian menyusut, digantikan oleh bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah umum dari SLTP hingga ke Perguruan Tinggi.

Prosa yang berasal dari Inggris dan Amerika pun mulai banyak dibaca orang, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Isitilah roman pun sudah jarang terdengar, digantikan oleh istilah novel sebagai istilah yang lazim dipakai oleh Inggris dan Amerika untuk bentuk prosa yang sama yang semula disebut roman.

Namun prosa-prosa Balai Pustaka, yang ditulis pada masa sebelum Perang Dunia II masih tetap populer dan dibaca orang. Banyak diantaranya merupakan bacaan wajib pada mata pelajaran sastra dari SLTP hingga ke Perguruan Tinggi. Karena sejak semula istilah untuk prosa terbitan Balai Pustaka itu adalah roman, maka untuk beberapa lama, kedua istilah itu (roman dan novel) dipakai bersamaan.

Tetapi kemudian, masing-masing istilah itu mendapat tempat dan pengertian khusus: istilah roman dipergunakan untuk bentuk prosa yang ceritanya dimulai sejak kecil, dewasa, bercinta, sampai tokoh cerita menerima penyelesaian terakhir, bisa happy ending bisa juga mati. Istilah novel dipergunakan untuk bentuk prosa yang kejadiannya hanya pada masa tertentu saja dalam kehidupan tokohnya, misalnya pada masa remaja menjelang perkawinan, pada masa tua menjelang uzur dan sebagainya. Peristiwanya pun dibatasi sejalan dengan masa yang terpakai oleh tokohnya.

Perlu diketahui, bahwa di luar negeri, perbedaan seperti di atas tidak dikenal. Yang ada hanyalah anggapan bahwa para penulis prosa masa kini cendrung untuk membatasi peristiwa yang dijadikan cerita pada hal-hal tertentu saja dari kehidupan menusia pelakunya, agar persoalan dapat dilihat lebih tajam.

Ciri-Ciri Roman dan Novel
Selain dari perbedaan yang telah dikemukakan antara roman dan novel, maka ciri-ciri keduanya adalah sama. (Dalam uraian selanjutnya dipergunakan istilah novel saja). Adapun ciri-ciri novel adalah:

Plot (alur cerita):
Novel dapat mempunyai banyak plot, namun dari semua plot itu ada plot pokok yang merentang di sepanjang cerita, sedangkan plot lainnya merupakan bagian-bagian kecil yang melengkapi plot pokok. Ibarat sebuah sungai, plot pokok adalah induk sungai, sedangkan plot lainnya adalah cabang atau anak-anak sungai yang berfungsi mengisi dan memperkuat induk sungai. Karena jalinan cerita dalam novel panjang, maka tanpa anak plot ini, maka cerita akan terasa kurang bervariasi.

Tema:
Demikian juga dengan tema. Ada tema pokok yang mewarnai seluruh cerita dan ada sub tema yang merupakan tema pada baigan tertentu dari cerita. Namun sub tema ini haruslah sejalan dengan tema pokok, malah berfungsi memperkuat tema pokok itu. Jadi jelas, bahwa sub tema tidak boleh terlepas dari tema pokok, apa lagi bertentangan.

Karakter dan Tokoh:

Pada novel memang sering terdapat hanya satu tokoh utama, demikian juga dengan tokoh tandingan. Namun dapat pula ditampilkan dua atau tiga tokoh utama dan tokoh tandingan. Bila tokoh utamanya lebih dari satu, misalnya dua, maka tokoh ini sering diberi peran yang saling memperkuat cerita, walaupun kadang-kadang watak keduanya tidak sama. Mereka ditampilkan seimbang, namun saling isi mengisi. Pada peristiwa tertentu, tokoh utama yang satu dapat lebih menonjol, tapi pada peristiwa lain tokoh utama yang  satu lagi lebih berperan. Dalam "Tenggelamnya Kapal Van Derwijk" misalnya, sukar untuk menentukan, apakah tokoh utamanya Zainuddin atau Hayati. Di sini yang menjadi tokoh utamanya adalah kedua mereka itu (Zainuddin dan Hayati), karena tokoh tandingan jelas bukan salah satu dari mereka. Demikian juga dalam kisah pengembaraan Karl May, sukar untuk menentukan apakah tokoh utamanya Winnetow atau Old Shatterhand.

Selain dari itu, dalam novel dapat melibatkan lebih banyak tokoh tandingan yang tampil dengan berbagai karakter yang membangun anak plot, sedangkan tokoh penyerta dapat ditampilkan tiada terbatas, sebanyak keperluan cerita.

Jenis Novel:
Sejalan dengan kreatifitas para pengarang dalam membuat karya fiksi (novel), terdapat banyak orientasi, penonjolan dan cara penyajian. Hal ini telah melahirkan hasil karya dalam bentuk novel dengan berbagai jenis, antara lain:

a. Novel Plot atau Novel Peristiwa.
Pada jenis ini, plot (alur cerita) mendapat perhatian penting bagi pengarang. Alur ceita benar-benar dipertimbangkan, agar menghasilkan suatu cerita yang baik dan mengesankan. Dapat dikatakan, bahwa alur ceritalah andalan utama pengarang dalam menyajikan cerita. Karena itu sering dikatakan, bahwa novel jenis ini berorientasi kepada peristiwa.

Di Indonesia, novel jenis ini sangat banyak. Beberapa diantaranya (cukup tiga saja) adalah "Kalau Tak Untung" (Selasih Silaguri), "Surapati" (Abdul Muis) dan "Percobaan Setia" (Soeman Hs.).

b. Novel Karakter
Dalam novel jenis ini, cerita dijalin dengan penonjolan watak  (karakter) pelakunya. Di sini akan jelas kelihatan, bahwa watak pelakunya inilah yang dipakai sebagai alat untuk menimbulkan kejadian sebab akibat hingga terjadinya peristiwa yang membangun cerita.

Pada novel "Atheis" (Achdiat Kartamihardja) misalnya, watak tokoh Hasan yang lemah imannya karena dasar keagamaan yang kurang mendalam, yang membuatnya terombang-ambing dan meragukan kepercayaan yang dianutnya selama ini setelah ia bergaul dan dipengaruhi oleh Anwar yang atheis, dipergunakan oleh Achdiat dalam membangun cerita ini. Dalam novel "Pancang Jermal" (oleh penulis buku ini sendiri), watak tokoh Jalak yang ambisi, keras dan jahat telah menimbulkan peristiwa beruntun yang membangun cerita.

Tiga contoh lainnya adalah "Belenggu" (Armijn Pane), "Jalan Tak Ada Ujung" (Mochtar Lubis) dan "Robert Anak Surapati" (Abdul Muis).

c. Novel Tematis
Pada bentuk ini, tema merupakan andalan pengarang dalam menyusun plot. Jalinan cerita digiring dalam rel tema, dan tak boleh menyimpang dari sana.

Tema yang dapat dijadikan cerita memang sangat banyak dan bervariasi. Karena itu, novel jenis tematis ini juga sangat banyak dan bervariasi seperti tema politik, agama, adat-istiadat, pendidikan, percintaan dan sebagainya.

Pembagian di atas adalah dalam garis besarnya saja dan tidak mempunyai garis pemisah yang tegas (hitam-putih). Bisa saja novel dari satu jenis tertentu, juga mempunyai ciri-cri jenis lainnya. Pada novel "Surapati" misalnya, ciri-ciri sebagai novel peristiwa dan novel watak kelihatan hampir sama kuatnya.

Selain dari pembagian menurut jenis seperti di atas, ada juga pembagian yang didasarkan atas polanya, yakni pola umum yang berkembang sejalan dengan kreatifitas pengarang.
Pembagian menurut pola ini adalah:

a. Novel Remaja
Novel ini mengetengahkan permasalahan di sekitar kehidupan kaula muda (remaja) masa kini, dengan lokasi waktu sekitar usia SLTA hingga ke Perguruan Tinggi. Cerita yang ditonjolkan selalu kisah percintaan remaja masa kini, yang tentu sudah sangat berbeda dengan masa "Siti Nurbaya". Pengarangnya juga kebanyakan penulis remaja. Hal yang menonjol dari novel jenis ini adalah dalam hal penggunaan bahasa yang selalu mempergunakan bahasa dealek (terutama dealek Jakarta atau Betawi) malah juga bahasa "prokem", yang dipergunakan oleh tokoh-tokohnya. Judulnya juga mencerminkan citra remaja. Contoh dari novel jenis ini adalah "Lupus, Kejarlah Daku Kau Kujitak" (Hilman), "Cinta-cinta Remaja" (Santai), dan "Liku-Liku Cinta" (Yulis).

b. Novel Misteri dan Horor
Novel ini menyajikan cerita dengan latar belakang kejadian-kejadian misteri dan karenanya suasana cerita selalu menyeramkan. Peristiwa misteri ini sering disejalankan dengan kepercayaan kepada tahyul dan bentuk kesyirikan lainnya seperti hantu dalam berbagai jenis, siluman, roh jahat, perdukunan dan sihir. Peristiwanya selalu dihubungkan dengan alam gaib, yang "ikut campur" dalam kehidupan nyata tokoh cerita, dan dari sini terciptalah kejadian-kejadian sebab akibat yang membangun cerita. Penulis produktif dari jenis novel ini adalah Abdullah Harahap.

c. Novel Western.
Novel Western yang terdapat di Indonesia, umumnya terjemahan dari novel negara Paman Sam atau Amerika. Ceritanya berkisar di sekitar kehidupan para cowboy di Amerika dari abad lalu yang penuh dengan petualangan, kekerasan, ketabahan, kejahatan, kejantanan, tapi juga kejujuran, sikap satria dan suka menolong. Di sini akan selalu dijumpai pencurian ternak, serangan Indian, perampokan kereta api, pertempuran dengan bandit dan perbuatan gagah perkasa dari seorang tokoh. Contoh dari jenis ini adalah "The Shooting of Storey James" (John Clifford) dan "Powdersmoke Feud" (William Macleod Raine), keduanya belum diterjemahkan.

d. Novel Silat.
Jenis ini berasal dari cerita silat Cina yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Kisahnya juga mengambil lokasi di Negeri Cina berikut etnis yang berlaku di negeri itu. Suatu ciri yang menonjol adalah orientasinya pada apa yang disebut sebagai "dunia persilatan", dimana dua perguruaan silat dari aliran yang berbeda terlibat permusuhan "bebuyutan" hingga berlarut-larut sampai ke-anak cucu, hingga novel jenis ini bisa mencapai puluhan jilid sebelum ditamatkan. Penulis yang cukup terkenal dan produktif dalam novel jenis ini adalah Kho Ping Hoo yang kadang-kadang memakai nama Asmaraman.

Kemudian kisah di dunia persilatan ini dibuat dalam versi Indonesia dengan tokoh-tokoh dan etnis Indonesia, misalnya novel seri Pertarungan Para Ksatria yang terdiri dari 5 (lima) seri, karya Arman Arroisi.

Perlu juga dijelaskan di sini, bahwa Cerita Bersambung (Cerbung) adalah salah satu dari jenis novel yang telah diuraikan di atas,  yang dimuat secara bersambung di majalah atau koran, dan karenanya bukan merupakan jenis tersendiri.

Copyright © 2009 http://www.indexarticles.com/

 








Copyright © 2010 by: www.IndexArticles.com

Proudly Powered by: Blogger
Designed by blogtemplate4u.com | Blogspot Tutorial