Sepuluh tahun selepas SMA, saya melanglang untuk bekerja sebagai salesman suatu perusahaan. Saya masih tetap menulis apa saja terjadi dalam perjalanan saya bekerja. Saya tidak ingin mempublikasikannya, dalam pikiran saya hanya ingin melatih agar saya bisa terus-menerus menulis. Pada tahun 1998 ketika saya kuliah semester 5, saya berkenalan dengan seseorang mengajak joint menjadi member MLM. Ketika saya mencari referensi, saya mengetahui bahwa dunia perbukuan ternyata sudah berkembang pesat. Apalagi sejak ada komputer banyak sekali penulis muda membuat buku dan saya lihat mereka juga tidak pintar-pintar amat, tetapi sudah bisa menulis. Nah, pada saat itulah saya ingin menuliskan hasil karya saya dalam bentuk buku. Buku pertama saya tulis adalah kisah saya mewawancarai pemilik toko mulai dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Buku itu kemudian sampai hari ini sudah dicetak 14 kali.
Bentuk Catatan Harian.
Langkah awal menulis seperti pengalaman saya ternyata lebih mudah dengan cara membuat catatan harian. Catatan harian sangat mudah dibuat karena tidak harus mengkuti aturan main dalam penulisan artikel. Mau mengejek, mau menggerutu, mengucapkan rasa syukur, rindu, serta perasaan apa saja bisa ditumpahkan dalam catatan harian. Catatan harian sebenarnya melatih otak kanak kita agar berfungsi dengan baik dan bisa membayangkan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Lakukanlah dengan cara detil dan sepanjang mungkin dalam menulis catatan harian itu. Kalau bisa buatlah variasi setiap harinya. Kalau kemarin menulis dengan kalimat pendek-pendek, maka hari kedua buatlah kalimat panjang-pangjang. Kalau sebelumnya menulis apa adanya dengan bahasa sehari-hari, cobalah besok membuat catatan harian dengan kata-kata sesuai gramatikal kata-kata ilmiahnya. Terus ubah-ubahlah catatan harian itu sesuka hati Anda. Berimprovisasilah dengan catatan harian Anda agar anda tidak mengalami kebosanan.
Catatan artikel harian sudah anda buat jangan dibuang begitu saja, tetapi kumpulkanlah dari waktu ke waktu. Maka jika anda mulai membacanya ulang anda akan mengetahui banyak kemajuan dan pergeseran cara menulis artikel. Anda akan merasa takjub bahwa tulisan artikel anda sudah mengalami banyak perubahan dibandingkan dengan tulisan sebelumnya. Begitu pula dengan naskah artikel buku saya tulis jika dibandingkan memiliki perbedaan menyolok dengan tulisan saya terakhir kali.
Kalau tulis sebelumnya setiap sub bab memiliki alinea begitu banyak dan tulisannya diulang-ulang. Maka ketika sudah menulis artikel lebih dari 10 artikel maka saya menemukan bahwa saya sudah bisa memenggal alinea dengan baik dan berurutan. Begitu pula setiap babnya, saya tidak melakukan pembahasan ulang lagi. Setiap bab memiliki permasalahn sendiri sesuati topik dalam bab. Sebelum itu para editor selalu mengatakan bahwa saya selalu mengulang di bagian bab lain. Nah, perhatikanlah hal ini agar tidak tejadi pada tulisan artikel anda.
Buatlah Artikel.
Kalau and sudah bisa membuat catatan artikel harian anda dengan lancar, maka niscaya anda sudah mampu membuat bentuk artikel tulisan lain. Meskipun tidak mentutup kemungkinan anda harus terus berlatih untuk membuatnya lebih baik. Menulis kembali artikel di majalah atau koran adalah salah satu cara mengawali menulis artikel dengan baik. Saya selalu melakukan dengan cara menulis kembali isi artikel saya bicara dan kemudian saya cocokkan dengan artikel aslinya. Semakin anda mendekati sempurna dan mengingat anda baca semua maka anda sudah mulai sedikit demi sedikit bisa menulis artikel dengan baik. Menulis kembali artikel awalnya memang sulit, karena anda dituntut untuk mengingat keseluruhan isi artikel itu, maka mulailah dari artikel pendek.
Cara ini tidak mengajari anda untuk mencontek atau menjadi plagiat. Anda diharuskan untuk mengetahui pikiran orang lain dan membuat kata-kata sendiri sesuai pikrian orang lain. Kalau sudah mahir menulis melalui pikiran orang lain, mulailah anda membuat artikel pendek menggunakan kata-kata sendiri dan pikiran anda sendiri. Tulislah pokok pikiran anda. Buatlah kata kunci di alinea-alinea akan diuraikan. Kalau membuat artikel panjangnya 2 halaman kertas A4 berarti anda membuat kata kunci uraian sebanyak 8, dengan tidak lupa bahwa apa ditulis dalam alinea tersebut memiliki tautan dengan pokok pirian utama atau topik artikel itu.
Kumpulan artikel dijumlahkan itu bisa menjadi buku best seller. Cara ini sudah pernah penulis praktikkan bahkan Andreas Harefa penulis 35 buku kewirausahaan, selling dan pendidikan mengatakan bahwa menulis buku itu bagaikan menulis artikel, kemudian dikumpulkan. Ia penah menulis artikel tentang selling dimana di dalamnya terdapat artikel, pernah dimuat di majalah Marketing. Ia mengumpulkan artikel-artikel dan merangkainya menjadi resep sebuah buku. Nah, langkah awal membuat buku artikel best seller akhirnya sudah diketahui. Pertama, buatlah catatan harian. Kedua, menulis ulang artikel, ditulis orang lain. Ketiga, membuat artikel sesuai dengan pikiran sendiri. Keempat, kumpulkan artikel itu hingga menjadi sebuah buku.
Beberapa artikel bisa dikumpulkan kalau setiap artikel hanya ditulis 2 lembar kertas A4. Tentu saja kalau mau membuat buku minimal setebal 100 halaman maka harus mengumpulkan sebanyak 50 artikel. Ini tentunya memiliki kendala sebab artikel dibuat biasanya tidak memiliki topik sama. Kalau anda konsisten membahas selling, maka artikel tentang selling saja dikumpulkan. Sedangkah artikel dengan topik lain dikumpulkan sesuai dengan topik itu sendiri. Misalnya tentang entrepreneurship, anda bisa mengumpulkan artikel itu dikelompoknya sendiri.
Kalau anda kesulitan dalam mengumpulkan artikel dengan topik sejenis sebanyak itu, berarti anda sudah harus mulai membuat artikel sepanjang 5 lembar halaman. Dari artikel dibaut 5 lembar halaman anda hanya membutuhkan 20 artikel harus disusunnya. Akhirnya buku best seller anda inginkan bisa anda buat dan kemudian mencari penerbit untuk menerbitkan buku itu.
Bentuk Catatan Harian.
Langkah awal menulis seperti pengalaman saya ternyata lebih mudah dengan cara membuat catatan harian. Catatan harian sangat mudah dibuat karena tidak harus mengkuti aturan main dalam penulisan artikel. Mau mengejek, mau menggerutu, mengucapkan rasa syukur, rindu, serta perasaan apa saja bisa ditumpahkan dalam catatan harian. Catatan harian sebenarnya melatih otak kanak kita agar berfungsi dengan baik dan bisa membayangkan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Lakukanlah dengan cara detil dan sepanjang mungkin dalam menulis catatan harian itu. Kalau bisa buatlah variasi setiap harinya. Kalau kemarin menulis dengan kalimat pendek-pendek, maka hari kedua buatlah kalimat panjang-pangjang. Kalau sebelumnya menulis apa adanya dengan bahasa sehari-hari, cobalah besok membuat catatan harian dengan kata-kata sesuai gramatikal kata-kata ilmiahnya. Terus ubah-ubahlah catatan harian itu sesuka hati Anda. Berimprovisasilah dengan catatan harian Anda agar anda tidak mengalami kebosanan.
Catatan artikel harian sudah anda buat jangan dibuang begitu saja, tetapi kumpulkanlah dari waktu ke waktu. Maka jika anda mulai membacanya ulang anda akan mengetahui banyak kemajuan dan pergeseran cara menulis artikel. Anda akan merasa takjub bahwa tulisan artikel anda sudah mengalami banyak perubahan dibandingkan dengan tulisan sebelumnya. Begitu pula dengan naskah artikel buku saya tulis jika dibandingkan memiliki perbedaan menyolok dengan tulisan saya terakhir kali.
Kalau tulis sebelumnya setiap sub bab memiliki alinea begitu banyak dan tulisannya diulang-ulang. Maka ketika sudah menulis artikel lebih dari 10 artikel maka saya menemukan bahwa saya sudah bisa memenggal alinea dengan baik dan berurutan. Begitu pula setiap babnya, saya tidak melakukan pembahasan ulang lagi. Setiap bab memiliki permasalahn sendiri sesuati topik dalam bab. Sebelum itu para editor selalu mengatakan bahwa saya selalu mengulang di bagian bab lain. Nah, perhatikanlah hal ini agar tidak tejadi pada tulisan artikel anda.
Buatlah Artikel.
Kalau and sudah bisa membuat catatan artikel harian anda dengan lancar, maka niscaya anda sudah mampu membuat bentuk artikel tulisan lain. Meskipun tidak mentutup kemungkinan anda harus terus berlatih untuk membuatnya lebih baik. Menulis kembali artikel di majalah atau koran adalah salah satu cara mengawali menulis artikel dengan baik. Saya selalu melakukan dengan cara menulis kembali isi artikel saya bicara dan kemudian saya cocokkan dengan artikel aslinya. Semakin anda mendekati sempurna dan mengingat anda baca semua maka anda sudah mulai sedikit demi sedikit bisa menulis artikel dengan baik. Menulis kembali artikel awalnya memang sulit, karena anda dituntut untuk mengingat keseluruhan isi artikel itu, maka mulailah dari artikel pendek.
Cara ini tidak mengajari anda untuk mencontek atau menjadi plagiat. Anda diharuskan untuk mengetahui pikiran orang lain dan membuat kata-kata sendiri sesuai pikrian orang lain. Kalau sudah mahir menulis melalui pikiran orang lain, mulailah anda membuat artikel pendek menggunakan kata-kata sendiri dan pikiran anda sendiri. Tulislah pokok pikiran anda. Buatlah kata kunci di alinea-alinea akan diuraikan. Kalau membuat artikel panjangnya 2 halaman kertas A4 berarti anda membuat kata kunci uraian sebanyak 8, dengan tidak lupa bahwa apa ditulis dalam alinea tersebut memiliki tautan dengan pokok pirian utama atau topik artikel itu.
Kumpulan artikel dijumlahkan itu bisa menjadi buku best seller. Cara ini sudah pernah penulis praktikkan bahkan Andreas Harefa penulis 35 buku kewirausahaan, selling dan pendidikan mengatakan bahwa menulis buku itu bagaikan menulis artikel, kemudian dikumpulkan. Ia penah menulis artikel tentang selling dimana di dalamnya terdapat artikel, pernah dimuat di majalah Marketing. Ia mengumpulkan artikel-artikel dan merangkainya menjadi resep sebuah buku. Nah, langkah awal membuat buku artikel best seller akhirnya sudah diketahui. Pertama, buatlah catatan harian. Kedua, menulis ulang artikel, ditulis orang lain. Ketiga, membuat artikel sesuai dengan pikiran sendiri. Keempat, kumpulkan artikel itu hingga menjadi sebuah buku.
Beberapa artikel bisa dikumpulkan kalau setiap artikel hanya ditulis 2 lembar kertas A4. Tentu saja kalau mau membuat buku minimal setebal 100 halaman maka harus mengumpulkan sebanyak 50 artikel. Ini tentunya memiliki kendala sebab artikel dibuat biasanya tidak memiliki topik sama. Kalau anda konsisten membahas selling, maka artikel tentang selling saja dikumpulkan. Sedangkah artikel dengan topik lain dikumpulkan sesuai dengan topik itu sendiri. Misalnya tentang entrepreneurship, anda bisa mengumpulkan artikel itu dikelompoknya sendiri.
Kalau anda kesulitan dalam mengumpulkan artikel dengan topik sejenis sebanyak itu, berarti anda sudah harus mulai membuat artikel sepanjang 5 lembar halaman. Dari artikel dibaut 5 lembar halaman anda hanya membutuhkan 20 artikel harus disusunnya. Akhirnya buku best seller anda inginkan bisa anda buat dan kemudian mencari penerbit untuk menerbitkan buku itu.































