a. Sudut Pandangan Tak Terbatas
Di sini pengarang bertindak sebagai makhhluk yang serba tahu tiada terbatas. Dia mengetahui semua tingkah-pola pelakunya dimanapun mereka berada, tahu apa yang dirasa dan dipikirkan tokohnya, termasuk suara hati nurani yang paling dalam sekalipun.
Membuat certia dengan sudut padangan jenis ini akan memberikan kebebasan yang sangat luas kepada pengarang untuk menggambarkan apa saja tanpa batas. Namun dalam penyajiannya, terutama dalam menyusun kalimat, sering meminta kecermatan yang lebih besar, karena setiap tokoh harus disebutkan dengan namanya.
Perhatikan petikan cerpen di bawah ini:
Dalam keremangan malam di bawah jembatan itu, Herman merasa dirinya semakin malang. Seekor tikus sampah melintas dengan sepotong tulang ikan tidak jauh dari kakinya. Binatang itu tahu, Herman tidak berbahaya.
"Tikus saja punya pekerjaan untuk menghidupi dirinya," pikir Herman. "Tapi aku...."
Sementara itu, Tety dengan tenang membaringkan dirinya di kasur, setelah dua jam menunggu kedatangan Herman di meja makan.
"Ah, nanti ia juga akan pulang," pikirnya. Dengan pikiran seperti itu, Tety larut bersama mimpi.
Dari petikan di atas telihat, bahwa pengarang dapat mengetahui apa yang dirasakan Herman, yakni "dirinya malang". Juga tahu apa yang dipikirkan Herman, tentang tikus. Malah pengarang tahu apa yang diketahui si tikus, yakni bahwa Herman tidak berbahaya. Selanjutnya pada saat yang sama si pengarang juga mengetahui apa yang dipikirkan Tety.
Di sini pengarang bertindak sebagai makhhluk yang serba tahu tiada terbatas. Dia mengetahui semua tingkah-pola pelakunya dimanapun mereka berada, tahu apa yang dirasa dan dipikirkan tokohnya, termasuk suara hati nurani yang paling dalam sekalipun.
Membuat certia dengan sudut padangan jenis ini akan memberikan kebebasan yang sangat luas kepada pengarang untuk menggambarkan apa saja tanpa batas. Namun dalam penyajiannya, terutama dalam menyusun kalimat, sering meminta kecermatan yang lebih besar, karena setiap tokoh harus disebutkan dengan namanya.
Perhatikan petikan cerpen di bawah ini:
Dalam keremangan malam di bawah jembatan itu, Herman merasa dirinya semakin malang. Seekor tikus sampah melintas dengan sepotong tulang ikan tidak jauh dari kakinya. Binatang itu tahu, Herman tidak berbahaya.
"Tikus saja punya pekerjaan untuk menghidupi dirinya," pikir Herman. "Tapi aku...."
Sementara itu, Tety dengan tenang membaringkan dirinya di kasur, setelah dua jam menunggu kedatangan Herman di meja makan.
"Ah, nanti ia juga akan pulang," pikirnya. Dengan pikiran seperti itu, Tety larut bersama mimpi.
Dari petikan di atas telihat, bahwa pengarang dapat mengetahui apa yang dirasakan Herman, yakni "dirinya malang". Juga tahu apa yang dipikirkan Herman, tentang tikus. Malah pengarang tahu apa yang diketahui si tikus, yakni bahwa Herman tidak berbahaya. Selanjutnya pada saat yang sama si pengarang juga mengetahui apa yang dipikirkan Tety.































