Buku best seller ternyata juga dipengaruhi oleh judulnya. Pada cerita kontroversi, unik, sensasional, bombastis atau absurd. cerita yang tepat akan sangat menarik konsumen untuk membeli sebuah buku. jadi, dalam membuat naskah artikel setidaknya penulis juga memperhatikan hal ini agar kelak artikel yang dibuatnya diminati oleh konsumen. Membuat judul buku bukan dengan cara memilih cerita yang disukainya, tetapi kalau bisa dilakukan dengan cara survey melalui beberapa orang mewakili. Melalui survey ini diharapkan ditemukan judul paling disukai oleh pembaca. Kalau sudah ditemukan hal itu, artinya cerita artikel sudah bisa dimasukkan dalam buku itu. judul paling banyak dipilih adalah cerminan bagi konsumen kita. Mana disukai dan diharapkan.
Selain cerita adalah sub judul. Sub judul ini juga penting selain judul. Kalau cerita artikel Anda dalam bahasa Inggris maka sub judul dalam bahasa Indonesia dan memberikan penegasan pada cerita di atasnya. Penulis juga tidak boleh mengabaikan sub judul dari naskah buku sedang dibuatnya. Sub judul yang dibuat tepat akan memperkuat judul artikel sendiri. Pada bagian buku ini penulis akan membicarakan panjang lebar mengenai judul dan sub cerita agar naskah Anda buat menarik dan diminati oleh konsumen setelah diterbitkan.
a. Cerita artikel sebagai door opener.
Sejatinya, judul ibarat seorang pramuniaga sedang menjaga pintu di sebuah supermarket. Ia akan membuka pintu untuk konsumennya sebelum konsumen memilih barang-barang ada di dalam minimarket itu. Sedangkan cerita artikel mirip dengan pramuniaga itu. Ia memiliki tugas untuk membuka pintu bagi konsumen berselancar dari bab ke bab dalam artikel itu. Kalau boleh jujur, cerita adalah pengantar awal seorang kensumen untuk mulai tertarik masuk ke dalam buku dibacanya. Judul yang dibuat dengan menarik bisa memancing keingintahuan konsumen mendekat untuk melihatnya.
Membaca bagian cover belakangnya.
Jika cover belalang sudah membuat yakin kalau artikel layak dibeli, maka konsumen akan membeli artikel itu. Peran utama adalah judul. Setelah cerita adalah sub judulnya. Apakah sub cerita mempertegas judulnya atau tidak, kalau mempertegas judulnya maka judul akan tambah sangat menarik. Misalnya, ”Resep Cespleng Berwirausaha", akan lebih menarik jika diberikan sub judul, ”Tip Kiat jitu Melipatgandakan Penghasilan Dengan Modal Seadanya. ” Buku ini pernah ditolak penerbit dan menjadi best seller setelah judulnya dibenahi. Setelah cerita dan sub judul saling menunjang, tentunya sinopsis harus dibuat singkat dan menarik. Sinopsis lebih mencerminkan isi dari artikel sendiri. Jika sinopsisnya tidak menarik, konsumen tadinya tertarik oleh judul akan membatalkan niatnya membeli. Kalau ada penulis yang bersikukuh bahwa cerita adalah bagian paling penting untuk ditampilkan semenarik mungkin agar konsumen mau membeli produk kita. Tetapi jika di balik cover sinopsis Anda, tidak menggambarkan isi dari buku, tentu saja keadaannya berbalik. Oleh sebab itu, buatlah sinopsis yang menarik dan mengundang tanda tanya.
Selain sinopsis kalau bisa menggunakan endorsement sebagai penguat artikel itu. Endorsement dari para pakar yang terkenal bisa mengangkat "daya tarik” artikel itu. Maka carilah endorsementy 4 orang dan kalau bisa lebih tidak masalah. Penerbit akan mengatur peletakan endorsement. Urutkan paling terkenal dengan kepakarannya pada pertama, kemudian lain dengan nama besar mereka di publik. Kalau endorsement-nya bukanlah orang terkanal, maka pilihlah organisasi penting mereka ikuti untuk diurutkan di bagian pertama.
b. cerita sebagai iklannya.
Sejatinya "judul” adalah iklan sebuah buku. Sebuah iklan menarik mendorong orang untuk mencari dan melihat produk yang diiklankan itu. Begitu pula dengan sebuah buku. Kalau judulnya manarik membuat orang terangsang untuk mendekatinya. Membaca sinopsisnya dan mengendapkan dalam pikirannya baru mengambil kaputusan membeli.
Judul, sub cerita dan sinopsis merupakan satu paket yang akan membuat daya tarik pada sebuah buku. Begitu pula dengan judul identik dengan iklan akan menawarkan pada konsumen akan manfaat jika mambaca artikel tersebut. Seperti judul ”Cetak duit dari barang bekas” artikel ini tentu saja menawarkan manfaa-manfaat berupa pengetahuan ”bagaimana memanfaatkan barang bekas agar mendapatkan uang”. Begitu pula judul artikel akan menarik jika disertai sub cerita menguatkan, plus manfaat tambahan lainnya yang disampaikan, misalnya buku "Marketing revolution" tulisan Tung Desem Waringin memberikan 5 CD untuk setiap pembelian satu buku. CD diberikan adalah hadiah yang diberikan penerbitnya untuk konsumen.
Iklan yang lain daripada lain selalu menarik pemirsanya. Begitu pula dengan cerita yang lain dari Iainnya akan selalu menarik bagi pembaca. Misalnya saja, iklan-iklan tertentu selalu tampil nyeleneh, atau dalam arti kata sangat kontroversial sehingga selalu menarik audience. Begitu pula dengan cerita artikel kontroversial akan menarik pembaca. Misalnya saja cerita buku "Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah”, ”Selingkuh Itu Indah” serta lainnya.
Judul artikel kontroversial ibarat iklan kontroversial. Kalau kita yakin judul sebagai iklan dari artikel kita, sebaiknya kita membuat cerita sedemikian rupa agar buku kita menjadi laku di pasar. Selain cerita adalah sub cerita dan yang paling penting dari semua itu, janganlah membuat cerita untuk mengecoh para pembacanya. Judulnya tidak selaras dengan judul bukunya.
c. Konsep impulse buying
Perhatikan hal yang berhubungan dengan impulse buying. Apa dimaksud dengan impulse buying? Impulse buying ini kalau mau diuraikan adalah sama dengan perilaku seorang ibu sedang belanja di supermarket. Ia sebelum berangkat ke supermarket selalu mencatat apa akan dibelinya. Namun ketika tiba di supermarket, ia melihat display produk begitu menarik. Selain memberikan hadiah, produk itu juga mendapat potongan untuk pembelian jumlah tertentu. Pada catatan si ibu produk tidak ada, tetapi ibu tersebut akhirnya membeli karena tertarik dengan display dan berbagai iming-iming yang diberikan jika membeli produk itu.
Nah, pembelian yang dilakukan ibu ini tentu saja di luar catatan dalam arti tidak direncanakan sebelumnya. Perusahaan besar sekarang memanfaatkan situasi ini dengan metode merchandising. Merchandising adalah strategi penataan produk di rak dilakukan oleh SPG agar produknya menimbulkan pembelian tak terencana.
Nah, jika dihubungkan dengan buku, sekarang ini posisi artikel kita di rak toko artikel sudah amat memprihatinkan. cerita artikel baru begitu banyak, sementara rak tidak cukup menampung buku-buku itu. Salah satu jalan dalam menjual buku saat ini adalah dengan membuat daya tarik konsumen agar terjadi penjualan secara impulse buying.
Manfaatkanlah cerita artikel agar buku segera menarik perhatian konsumen. Kalau diibaratkan produk makanan, maka buatlah judul bagaikan magnet. Artinya cerita sudah berfungsi. Kalau salama ini P.O.S dipercaya bisa membantu penjualan, maka judul yang menarik bisa pula menjadi P.O.S bagi artikel itu. cerita yang menarik bisa terdiri dari 3 kata sangat kuat terdiri dari subjek, kata kerja dan objek. Tapi dalam perjalanan memberikan judul, kaidah tidaklah bisa dilaksanakan dengan baik.
Penulis membuat judul yang lebih dari 3 kata. Atau kata dengan memberikan sub judul di bawahnya. Kalau produk selain merek menjadi panguat agar dibeli konsumen adalah card price, hanger, webbler atau flag chain. Pernak-parnik itu bagaikan sub judul. Kalau merak identik dangan cerita maka pernak-pernik pada artikel adalah sub cerita dan sinopsis.
Selain cerita adalah sub judul. Sub judul ini juga penting selain judul. Kalau cerita artikel Anda dalam bahasa Inggris maka sub judul dalam bahasa Indonesia dan memberikan penegasan pada cerita di atasnya. Penulis juga tidak boleh mengabaikan sub judul dari naskah buku sedang dibuatnya. Sub judul yang dibuat tepat akan memperkuat judul artikel sendiri. Pada bagian buku ini penulis akan membicarakan panjang lebar mengenai judul dan sub cerita agar naskah Anda buat menarik dan diminati oleh konsumen setelah diterbitkan.
a. Cerita artikel sebagai door opener.
Sejatinya, judul ibarat seorang pramuniaga sedang menjaga pintu di sebuah supermarket. Ia akan membuka pintu untuk konsumennya sebelum konsumen memilih barang-barang ada di dalam minimarket itu. Sedangkan cerita artikel mirip dengan pramuniaga itu. Ia memiliki tugas untuk membuka pintu bagi konsumen berselancar dari bab ke bab dalam artikel itu. Kalau boleh jujur, cerita adalah pengantar awal seorang kensumen untuk mulai tertarik masuk ke dalam buku dibacanya. Judul yang dibuat dengan menarik bisa memancing keingintahuan konsumen mendekat untuk melihatnya.
Membaca bagian cover belakangnya.
Jika cover belalang sudah membuat yakin kalau artikel layak dibeli, maka konsumen akan membeli artikel itu. Peran utama adalah judul. Setelah cerita adalah sub judulnya. Apakah sub cerita mempertegas judulnya atau tidak, kalau mempertegas judulnya maka judul akan tambah sangat menarik. Misalnya, ”Resep Cespleng Berwirausaha", akan lebih menarik jika diberikan sub judul, ”Tip Kiat jitu Melipatgandakan Penghasilan Dengan Modal Seadanya. ” Buku ini pernah ditolak penerbit dan menjadi best seller setelah judulnya dibenahi. Setelah cerita dan sub judul saling menunjang, tentunya sinopsis harus dibuat singkat dan menarik. Sinopsis lebih mencerminkan isi dari artikel sendiri. Jika sinopsisnya tidak menarik, konsumen tadinya tertarik oleh judul akan membatalkan niatnya membeli. Kalau ada penulis yang bersikukuh bahwa cerita adalah bagian paling penting untuk ditampilkan semenarik mungkin agar konsumen mau membeli produk kita. Tetapi jika di balik cover sinopsis Anda, tidak menggambarkan isi dari buku, tentu saja keadaannya berbalik. Oleh sebab itu, buatlah sinopsis yang menarik dan mengundang tanda tanya.
Selain sinopsis kalau bisa menggunakan endorsement sebagai penguat artikel itu. Endorsement dari para pakar yang terkenal bisa mengangkat "daya tarik” artikel itu. Maka carilah endorsementy 4 orang dan kalau bisa lebih tidak masalah. Penerbit akan mengatur peletakan endorsement. Urutkan paling terkenal dengan kepakarannya pada pertama, kemudian lain dengan nama besar mereka di publik. Kalau endorsement-nya bukanlah orang terkanal, maka pilihlah organisasi penting mereka ikuti untuk diurutkan di bagian pertama.
b. cerita sebagai iklannya.
Sejatinya "judul” adalah iklan sebuah buku. Sebuah iklan menarik mendorong orang untuk mencari dan melihat produk yang diiklankan itu. Begitu pula dengan sebuah buku. Kalau judulnya manarik membuat orang terangsang untuk mendekatinya. Membaca sinopsisnya dan mengendapkan dalam pikirannya baru mengambil kaputusan membeli.
Judul, sub cerita dan sinopsis merupakan satu paket yang akan membuat daya tarik pada sebuah buku. Begitu pula dengan judul identik dengan iklan akan menawarkan pada konsumen akan manfaat jika mambaca artikel tersebut. Seperti judul ”Cetak duit dari barang bekas” artikel ini tentu saja menawarkan manfaa-manfaat berupa pengetahuan ”bagaimana memanfaatkan barang bekas agar mendapatkan uang”. Begitu pula judul artikel akan menarik jika disertai sub cerita menguatkan, plus manfaat tambahan lainnya yang disampaikan, misalnya buku "Marketing revolution" tulisan Tung Desem Waringin memberikan 5 CD untuk setiap pembelian satu buku. CD diberikan adalah hadiah yang diberikan penerbitnya untuk konsumen.
Iklan yang lain daripada lain selalu menarik pemirsanya. Begitu pula dengan cerita yang lain dari Iainnya akan selalu menarik bagi pembaca. Misalnya saja, iklan-iklan tertentu selalu tampil nyeleneh, atau dalam arti kata sangat kontroversial sehingga selalu menarik audience. Begitu pula dengan cerita artikel kontroversial akan menarik pembaca. Misalnya saja cerita buku "Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah”, ”Selingkuh Itu Indah” serta lainnya.
Judul artikel kontroversial ibarat iklan kontroversial. Kalau kita yakin judul sebagai iklan dari artikel kita, sebaiknya kita membuat cerita sedemikian rupa agar buku kita menjadi laku di pasar. Selain cerita adalah sub cerita dan yang paling penting dari semua itu, janganlah membuat cerita untuk mengecoh para pembacanya. Judulnya tidak selaras dengan judul bukunya.
c. Konsep impulse buying
Perhatikan hal yang berhubungan dengan impulse buying. Apa dimaksud dengan impulse buying? Impulse buying ini kalau mau diuraikan adalah sama dengan perilaku seorang ibu sedang belanja di supermarket. Ia sebelum berangkat ke supermarket selalu mencatat apa akan dibelinya. Namun ketika tiba di supermarket, ia melihat display produk begitu menarik. Selain memberikan hadiah, produk itu juga mendapat potongan untuk pembelian jumlah tertentu. Pada catatan si ibu produk tidak ada, tetapi ibu tersebut akhirnya membeli karena tertarik dengan display dan berbagai iming-iming yang diberikan jika membeli produk itu.
Nah, pembelian yang dilakukan ibu ini tentu saja di luar catatan dalam arti tidak direncanakan sebelumnya. Perusahaan besar sekarang memanfaatkan situasi ini dengan metode merchandising. Merchandising adalah strategi penataan produk di rak dilakukan oleh SPG agar produknya menimbulkan pembelian tak terencana.
Nah, jika dihubungkan dengan buku, sekarang ini posisi artikel kita di rak toko artikel sudah amat memprihatinkan. cerita artikel baru begitu banyak, sementara rak tidak cukup menampung buku-buku itu. Salah satu jalan dalam menjual buku saat ini adalah dengan membuat daya tarik konsumen agar terjadi penjualan secara impulse buying.
Manfaatkanlah cerita artikel agar buku segera menarik perhatian konsumen. Kalau diibaratkan produk makanan, maka buatlah judul bagaikan magnet. Artinya cerita sudah berfungsi. Kalau salama ini P.O.S dipercaya bisa membantu penjualan, maka judul yang menarik bisa pula menjadi P.O.S bagi artikel itu. cerita yang menarik bisa terdiri dari 3 kata sangat kuat terdiri dari subjek, kata kerja dan objek. Tapi dalam perjalanan memberikan judul, kaidah tidaklah bisa dilaksanakan dengan baik.
Penulis membuat judul yang lebih dari 3 kata. Atau kata dengan memberikan sub judul di bawahnya. Kalau produk selain merek menjadi panguat agar dibeli konsumen adalah card price, hanger, webbler atau flag chain. Pernak-parnik itu bagaikan sub judul. Kalau merak identik dangan cerita maka pernak-pernik pada artikel adalah sub cerita dan sinopsis.































