Pantangan, Pertimbangan dan Plot
Namun setelah dipertimbangkan, ide dasar yang kususun itu melanggar beberapa pantangan. Di dalam plot itu kutampilkan hasrat berburu seseorang, yang mungkin dapat menimbulkan keinginan orang (pembaca) untuk berburu, membunuh binatang di hutan. Padahal berburu binatang-binatang tertentu dilarang oleh Peraturan Pemerintah, karena binatang itu dilindungi. Juga di sini kebanggaan sebagai seorang pemburu ulung ditonjolkan sedemikian rupa, yang mungkin dapat pula merangsang pembaca untuk menjadi pemburu ulung, atau sekurang-kurangnya dalam cerita ini kebanggaan sebagai pemburu itu telah ditolerir.
Akhirnya setelah dipikirkan berkali-kali, diolah dan dipertimbangkan dari berbagai segi, ide dasar itu pun tersusun juga. Hasrat berburu yang bergejolak, kebanggaan sebagai seorang pemburu ulung tetap ditampilkan, karena memang hal ini yang telah membangkitkan ilham dan ingin diabadikan, namun pada akhir cerita diperlihatkan, bahwa hal ini bukan sesuatu yang terpuji, tegasnya bukan hal yang dapat dibenarkan. Berburu binatang adalah perbuatan yang salah dan karenanya harus dipersalahkan, yakni dengan resiko yang diderita oleh pelaku sebagai akibat perbuatannya itu.
Maka setelah melalui proses tersebut di atas, siaplah sebuah plot. Dengan plot itu, aku mulai menyusun ceritanya, sebagai berikut:
Matahari baru sepenggalahan di atas pucuk hutan, ketika aku dengan menyandang sepucuk bedil pemburu yang telah lama ingin kupergunakan, berjalan menempuh jalan setapak yang menuju ke luar desa. Sebentar-sebentar aku harus melompati kubangan babi yang becek akibat hujan semalam. Di kiri-kanan jalan berlompatan beberapa ekor lutung pada dahan-dahan pohon para, memandang kepadaku lalu melompat menjauhiku. Sesungguhnya tanganku terasa gatal untuk mempergunakan bedilku dan nembak binatang itu. Tetapi ketika teringat olehku, bahwa beberapa tahun yang lalu aku pernah menyesal telah menembak seekor lutung yang bunting hingga anak yang dikandungnya keluar melalui luka di perutnya, aku terpaksa menahan diri.
Sambil menikmati sebatang rokok kretek, aku terus berjalan ke arah Barat, menghirup udara pagi yang nyaman, sambil mata, telinga dan bahkan hidungku terus waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dengan tiba-tiba. Memang saat seperti ini telah lama kuidamkan; berjalan dengan langkah perkasa sambil menyandang sepucuk bedil memasuki semak belukar mencari binatang buruan, menembaknya bila bertemu dan tersenyum puas bila seekor binatang buruan terhantar di bawah telapak kakiku. Di saat seperti itu adalah saat yang paling bahagia bagi seorang pemburu sepertiku. Lebih jauh dari itu, sekaligus aku telah membuktikan kepada orang sekampung, bahwa kejantanan kakekku sebagai pemburu ulung di desaku masih tetap kuwarisi, walaupun aku telah dibesarkan di kota. (Tak pernah terpikirkan olehku, bahwa naluri purba yang haus akan kekerasan dan pembunuhan seperti itu, kupuaskan di atas penderitaan dan pengobanan jiwa makhluk lain yang tidak berdosa).
Tiba-tiba lamunanku buyar oleh gemerisik semak-semak di sebelah kananku. Dengan gerak reflek seorang pemburu, aku melompat dan mengarahkan laras bedilku ke sana, siap untuk menembak. Namun tiba-tiba....
"He...he... heeee..." terdengar tawa longgar dari dalam semak-semak dan beberapa detik kemudian, sebuah wajah tua yang bundar muncul di sela-sela daun marpoyan. Aku masih melihat senyum lebar di wajahnya yang keriput, dengan gigi yang sudah ompong dan lidah merah seperti bunga mawar.
"Kamu berburu sendirian, anak muda...?" sapanya sambil menatapku dengan matanya yang lamur.
"Ya, dan aku lebih senang berburu sendirian", jawabku sambil melangkah mendekatinya. Kusodorkan rokok kretekku kepadanya, yang dicabutnya sebatang, memijit-mijit pangkal rokok itu lalu menyelipkannya di antara bibirnya yang merah, lalu menyulutnya dengan korek api yang dibawanya. Dia melakukan semuanya itu sambil terus tersenyum-senyum.
Setelah menghembuskan asap rokoknya beberapa kali, baru ia berkata: "Berburu sendirian adalah sikap seorang pemburu sejati. Di desa ini hanya ada dua orang yang begitu, yakni kakek dan seorang teman kakek yang telah meninggal dunia, namanya Mamat.... Hey, siapa namamu, anak muda?"
"Namaku Daroni dan panggil saja aku Roni. Tapi siapa tadi nama teman kakek yang sudah meninggal itu?"
"Mamat, namanya mamat. Dia seorang pemburu perkasa yang namanya terkenal hingga ke desa tetangga. Tidak terhitung entah berapa harimau yang tertekuk di bawah telapak kakinya, entah berapa pula rusa dan kijang yang menjadi santapan orang sekampung oleh bedilnya. Lebih dari itu, dia seorang teman yang baik hati...."
Kata-kata itu diucapkannya dengan nada yang sedih, sambil matanya yang lamur menatap bunga rumput yang berwarna ungu di dekat kakinya.
Aku tahu bahwa dikatakannya "Mamat" itu adalah kakekku yang telah meninggal lima tahun yang lalu. Namun untuk lebih meyakinkan, aku bertanya lagi; "Mamat mana yang kakek maksudkan?"
"Di desa ini hanya ada satu Mamat, yang rumahnya di kampung hilir dalam kebun kelapa."
"Beliau adalah kakekku..." kataku.
Orang tua itu menatapku lama sekali, namun aku tidak tahu apa arti tatapannya itu. Tapi kemudian ia tersenyum dan sambil berdiri dari duduknya, dia berkata: "Marilah ikut aku, Roni. Anggaplah aku sebagai pengganti kakekmu Mamat. Panggillah aku kakek, dengan lidah dan hatimu, sebagaimana engkau memanggil kakek kepada mendiang Mamat. Aku akan ajarkan kepadamu ilmu berburu. Engkau tentu dibesarkan di kota, dan tidak sempat menuntut ilmu itu dari kakekmu. He, engkau tentu anak Ropi'i, yang bekerja sebagai mandor jalan di kota?"
"Ya..."
"Ayahmu juga orang baik. Di mana dia sekarang? Apa pekerjaannya?"
"Di kota, sudah pensiun."
"Syukur. Mari ikut aku, akan kuajarkan ilmu perburuan kepadamu. Engkau pemuda yang berbakat...."
Kami berjalan di antara semak-semak, menguak akar-akar sambil menyusuri kaki bukit. Kadang-kadang kami harus melompati kubangan babi. Di saat itu aku melihat keanehan pada orang tua itu. Gerakannya begitu kaku dan pandangan matanya yang lamur, seakan-akan tidak singgah pada sasaran yang dilihatnya. Bila melompati kubangan babi, tubuhnya kelihatan begitu ringan, dan jajak kakinya hampir tidak berbekas di tanah.
"Tahukah engkau Roni, mengapa aku dan kakekmu menempuh jalan hidup ini sebagai pemburu?"
Aku masih berpikir untuk memberikan jawaban, ketika kudengar ia melanjutkan perkataannya: "Berburu adalah lambang kejantanan seorang lelaki, karena seorang pemburu selalu menakhlukkan, bukan ditakhlukkan. Berburu adalah juga lambang ketabahan dan keuletan seorang anak manusia, keuletan menempuh onak dan duri, menyelidiki, mencari, mengejar hingga menemukan apa yang dicari. Berburu adalah pula lambang tanggung-jawab sejati, tanggung jawab tentang keselamatan dirinya, tanpa minta perlindungan dan bantuan kepada siapa pun selain Allah azzawajalla, dan lebih jauh dari itu, tanggung jawab terhadap Ilahi atas binatang yang dibunuhnya. Tidakkah itu yang menyebabkan engkau tertarik pada dunia perburuan?"
"Ya, itulah yang menyebabkan aku tertarik," jawabku. Walaupun sesungguhnya aku tidak pernah berpikir sejauh itu, ketika aku membeli bedil pemburu hingga mendapatkan surat izin mempergunakannya. Bagiku berburu hanyalah kesenangan bertualang di semak-belukar sambil memuaskan nafsu penakkluk yang terkadang terasa bergejolak dalam diriku.
"Bagus, bagus sekali. Engkau ternyata mewarisi darah kakekmu Mamat, seorang pemburu yang perkasa. Tahukah engkau, apa yang menyebabkan kakekmu yang perkasa itu meninggal dunia?"
"Bedilnya meledak pecah ketika menembak seekor rusa benggala hingga darah kakek bertaburan di semak-semak", jawabku dengan perasaan terharu.
"Ya, tapi di wajahnya yang berlumuran darah, terbayang senyum perkasa, senyum kemenangan seorang pemburu. Akulah yang menggotongnya kembali ke kampung, dan akulah yang menyeka darah yang berlumuran di wajahnya . Aku, sahabatnya yang sejati.... He, tidakkah engkau ingin mengetahui namaku, nama sahabat kakekmu, untuk kau kenang, bila engaku telah kembali ke kota nanti?"
"Oh, tentu. Tentu aku ingin tahu nama kakek!"
"Namaku Alang, dan seperti juga kakekmu, hanya ada satu Alang di desa kita."
Kini kami mulai mendaki arah ke punggung bukit. Sekawanan belibis terkejut dan terbang dengan bunyi hiruk-pikuk. Dengan kegesitan yang tidak mungkin kutiru, kakek Alang mengangkat bedilnya dan serentak dengan itu terdengar ledakan. Aku melihat seekor belibis terakhir membubung ke angkasa, lalu jatuh berputra-putar di semak-semak. Kudengar kakek Alang berkata dengan banggga: "Demikianlah aku, dan demikianlah pula kakekmu. Kuharap, demikian pula engkau, Roni."
Kini kami tiba di punggung bukit. Matahari kelihatan sudah mulai tinggi di sebelah Timur. Kami berteduh di bawah pohon meranti yang berdiri di punggung bukit itu. Aku mengeluarkan rokokku dan memberi kakek Alang sebatang. Aku mengisap rokok sambil memandang kehamparan rumput muda di kaki bukit sebelah Utara, kira-kira seratus meter dari tempat kami berteduh.
"Kau lihat hamparan rumput muda di sebelah Utara itu?" tanya kakek Alang sambil menunjuk dengan ujung bedilnya.
"Ya, hamparan rumput muda yang subur," jawabku sambil melepaskan pandangan ke sana.
"Hamparan rumput itu sudah seperti itu sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu," kata kakek Alang seperti pada dirinya sendiri. "Sepanjang musim, rumput-rumput itu tetap muda dan subur seperti itu. Dan di situlah dulu rusa benggala yang besar itu muncul dari kaki lembah, mungkin dari paya-paya sana sehabis minum. Binatang itu melihat kakekmu, tapi ia tidak lari. Kakekmu menembaknya dan terjadilah kecelakaan itu. Bedilnya meledak pecah dan melukai kepalanya. Aku yang kebetulan berburu tidak jauh dari sini, setelah mendengar bunyi tembakan, segera menyeru kakekmu, apakah tembakannya berhasil. Tapi setelah tak ada kudengar sahutan, aku menjadi curiga dan datang ke tempat ini. Kudapati kakekmu menggelepar di rumput berlumuran darah. Dia sempat menceritakan apa yang terjadi dan berpesan kepadaku, agar aku tidak menembak rusa benggala itu lagi kapan saja".
Sementara itu, kudengar bunyi orang menebang kayu di sebelah Selatan. Itu tentulah bunyi beliung orang desaku yang sedang menebang kulim untuk ramuan rumah.
"Kakek belum lagi mengajarkan ilmu perburuan itu kepadaku," kataku ketus.
"Tunggu dulu Roni. Ceritaku tadi belum habis," jawabnya. "Setelah kakekmu Mamat meninggal, aku menjadi sangat berduka. Aku bertekad, bagaimanapun juga, aku harus membunuh rusa benggala itu. Tiga hari kemudain, aku kembali ketempat ini dan melakukan hal yang sama..."
"Matikah rusa benggala itu?" tanyaku ingin tahu.
"Aku telah melakukan hal yang sama," ulangnya.
"Ya, matikah rusa benggala itu...?" ulangku pula.
"Tidak, binatang jahanam itu tidak mati. Kupesankan padamu Roni, jangan kau tembak rusa benggala itu bila kau menjumpainya."
Tiba-tiba aku melihat semak-semak di sebelah Utara bergerak-gerak dan sejurus kemudian sepasang tanduk yang bercabang-cabang muncul di sela-sela daun. Seekor rusa benggala jantan yang besar berjalan dengan tenangnya menuju ke hamparan rumput-rumput muda dan mulai merumput. Aku segera menyambar bedilku yang tadinya kusandarkan di pohon meranti dan langsung membidik ke arah rusa itu. Tetapi tanpa kuduga kakek Alang merampas bedilku, dan berkata: "Jangan, jangan Roni.... Jangan kau ganggu binatang itu. Ayo kita pulang."
"Tidak, aku harus membunuhnya! Binatang itu telah menyebabkan kematian kakekku. Dan aku harus membunuhnya," kataku sambil mendorong kakek Alang hingga ia terbanting di tanah. Tanpa membuang kesempatan sedetik pun, aku melepaskan tembakanku ke arah biantang itu. Sempat aku mendengar ledakan yang keras dari bedilku, dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.
Ketika siuman, aku telah berada di rumah pamanku di desa. Kepala dan dadaku yang dibalut dengan perban terasa sakit sekali. Kulihat banyak orang-orang sedesa datang menjengukku.
"Apa yang telah terjadi?" tanyaku kepada bibi yang duduk di sampingku.
"Joman yang menebang kulim di Selatan bukit itu telah mendengar ledakan bedilmu," kata bibi menjelaskan. "Joman telah menyeru berkali-kali menanyakan siapa yang menembak, dan ketika tidak ada sahutan, ia mendatangi punggung bukit itu dan mendapatkan engkau terluka dengan bedil yang pecah bertaburan. Joman telah menggotongmu ke desa ini," kata bibi melanjutkan sambil memandang kepada Joman yang berdiri dekat kakiku.
"Untung Joman sedang berada di sana, kalau tidak, entah bagaimana nasibmu, Roni."
"Lalu di mana kakek itu?" tanyaku.
"Engkau tentu tidak mengigau kan, Roni? Tak seorang pun yang kutemui di sana, selain kau sendiri," ujar Joman sambil mendekat kepadaku. "Kakek mana yang kau tanyakan?"
"Kakek... kakek Alang. Aku bersamanya di bawah meranti itu," kataku berusaha meyakinkan.
"Siapa...?"
"Kakek Alang...," jawabku lagi sedikit jengkel.
Kulihat semua yang hadir saling berpandangan. Bibi menatapku dengan pandangan yang aneh, seperti orang ketakutan. Dengan suara gemetar, kudengar bibi berkata: "Pak Alang telah meninggal dunia lima tahun yang lalu, tiga hari setelah mendiang kakekmu meninggal. Seperti juga mendiang kakekmu, Pak Alang meninggal karena bedilnya meledak pecah ketika menembak rusa benggala..." ***
Copyright © 2009 http://www.indexarticles.com/
Namun setelah dipertimbangkan, ide dasar yang kususun itu melanggar beberapa pantangan. Di dalam plot itu kutampilkan hasrat berburu seseorang, yang mungkin dapat menimbulkan keinginan orang (pembaca) untuk berburu, membunuh binatang di hutan. Padahal berburu binatang-binatang tertentu dilarang oleh Peraturan Pemerintah, karena binatang itu dilindungi. Juga di sini kebanggaan sebagai seorang pemburu ulung ditonjolkan sedemikian rupa, yang mungkin dapat pula merangsang pembaca untuk menjadi pemburu ulung, atau sekurang-kurangnya dalam cerita ini kebanggaan sebagai pemburu itu telah ditolerir.
Akhirnya setelah dipikirkan berkali-kali, diolah dan dipertimbangkan dari berbagai segi, ide dasar itu pun tersusun juga. Hasrat berburu yang bergejolak, kebanggaan sebagai seorang pemburu ulung tetap ditampilkan, karena memang hal ini yang telah membangkitkan ilham dan ingin diabadikan, namun pada akhir cerita diperlihatkan, bahwa hal ini bukan sesuatu yang terpuji, tegasnya bukan hal yang dapat dibenarkan. Berburu binatang adalah perbuatan yang salah dan karenanya harus dipersalahkan, yakni dengan resiko yang diderita oleh pelaku sebagai akibat perbuatannya itu.
Maka setelah melalui proses tersebut di atas, siaplah sebuah plot. Dengan plot itu, aku mulai menyusun ceritanya, sebagai berikut:
RUSA BENGGALA
oleh: Drs. H. Umar Ahmad Tambusai
oleh: Drs. H. Umar Ahmad Tambusai
Matahari baru sepenggalahan di atas pucuk hutan, ketika aku dengan menyandang sepucuk bedil pemburu yang telah lama ingin kupergunakan, berjalan menempuh jalan setapak yang menuju ke luar desa. Sebentar-sebentar aku harus melompati kubangan babi yang becek akibat hujan semalam. Di kiri-kanan jalan berlompatan beberapa ekor lutung pada dahan-dahan pohon para, memandang kepadaku lalu melompat menjauhiku. Sesungguhnya tanganku terasa gatal untuk mempergunakan bedilku dan nembak binatang itu. Tetapi ketika teringat olehku, bahwa beberapa tahun yang lalu aku pernah menyesal telah menembak seekor lutung yang bunting hingga anak yang dikandungnya keluar melalui luka di perutnya, aku terpaksa menahan diri.
Sambil menikmati sebatang rokok kretek, aku terus berjalan ke arah Barat, menghirup udara pagi yang nyaman, sambil mata, telinga dan bahkan hidungku terus waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dengan tiba-tiba. Memang saat seperti ini telah lama kuidamkan; berjalan dengan langkah perkasa sambil menyandang sepucuk bedil memasuki semak belukar mencari binatang buruan, menembaknya bila bertemu dan tersenyum puas bila seekor binatang buruan terhantar di bawah telapak kakiku. Di saat seperti itu adalah saat yang paling bahagia bagi seorang pemburu sepertiku. Lebih jauh dari itu, sekaligus aku telah membuktikan kepada orang sekampung, bahwa kejantanan kakekku sebagai pemburu ulung di desaku masih tetap kuwarisi, walaupun aku telah dibesarkan di kota. (Tak pernah terpikirkan olehku, bahwa naluri purba yang haus akan kekerasan dan pembunuhan seperti itu, kupuaskan di atas penderitaan dan pengobanan jiwa makhluk lain yang tidak berdosa).
Tiba-tiba lamunanku buyar oleh gemerisik semak-semak di sebelah kananku. Dengan gerak reflek seorang pemburu, aku melompat dan mengarahkan laras bedilku ke sana, siap untuk menembak. Namun tiba-tiba....
"He...he... heeee..." terdengar tawa longgar dari dalam semak-semak dan beberapa detik kemudian, sebuah wajah tua yang bundar muncul di sela-sela daun marpoyan. Aku masih melihat senyum lebar di wajahnya yang keriput, dengan gigi yang sudah ompong dan lidah merah seperti bunga mawar.
"Kamu berburu sendirian, anak muda...?" sapanya sambil menatapku dengan matanya yang lamur.
"Ya, dan aku lebih senang berburu sendirian", jawabku sambil melangkah mendekatinya. Kusodorkan rokok kretekku kepadanya, yang dicabutnya sebatang, memijit-mijit pangkal rokok itu lalu menyelipkannya di antara bibirnya yang merah, lalu menyulutnya dengan korek api yang dibawanya. Dia melakukan semuanya itu sambil terus tersenyum-senyum.
Setelah menghembuskan asap rokoknya beberapa kali, baru ia berkata: "Berburu sendirian adalah sikap seorang pemburu sejati. Di desa ini hanya ada dua orang yang begitu, yakni kakek dan seorang teman kakek yang telah meninggal dunia, namanya Mamat.... Hey, siapa namamu, anak muda?"
"Namaku Daroni dan panggil saja aku Roni. Tapi siapa tadi nama teman kakek yang sudah meninggal itu?"
"Mamat, namanya mamat. Dia seorang pemburu perkasa yang namanya terkenal hingga ke desa tetangga. Tidak terhitung entah berapa harimau yang tertekuk di bawah telapak kakinya, entah berapa pula rusa dan kijang yang menjadi santapan orang sekampung oleh bedilnya. Lebih dari itu, dia seorang teman yang baik hati...."
Kata-kata itu diucapkannya dengan nada yang sedih, sambil matanya yang lamur menatap bunga rumput yang berwarna ungu di dekat kakinya.
Aku tahu bahwa dikatakannya "Mamat" itu adalah kakekku yang telah meninggal lima tahun yang lalu. Namun untuk lebih meyakinkan, aku bertanya lagi; "Mamat mana yang kakek maksudkan?"
"Di desa ini hanya ada satu Mamat, yang rumahnya di kampung hilir dalam kebun kelapa."
"Beliau adalah kakekku..." kataku.
Orang tua itu menatapku lama sekali, namun aku tidak tahu apa arti tatapannya itu. Tapi kemudian ia tersenyum dan sambil berdiri dari duduknya, dia berkata: "Marilah ikut aku, Roni. Anggaplah aku sebagai pengganti kakekmu Mamat. Panggillah aku kakek, dengan lidah dan hatimu, sebagaimana engkau memanggil kakek kepada mendiang Mamat. Aku akan ajarkan kepadamu ilmu berburu. Engkau tentu dibesarkan di kota, dan tidak sempat menuntut ilmu itu dari kakekmu. He, engkau tentu anak Ropi'i, yang bekerja sebagai mandor jalan di kota?"
"Ya..."
"Ayahmu juga orang baik. Di mana dia sekarang? Apa pekerjaannya?"
"Di kota, sudah pensiun."
"Syukur. Mari ikut aku, akan kuajarkan ilmu perburuan kepadamu. Engkau pemuda yang berbakat...."
Kami berjalan di antara semak-semak, menguak akar-akar sambil menyusuri kaki bukit. Kadang-kadang kami harus melompati kubangan babi. Di saat itu aku melihat keanehan pada orang tua itu. Gerakannya begitu kaku dan pandangan matanya yang lamur, seakan-akan tidak singgah pada sasaran yang dilihatnya. Bila melompati kubangan babi, tubuhnya kelihatan begitu ringan, dan jajak kakinya hampir tidak berbekas di tanah.
"Tahukah engkau Roni, mengapa aku dan kakekmu menempuh jalan hidup ini sebagai pemburu?"
Aku masih berpikir untuk memberikan jawaban, ketika kudengar ia melanjutkan perkataannya: "Berburu adalah lambang kejantanan seorang lelaki, karena seorang pemburu selalu menakhlukkan, bukan ditakhlukkan. Berburu adalah juga lambang ketabahan dan keuletan seorang anak manusia, keuletan menempuh onak dan duri, menyelidiki, mencari, mengejar hingga menemukan apa yang dicari. Berburu adalah pula lambang tanggung-jawab sejati, tanggung jawab tentang keselamatan dirinya, tanpa minta perlindungan dan bantuan kepada siapa pun selain Allah azzawajalla, dan lebih jauh dari itu, tanggung jawab terhadap Ilahi atas binatang yang dibunuhnya. Tidakkah itu yang menyebabkan engkau tertarik pada dunia perburuan?"
"Ya, itulah yang menyebabkan aku tertarik," jawabku. Walaupun sesungguhnya aku tidak pernah berpikir sejauh itu, ketika aku membeli bedil pemburu hingga mendapatkan surat izin mempergunakannya. Bagiku berburu hanyalah kesenangan bertualang di semak-belukar sambil memuaskan nafsu penakkluk yang terkadang terasa bergejolak dalam diriku.
"Bagus, bagus sekali. Engkau ternyata mewarisi darah kakekmu Mamat, seorang pemburu yang perkasa. Tahukah engkau, apa yang menyebabkan kakekmu yang perkasa itu meninggal dunia?"
"Bedilnya meledak pecah ketika menembak seekor rusa benggala hingga darah kakek bertaburan di semak-semak", jawabku dengan perasaan terharu.
"Ya, tapi di wajahnya yang berlumuran darah, terbayang senyum perkasa, senyum kemenangan seorang pemburu. Akulah yang menggotongnya kembali ke kampung, dan akulah yang menyeka darah yang berlumuran di wajahnya . Aku, sahabatnya yang sejati.... He, tidakkah engkau ingin mengetahui namaku, nama sahabat kakekmu, untuk kau kenang, bila engaku telah kembali ke kota nanti?"
"Oh, tentu. Tentu aku ingin tahu nama kakek!"
"Namaku Alang, dan seperti juga kakekmu, hanya ada satu Alang di desa kita."
Kini kami mulai mendaki arah ke punggung bukit. Sekawanan belibis terkejut dan terbang dengan bunyi hiruk-pikuk. Dengan kegesitan yang tidak mungkin kutiru, kakek Alang mengangkat bedilnya dan serentak dengan itu terdengar ledakan. Aku melihat seekor belibis terakhir membubung ke angkasa, lalu jatuh berputra-putar di semak-semak. Kudengar kakek Alang berkata dengan banggga: "Demikianlah aku, dan demikianlah pula kakekmu. Kuharap, demikian pula engkau, Roni."
Kini kami tiba di punggung bukit. Matahari kelihatan sudah mulai tinggi di sebelah Timur. Kami berteduh di bawah pohon meranti yang berdiri di punggung bukit itu. Aku mengeluarkan rokokku dan memberi kakek Alang sebatang. Aku mengisap rokok sambil memandang kehamparan rumput muda di kaki bukit sebelah Utara, kira-kira seratus meter dari tempat kami berteduh.
"Kau lihat hamparan rumput muda di sebelah Utara itu?" tanya kakek Alang sambil menunjuk dengan ujung bedilnya.
"Ya, hamparan rumput muda yang subur," jawabku sambil melepaskan pandangan ke sana.
"Hamparan rumput itu sudah seperti itu sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu," kata kakek Alang seperti pada dirinya sendiri. "Sepanjang musim, rumput-rumput itu tetap muda dan subur seperti itu. Dan di situlah dulu rusa benggala yang besar itu muncul dari kaki lembah, mungkin dari paya-paya sana sehabis minum. Binatang itu melihat kakekmu, tapi ia tidak lari. Kakekmu menembaknya dan terjadilah kecelakaan itu. Bedilnya meledak pecah dan melukai kepalanya. Aku yang kebetulan berburu tidak jauh dari sini, setelah mendengar bunyi tembakan, segera menyeru kakekmu, apakah tembakannya berhasil. Tapi setelah tak ada kudengar sahutan, aku menjadi curiga dan datang ke tempat ini. Kudapati kakekmu menggelepar di rumput berlumuran darah. Dia sempat menceritakan apa yang terjadi dan berpesan kepadaku, agar aku tidak menembak rusa benggala itu lagi kapan saja".
Sementara itu, kudengar bunyi orang menebang kayu di sebelah Selatan. Itu tentulah bunyi beliung orang desaku yang sedang menebang kulim untuk ramuan rumah.
"Kakek belum lagi mengajarkan ilmu perburuan itu kepadaku," kataku ketus.
"Tunggu dulu Roni. Ceritaku tadi belum habis," jawabnya. "Setelah kakekmu Mamat meninggal, aku menjadi sangat berduka. Aku bertekad, bagaimanapun juga, aku harus membunuh rusa benggala itu. Tiga hari kemudain, aku kembali ketempat ini dan melakukan hal yang sama..."
"Matikah rusa benggala itu?" tanyaku ingin tahu.
"Aku telah melakukan hal yang sama," ulangnya.
"Ya, matikah rusa benggala itu...?" ulangku pula.
"Tidak, binatang jahanam itu tidak mati. Kupesankan padamu Roni, jangan kau tembak rusa benggala itu bila kau menjumpainya."
Tiba-tiba aku melihat semak-semak di sebelah Utara bergerak-gerak dan sejurus kemudian sepasang tanduk yang bercabang-cabang muncul di sela-sela daun. Seekor rusa benggala jantan yang besar berjalan dengan tenangnya menuju ke hamparan rumput-rumput muda dan mulai merumput. Aku segera menyambar bedilku yang tadinya kusandarkan di pohon meranti dan langsung membidik ke arah rusa itu. Tetapi tanpa kuduga kakek Alang merampas bedilku, dan berkata: "Jangan, jangan Roni.... Jangan kau ganggu binatang itu. Ayo kita pulang."
"Tidak, aku harus membunuhnya! Binatang itu telah menyebabkan kematian kakekku. Dan aku harus membunuhnya," kataku sambil mendorong kakek Alang hingga ia terbanting di tanah. Tanpa membuang kesempatan sedetik pun, aku melepaskan tembakanku ke arah biantang itu. Sempat aku mendengar ledakan yang keras dari bedilku, dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.
Ketika siuman, aku telah berada di rumah pamanku di desa. Kepala dan dadaku yang dibalut dengan perban terasa sakit sekali. Kulihat banyak orang-orang sedesa datang menjengukku.
"Apa yang telah terjadi?" tanyaku kepada bibi yang duduk di sampingku.
"Joman yang menebang kulim di Selatan bukit itu telah mendengar ledakan bedilmu," kata bibi menjelaskan. "Joman telah menyeru berkali-kali menanyakan siapa yang menembak, dan ketika tidak ada sahutan, ia mendatangi punggung bukit itu dan mendapatkan engkau terluka dengan bedil yang pecah bertaburan. Joman telah menggotongmu ke desa ini," kata bibi melanjutkan sambil memandang kepada Joman yang berdiri dekat kakiku.
"Untung Joman sedang berada di sana, kalau tidak, entah bagaimana nasibmu, Roni."
"Lalu di mana kakek itu?" tanyaku.
"Engkau tentu tidak mengigau kan, Roni? Tak seorang pun yang kutemui di sana, selain kau sendiri," ujar Joman sambil mendekat kepadaku. "Kakek mana yang kau tanyakan?"
"Kakek... kakek Alang. Aku bersamanya di bawah meranti itu," kataku berusaha meyakinkan.
"Siapa...?"
"Kakek Alang...," jawabku lagi sedikit jengkel.
Kulihat semua yang hadir saling berpandangan. Bibi menatapku dengan pandangan yang aneh, seperti orang ketakutan. Dengan suara gemetar, kudengar bibi berkata: "Pak Alang telah meninggal dunia lima tahun yang lalu, tiga hari setelah mendiang kakekmu meninggal. Seperti juga mendiang kakekmu, Pak Alang meninggal karena bedilnya meledak pecah ketika menembak rusa benggala..." ***
Copyright © 2009 http://www.indexarticles.com/































