Baku Petunjuk untuk Penerbit Artikel
Pada artikel yang harus dicetak-ulang, kadangkala diperlukan penyisipan catatan kaki baru. Dalam keadaan demikian, sedapat mungkin dihindari keharusan pengesetan tambahan dalam urutan penomoran catatan. Caranya ialah dengan jalan memasukkan kalimat-kalimat yang baru itu ke dalam catatan yang sudah ada, atau menggabungkan dua catatan menjadi satu, atau cara apa pun, asalkan penomorannya tetap tidak berubah. Namun apabila sudah tidak mungkin lagi cara-cara tersebut dilakukan, masih boleh menggunakan cara sub penomoran, seperti nomor 10-a untuk ditempatkan di antara nomor 10 dan nomor 11. Tetapi penyisipan semacam itu sebaiknya pada artikel baru dihindari, untuk bukti pembedaan antara artikel baru dan artikel cetak-ulang.
Lokasi dan Angka-Superior dan simbol dilihat dari kepraktisannya, angka-superior atau simbol (baik untuk catatan-kaki maupun untuk catatan-akhir) harus ditempatkan di akhir sesuatu kalimat pada artikel, dan tidak pada akhir sesuatu kata yang bersangkutan. Tanda penunjukan harus selalu ditempatkan sesudah tanda titik untuk kalimat penuh yang sudah selesai, sedangkan apabila tanda penunjukan harus berada di tengah-tengah kalimat, maka penempatannya harus dilakukan sebelum sesuatu tanda penitikan.
Catatan-kaki untuk tabel harus ditempatkan langsung di bawah tabel yang bersangkutan menggunakan huruf-huruf petunjuk (a), (b), (c), yaitu untuk menghindari pencampur-bauran dengan angka penunjuk yang sudah ada di dalam teks. Ada beberapa kesepakatan mengenai cara pengesetan dari rujukan untuk artikel, untuk karangan yang belum diterbitkan. Bentuk susunan dan redaksi rujukan pertama berbeda dengan rujukan-rujukan berikutnya.
Aturan penyusunan rujukan pertama untuk artikel agak berbeda dengan aturan yang berlaku untuk artikel. Untuk elemen-elemen serta penataannya adalah seperti berikut: nama-awal dan nama akhir dari pengarang, judul artikel, tempat dan tahun diterbitkan, dan halaman atau bab dimana rujukan terdapat dalam artikel sumbernya. Sebutkan dulu nama-awal, kemudian nama-akhir pengarang, dengan menggunakan huruf roman: kapital dan huruf kecil, langsung disusul sebuah koma, seperti: Ali Sastrodimejo, John Dunmore Lang, (Perhatikan: urutannya berbeda dengan urutan pada penyusunan bibliografi, dimana nama-akhir disebutkan terlebih dulu).
Bilamana penyunting ingin disebutkan, maka bentuknya adalah: A.P, Martin (ed.). Apabila terdapat dua orang penyunting, penempatan urutan namanya harus serupa sebagaimana penempatannya di halaman judul artikel (tidak perlu menurut abjad). Caranya menggunakan tanda (&): Slamet Puradireja & Suharno Syamsuddin, atau Achmad Junaidi & Sigit Lubis (edd.).
Kutiplah judul artikel sebagaimana adanya di halaman judul, dan tidak sebagaimana tertera di punggung artikel atau punggung jaket, serta harus diset dengan huruf kursif.
Kalau judulnya berbahasa asing, maka terjemahan judul di dalam bahasa Indonesia langsung ditempatkan sesudahnya menggunakan tanda kurung siku, sedangkan hurufnya adalah huruf roman: Mam and Music [Manusia dan Musik]. Dalam rujukan biasanya tidak disebutkan sub-judulnya, juga tidak judul serinya, berbeda dengan cara penyusunan untuk bibliografi. Antara tempat (kota) dan tahun penerbitan harus dibubuhi koma, hurufnya roman, ditempatkan di antara kurung biasa dan segera disusul koma: (Jakarta, 1976), (Cambridge, Mass., 1943).
Dalam rujukan tidak dipersyaratkan penyebutan nama penerbit (berbeda dengan cara untuk bibliografi), tetapi kalau nama penerbit juga disebutkan, maka bentuknya menjadi seperti berikut: (Djambatan, Jakarta, 1956), (Kyle & Robertson, Sydney, 1944). Kalau edisi yang bersangkutan merupakan edisi kemudian, penjelasannya harus juga disertakan dan diletakkan dalam tanda kurung: (edisi ke-tiga, Jakarta, 1967). Kalau artikel, selain ada nama pengarangnya, juga mempunyai penyunting atau penerjemah, maka bentuk penjelasannya adalah: (ed. Iwan Sumantoro, Jakarta, 1968), (terjemahan Moh, Thamrin, Surabaya, 1964). Rujukan terhadap elemen-elemen dalam artikel: halaman 64 halaman 75-9 halaman 7583 Bagian keempat Bagian ke-IV Bab 16 Bab XVI Jilid III, halaman 24. atau III, 24. atau jilid 3, halaman 24.
Perhatikan: untuk tiap kependekan selalu digunakan huruf roman. Bagaimana pun bentuk rujukannya, tiap rujukan harus selalu diakhiri dengan tanda titik. Berikut adalah beberapa contoh referensi pertama untuk artikel: Tony Yamin, Pendapatan Ratawata di India (Sydney, 1895), halaman 193. William Moore, The Story of Australian All (Melbourne, 1949). pp. 110-18.
Rujukan untuk Artikel
Rujukan terhadap artikel yang berasal dari majalah berkala, suratkabar, artikel kumpulan, simposium, antologi, ensiklopedi, rujukan, terdiri dari elemen-elemen berikut serta ditataletakkan menurut urutan seperti di bawah ini: nama-awal dan nama-akhir pengarang; A judul; nama majalah, surat kabar; nomor dan tahun (pada majalah); tanggal diterbitkan (pada surat kabar); tempat dan tanggal terbit (pada artikel); nomor halaman atau judul-babnya.
Aturan penitikan dan pengesetannya:
(a) Sebutkan nama-awal dan nama-akhir pengarang menggunakan huruf kapital dan huruf kecil, disusul koma. Kalau terdapat dua pengarang atau lebih, nama-namanya dirangkaikan dengan menggunakan tanda (&),
(b) Untuk judul artikel digunakan huruf roman di antara tanda kutip tunggal, terus disusul koma: Perjalanan ke Ruang Angkasa,
(c) Untuk artikel dalam majalah, nama majalah diset dengan huruf kursif, disusul nomor majalah dengan angka romawi huruf-kecil, tahun diterbitkan dalam kurung, disusul koma, nomor halaman dan tanda titik. Bila majalahnya bernomorkan nomor arab, susunan rujukannya menjadi seperti berikut: Vana Bam 36 (1956), halaman 27-45 (Perhatikan: Bentuk referensi seperti di atas tidak menyebutkan kata-kata: jilid, nomor, bagian).
(d) Untuk artikel dari surat kabar, nama surat kabarnya diset kursif disusul dengan koma, tanggal terbit dan nomor halaman: Sinar Harapan, 8 September 1979, halaman 12.
Pada artikel yang harus dicetak-ulang, kadangkala diperlukan penyisipan catatan kaki baru. Dalam keadaan demikian, sedapat mungkin dihindari keharusan pengesetan tambahan dalam urutan penomoran catatan. Caranya ialah dengan jalan memasukkan kalimat-kalimat yang baru itu ke dalam catatan yang sudah ada, atau menggabungkan dua catatan menjadi satu, atau cara apa pun, asalkan penomorannya tetap tidak berubah. Namun apabila sudah tidak mungkin lagi cara-cara tersebut dilakukan, masih boleh menggunakan cara sub penomoran, seperti nomor 10-a untuk ditempatkan di antara nomor 10 dan nomor 11. Tetapi penyisipan semacam itu sebaiknya pada artikel baru dihindari, untuk bukti pembedaan antara artikel baru dan artikel cetak-ulang.
Lokasi dan Angka-Superior dan simbol dilihat dari kepraktisannya, angka-superior atau simbol (baik untuk catatan-kaki maupun untuk catatan-akhir) harus ditempatkan di akhir sesuatu kalimat pada artikel, dan tidak pada akhir sesuatu kata yang bersangkutan. Tanda penunjukan harus selalu ditempatkan sesudah tanda titik untuk kalimat penuh yang sudah selesai, sedangkan apabila tanda penunjukan harus berada di tengah-tengah kalimat, maka penempatannya harus dilakukan sebelum sesuatu tanda penitikan.
Catatan-kaki untuk tabel harus ditempatkan langsung di bawah tabel yang bersangkutan menggunakan huruf-huruf petunjuk (a), (b), (c), yaitu untuk menghindari pencampur-bauran dengan angka penunjuk yang sudah ada di dalam teks. Ada beberapa kesepakatan mengenai cara pengesetan dari rujukan untuk artikel, untuk karangan yang belum diterbitkan. Bentuk susunan dan redaksi rujukan pertama berbeda dengan rujukan-rujukan berikutnya.
Aturan penyusunan rujukan pertama untuk artikel agak berbeda dengan aturan yang berlaku untuk artikel. Untuk elemen-elemen serta penataannya adalah seperti berikut: nama-awal dan nama akhir dari pengarang, judul artikel, tempat dan tahun diterbitkan, dan halaman atau bab dimana rujukan terdapat dalam artikel sumbernya. Sebutkan dulu nama-awal, kemudian nama-akhir pengarang, dengan menggunakan huruf roman: kapital dan huruf kecil, langsung disusul sebuah koma, seperti: Ali Sastrodimejo, John Dunmore Lang, (Perhatikan: urutannya berbeda dengan urutan pada penyusunan bibliografi, dimana nama-akhir disebutkan terlebih dulu).
Bilamana penyunting ingin disebutkan, maka bentuknya adalah: A.P, Martin (ed.). Apabila terdapat dua orang penyunting, penempatan urutan namanya harus serupa sebagaimana penempatannya di halaman judul artikel (tidak perlu menurut abjad). Caranya menggunakan tanda (&): Slamet Puradireja & Suharno Syamsuddin, atau Achmad Junaidi & Sigit Lubis (edd.).
Kutiplah judul artikel sebagaimana adanya di halaman judul, dan tidak sebagaimana tertera di punggung artikel atau punggung jaket, serta harus diset dengan huruf kursif.
Kalau judulnya berbahasa asing, maka terjemahan judul di dalam bahasa Indonesia langsung ditempatkan sesudahnya menggunakan tanda kurung siku, sedangkan hurufnya adalah huruf roman: Mam and Music [Manusia dan Musik]. Dalam rujukan biasanya tidak disebutkan sub-judulnya, juga tidak judul serinya, berbeda dengan cara penyusunan untuk bibliografi. Antara tempat (kota) dan tahun penerbitan harus dibubuhi koma, hurufnya roman, ditempatkan di antara kurung biasa dan segera disusul koma: (Jakarta, 1976), (Cambridge, Mass., 1943).
Dalam rujukan tidak dipersyaratkan penyebutan nama penerbit (berbeda dengan cara untuk bibliografi), tetapi kalau nama penerbit juga disebutkan, maka bentuknya menjadi seperti berikut: (Djambatan, Jakarta, 1956), (Kyle & Robertson, Sydney, 1944). Kalau edisi yang bersangkutan merupakan edisi kemudian, penjelasannya harus juga disertakan dan diletakkan dalam tanda kurung: (edisi ke-tiga, Jakarta, 1967). Kalau artikel, selain ada nama pengarangnya, juga mempunyai penyunting atau penerjemah, maka bentuk penjelasannya adalah: (ed. Iwan Sumantoro, Jakarta, 1968), (terjemahan Moh, Thamrin, Surabaya, 1964). Rujukan terhadap elemen-elemen dalam artikel: halaman 64 halaman 75-9 halaman 7583 Bagian keempat Bagian ke-IV Bab 16 Bab XVI Jilid III, halaman 24. atau III, 24. atau jilid 3, halaman 24.
Perhatikan: untuk tiap kependekan selalu digunakan huruf roman. Bagaimana pun bentuk rujukannya, tiap rujukan harus selalu diakhiri dengan tanda titik. Berikut adalah beberapa contoh referensi pertama untuk artikel: Tony Yamin, Pendapatan Ratawata di India (Sydney, 1895), halaman 193. William Moore, The Story of Australian All (Melbourne, 1949). pp. 110-18.
Rujukan untuk Artikel
Rujukan terhadap artikel yang berasal dari majalah berkala, suratkabar, artikel kumpulan, simposium, antologi, ensiklopedi, rujukan, terdiri dari elemen-elemen berikut serta ditataletakkan menurut urutan seperti di bawah ini: nama-awal dan nama-akhir pengarang; A judul; nama majalah, surat kabar; nomor dan tahun (pada majalah); tanggal diterbitkan (pada surat kabar); tempat dan tanggal terbit (pada artikel); nomor halaman atau judul-babnya.
Aturan penitikan dan pengesetannya:
(a) Sebutkan nama-awal dan nama-akhir pengarang menggunakan huruf kapital dan huruf kecil, disusul koma. Kalau terdapat dua pengarang atau lebih, nama-namanya dirangkaikan dengan menggunakan tanda (&),
(b) Untuk judul artikel digunakan huruf roman di antara tanda kutip tunggal, terus disusul koma: Perjalanan ke Ruang Angkasa,
(c) Untuk artikel dalam majalah, nama majalah diset dengan huruf kursif, disusul nomor majalah dengan angka romawi huruf-kecil, tahun diterbitkan dalam kurung, disusul koma, nomor halaman dan tanda titik. Bila majalahnya bernomorkan nomor arab, susunan rujukannya menjadi seperti berikut: Vana Bam 36 (1956), halaman 27-45 (Perhatikan: Bentuk referensi seperti di atas tidak menyebutkan kata-kata: jilid, nomor, bagian).
(d) Untuk artikel dari surat kabar, nama surat kabarnya diset kursif disusul dengan koma, tanggal terbit dan nomor halaman: Sinar Harapan, 8 September 1979, halaman 12.































