Bila seseorang bertanya apa judul suatu cerita, tentu dengan mudah Anda dapat menjawabnya, karena judul itu tertulis dengan jelas di kepala karangan atau di kulit buku. Umumnya judul mencerminkan isi karangan (dalam hal ini cerita), namun banyak juga judul yang menimbulkan banyak asosiasi atau mencerminkan arti yang mengambang.
Judul yang mencerminkan isi karangan, dimaksudkan agar pembaca dapat dengan mudah mengira-ngira apa isi karangan itu, sehingga ia dapat menentukan sikapnya, apakah ia tertarik dan perlu membacanya atau tidak. Suatu cerita yang berjudul "Ratapan Anak Tiri" misalnya, tentulah menggambarkan cerita tentang duka-sengsara seorang anak tiri dan biasanya yang jadi penyebab adalah ibu tirinya (tapi tak lazim ayah tirinya).
Namun karena mudah diterka ini, biasanya orang tidak tertarik lagi untuk membacanya. Untuk apa dibaca? Bukanlah sudah bisa diketahui isinya, walau hanya garis besarnya belaka? Karena itu, pengarang berusaha membuat judul yang dapat menimbulkan banyak asosiasi dan dugaan. Novel karya Ediruslan Pe Amanriza yang berjudul "Koyan" misalnya, walalupn dapat diduga, bahwa tentulah ceritanya tentang seroang tokoh yang bernama Koyan, namun mengandung banyak dugaan dan kemungkinan: Siapa Koyan? Mengapa dia? Apakah ia seorang boss dengan mobil mewah dan beberapa villa di Puncak? Atau raja minyak yang memiliki kapal pesiar mewah dan pesawat terbang pribadi? Atau.... ya, banyak kemungkinan yang bisa dipasangkan kepada Koyan. Padahal, Koyan adalah seorang batin (kepala Suku Terasing) di Riau,yang memberontak menuntut keadilan.
Demikanlah banyak roman, novel, cerpen dan sebagainya diberi judul dengan nama tokohnya, seperti "Siti Nurbaya" (roman Marah Rusli), "Bibi Marsiti" (novel Motinggo Busye), "Chief Sitting Bull" (cerpen Umar Kayam) dan lain-lain. Pada "Chief Sitting Bull" (cerpen Umar Kayam) telah membawa judulnya ke suatu penyamaran yang berada di luar dugaan pembaca. Semula pembaca tentu menyangka, bahwa cerpen ini akan mengisahkan Sitting Bull, Ketua Suku Indian Sioux yang gagah perkasa. Tapi ternyata, Sitting Bull dalam cerita ini adalah seorang kakek yang kembali seperti kanak-kanak, suka naik komedi putar (carousel) dengan menunggang kuda putih, lalu merasa dirinya seperti Sitting Bull.
Kadang-kadang pengarang membuat judul sedemikian samarnya, dengan potongan kalimat yang puitis, namun tetap tak mudah ditebak maksudnya. Judul yang demikian itu masih tetap merupakan gambaran isi cerita, tapi hal ini baru dapat diketahui, bila ceritanya sudah dibaca. Demikianlah cerita dengan judul "Bernafas Dalam Lumpur" (sudah difilmkan), "Jakarta Dimana Sri", "Dian Nan Tak Kunjung Padam" dan sebagainya.
Jadi judul adalah nama cerita yang menggambarkan isi cerita itu, dapat Anda ciptakan dengan bebas, namun harus menarik sehingga menarik minat orang untuk membaca ceritanya. Ingatlah, suatu cerita yang baik dengan judul yang kurang baik tidak akan menarik minat orang untuk membaca isi ceritanya, tapi judul yang baik walau ceritanya kurang baik dapat menarik perhatian orang untuk membaca isi ceritanya. Jadi judul bagaikan "etalase" dari cerita Anda, yang harus Anda tampilkan dengan menarik, agar orang menaruh minat membacanya.
Judul yang mencerminkan isi karangan, dimaksudkan agar pembaca dapat dengan mudah mengira-ngira apa isi karangan itu, sehingga ia dapat menentukan sikapnya, apakah ia tertarik dan perlu membacanya atau tidak. Suatu cerita yang berjudul "Ratapan Anak Tiri" misalnya, tentulah menggambarkan cerita tentang duka-sengsara seorang anak tiri dan biasanya yang jadi penyebab adalah ibu tirinya (tapi tak lazim ayah tirinya).
Namun karena mudah diterka ini, biasanya orang tidak tertarik lagi untuk membacanya. Untuk apa dibaca? Bukanlah sudah bisa diketahui isinya, walau hanya garis besarnya belaka? Karena itu, pengarang berusaha membuat judul yang dapat menimbulkan banyak asosiasi dan dugaan. Novel karya Ediruslan Pe Amanriza yang berjudul "Koyan" misalnya, walalupn dapat diduga, bahwa tentulah ceritanya tentang seroang tokoh yang bernama Koyan, namun mengandung banyak dugaan dan kemungkinan: Siapa Koyan? Mengapa dia? Apakah ia seorang boss dengan mobil mewah dan beberapa villa di Puncak? Atau raja minyak yang memiliki kapal pesiar mewah dan pesawat terbang pribadi? Atau.... ya, banyak kemungkinan yang bisa dipasangkan kepada Koyan. Padahal, Koyan adalah seorang batin (kepala Suku Terasing) di Riau,yang memberontak menuntut keadilan.
Demikanlah banyak roman, novel, cerpen dan sebagainya diberi judul dengan nama tokohnya, seperti "Siti Nurbaya" (roman Marah Rusli), "Bibi Marsiti" (novel Motinggo Busye), "Chief Sitting Bull" (cerpen Umar Kayam) dan lain-lain. Pada "Chief Sitting Bull" (cerpen Umar Kayam) telah membawa judulnya ke suatu penyamaran yang berada di luar dugaan pembaca. Semula pembaca tentu menyangka, bahwa cerpen ini akan mengisahkan Sitting Bull, Ketua Suku Indian Sioux yang gagah perkasa. Tapi ternyata, Sitting Bull dalam cerita ini adalah seorang kakek yang kembali seperti kanak-kanak, suka naik komedi putar (carousel) dengan menunggang kuda putih, lalu merasa dirinya seperti Sitting Bull.
Kadang-kadang pengarang membuat judul sedemikian samarnya, dengan potongan kalimat yang puitis, namun tetap tak mudah ditebak maksudnya. Judul yang demikian itu masih tetap merupakan gambaran isi cerita, tapi hal ini baru dapat diketahui, bila ceritanya sudah dibaca. Demikianlah cerita dengan judul "Bernafas Dalam Lumpur" (sudah difilmkan), "Jakarta Dimana Sri", "Dian Nan Tak Kunjung Padam" dan sebagainya.
Jadi judul adalah nama cerita yang menggambarkan isi cerita itu, dapat Anda ciptakan dengan bebas, namun harus menarik sehingga menarik minat orang untuk membaca ceritanya. Ingatlah, suatu cerita yang baik dengan judul yang kurang baik tidak akan menarik minat orang untuk membaca isi ceritanya, tapi judul yang baik walau ceritanya kurang baik dapat menarik perhatian orang untuk membaca isi ceritanya. Jadi judul bagaikan "etalase" dari cerita Anda, yang harus Anda tampilkan dengan menarik, agar orang menaruh minat membacanya.































