e. Bangga sebagai penulis
Tidak semua orang merasa bangga menjadi penulis buku dan artikel. Pada suatu kesempatan ketika kami berkumpul dengan berbagai kalangan yang tidak kami kenal, ada satu orang yang menanyakan profesi seseorang. Ketika orang yang ditanya itu menjawab bahwa profesinya sebagai penulis buku, tiba-tiba dahi orang yang bertanya itu mengerut. Ia bak melihat makhluk yang baru turun dari planet Pluto. Setelah dianalisa dengan benar bahwa orang lain pun ternyata tidak mengerti dengan profesi sebagai penulis buku. Sebab dalam KTP pada umumnya orang tidak mencantumkan dan jarang ada yang mencatumkan di kolom pekerjaan itu sebagai penulis. Kalau sebagai wartawan banyak, tetapi sebagai penulis buku, penulis rasa dari 1000 orang paling 1 orang. Penulis juga tidak yakin seseorang mau mencantumkan pekerjaannya sebagai penulis buku meskipun prediksinya 1000 : 1.
Saya rasa orang di atas sebenarnya bangga dengan apa yang menjadi profesinya. Ia tidak merasa bersalah ketika menyebutkan kalau dirinya adalah seorang penulis buku. Tetapi dalam lingkungan kehidupan kita, tidak semua orang bisa menerima pekerjaan itu. Apalagi sekarang keadaan sudah modern. Sudah ada ATM, maka semakin tidak diakui profesi penulis buku ini. Orang tidak tahu kalau penulis buku itu mendapat bayaran yang ditransfer di rekeningnya. Orang baru bisa dihargai kalau memiliki pekerjaan sebagai orang kantoran, selain setiap hari memiliki uang, ia setiap bulan mendapatkan gaji. Dan, ia berangkat dari rumah pagi hari dan pulang di petang hari. Kalau penulis buku, hanya nongkrong saja di meja dengan komputernya, dan tidak pergi ke kantor di pagi hari dan pulang petang. Di kantongnya kalau diraba juga kosong. Apa ia disebut sudah bekerja?
Nah, fenomena inilah yang masih belum bisa dihapus dari lingkungan hidup sekitar kita. Orang kemudian menyiasati dengan memilih mengajar untuk menutupi profesi sebenarnya. Kalau ditanya apa profesinya, profesinya guru, dosen, atau apa saja untuk menutupi profesi yang sebenarnya, yakni sebagai penulis buku. Orang akhirnya tidak bisa merasakan kebanggaannya sebagai penulis buku yang diakibatkan lingkungan sekitarnya tidak mengerti. Kasus penulis buku fiksi "Ayat-ayat Cinta" sampai mengontrak ruko, juga karena adanya fenomena ini. Orang masih belum bisa membanggakan penulis sebagai profesi. Yang ada mungkin profesi tukang khayal, karena yang dibikin memang khayalan semata.
Akhirnya orang memandang bahwa orang yang bekerja di rumah bukanlah seorang pekerja. Ia sedang menganggur, tapi punya mainan setiap harinya yaitu mainan komputer. Sayang sekali di Indoensia bahwa profesi sebagai penulis buku masih belum populer. Oleh sebab itu, untuk menutupi profesinya itu, mereka kemudian mengaku sebagai wartawan, dosen, konsultan atau profesi lain sebagai profesi utamanya. ***
Tidak semua orang merasa bangga menjadi penulis buku dan artikel. Pada suatu kesempatan ketika kami berkumpul dengan berbagai kalangan yang tidak kami kenal, ada satu orang yang menanyakan profesi seseorang. Ketika orang yang ditanya itu menjawab bahwa profesinya sebagai penulis buku, tiba-tiba dahi orang yang bertanya itu mengerut. Ia bak melihat makhluk yang baru turun dari planet Pluto. Setelah dianalisa dengan benar bahwa orang lain pun ternyata tidak mengerti dengan profesi sebagai penulis buku. Sebab dalam KTP pada umumnya orang tidak mencantumkan dan jarang ada yang mencatumkan di kolom pekerjaan itu sebagai penulis. Kalau sebagai wartawan banyak, tetapi sebagai penulis buku, penulis rasa dari 1000 orang paling 1 orang. Penulis juga tidak yakin seseorang mau mencantumkan pekerjaannya sebagai penulis buku meskipun prediksinya 1000 : 1.
Saya rasa orang di atas sebenarnya bangga dengan apa yang menjadi profesinya. Ia tidak merasa bersalah ketika menyebutkan kalau dirinya adalah seorang penulis buku. Tetapi dalam lingkungan kehidupan kita, tidak semua orang bisa menerima pekerjaan itu. Apalagi sekarang keadaan sudah modern. Sudah ada ATM, maka semakin tidak diakui profesi penulis buku ini. Orang tidak tahu kalau penulis buku itu mendapat bayaran yang ditransfer di rekeningnya. Orang baru bisa dihargai kalau memiliki pekerjaan sebagai orang kantoran, selain setiap hari memiliki uang, ia setiap bulan mendapatkan gaji. Dan, ia berangkat dari rumah pagi hari dan pulang di petang hari. Kalau penulis buku, hanya nongkrong saja di meja dengan komputernya, dan tidak pergi ke kantor di pagi hari dan pulang petang. Di kantongnya kalau diraba juga kosong. Apa ia disebut sudah bekerja?
Nah, fenomena inilah yang masih belum bisa dihapus dari lingkungan hidup sekitar kita. Orang kemudian menyiasati dengan memilih mengajar untuk menutupi profesi sebenarnya. Kalau ditanya apa profesinya, profesinya guru, dosen, atau apa saja untuk menutupi profesi yang sebenarnya, yakni sebagai penulis buku. Orang akhirnya tidak bisa merasakan kebanggaannya sebagai penulis buku yang diakibatkan lingkungan sekitarnya tidak mengerti. Kasus penulis buku fiksi "Ayat-ayat Cinta" sampai mengontrak ruko, juga karena adanya fenomena ini. Orang masih belum bisa membanggakan penulis sebagai profesi. Yang ada mungkin profesi tukang khayal, karena yang dibikin memang khayalan semata.
Akhirnya orang memandang bahwa orang yang bekerja di rumah bukanlah seorang pekerja. Ia sedang menganggur, tapi punya mainan setiap harinya yaitu mainan komputer. Sayang sekali di Indoensia bahwa profesi sebagai penulis buku masih belum populer. Oleh sebab itu, untuk menutupi profesinya itu, mereka kemudian mengaku sebagai wartawan, dosen, konsultan atau profesi lain sebagai profesi utamanya. ***
































