Bab Ke Enam
Petunjuk Praktis Penulisan Naskah dan Mengenal Format Buku
Petunjuk Praktis Penulisan Naskah dan Mengenal Format Buku
1. Penulisan Naskah
Pada masa lampau (sebelum Perang Dunia II), banyak naskah karangan, termasuk juga naskah-naskah besar dikerjakan oleh pengarangnya dengan tulisan tangan. Sebagai contoh, Bung Karno sendiri, yang mengaku tidak dapat mempergunakan mesin tulis, menulis naskah-naskah karangannya dengan tulisan tangan. Padahal semua naskah yang ditulisnya itu bisa mencapai ribuan halaman. Demikian juga halnya dengan kebanyakan naskah roman terbitan Balai Pustaka masa sebelum P.D. II, dikerjakan oleh pengarangnya dengan tulisan tangan. Pujangga Soeman HS dan Sariamin dalam suatu wawancara mengakui, bahwa naskah roman yang mereka karang ditulis dengan tulisan tangan. Namun perlu ditambahkan, kebanyakan orang masa itu, yang memang dididik agar menulis dengan bagus oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk tujuan tertentu, istimewa pula mereka dengan profesi sebagai guru, mempunyai keahlian menulis yang luar biasa, bila dibandingkan dengan orang masa kini.
Namun belakangan ini, menulis dengan tangan hanya dilakukan untuk mengerjakan konsep. Itu pun bila memang diperlukan konsep tertulis sebelum diketik, karena banyak pengarang yang terbiasa mengetik langsung karangannya tanpa membuat konsep tertulis. Motinggo Busye misalnya, dalam mengerjakan novel-novelnya jarang membuat konsep lengkap, selain dari coretan dan catatan dalam garis besar belaka. Demikain juga dengan kebanyakan pengarang lain masa kini yang berbuat serupa itu.
Naskah-naskah masa kini lazimnya diketik, baik dengan mesin tulis maupun yang sudah lazim saat ini dengan komputer. Naskah yang diketik dengan aturan tertentu akan kelihatan lebih rapi dan bersih, sehingga memudahkan koreksi bagi pengarangnya sendiri, terutama bagi editor. Sebaliknya, sering naskah yang materinya baik, karenanya mempunyai peluang besar untuk diterbitkan, namun diketik tanpa mengindahkan ketentuan yang umum berlaku, akan "memusingkan" sang editor dalam mengeditnya, dan ada kecenderungan untuk menunda saja pengeditan itu.
Karena itu, ketentuan dan tata cara pengetikan yang benar dan berlaku umum, sangat perlu diketahui oleh calon pengarang, sebagai berikut:
1. Terdapat beragam kertas dari berbagai kondisi, kualitas dan ukuran yang dapat dipergunakan untuk mengetik naskah. Namun dewasa ini yang lazim dipergunakan adalah jenis HVS berat antara 60 - 70 gram, boleh ukuran folio (lebih kurang 21,5 x 32,5 cm) atau ukuran kuarto (lebih kurang 21,5 x 28,5 cm). Kertas ini berwarna lebih putih, agak licin dengan ketebalan sedang. Jangan mempergunakan kertas berwarna ataupun bergaris.
2. Sekurangnya naskah diketik rangkap tiga (bila Anda menggunakan mesin tik manual) atau di cetak tiga lembar (bila Anda menggunakan komputer), dengan ketentuan, 2 (dua) set untuk Penerbit dan satu set untuk arsip pengarang.
3. Naskah harus diketik dengan satu jenis huruf saja, misalnya dalam mesin tulis terdapat jenis huruf Pica (10 huruf dalam 1 inci) atau huruf Elite sja (12 huruf dalam 1 inci). Atau bila Anda menggunakan komputer, Anda bisa menggunakan salah satu dari jenis huruf yang biasa digunakan seperti Times New Roman (besar huruf 12), Arial (besar huruf 11), Verdana (besar huruf 10) atau Tohama (besar huruf 11). Pengetikan dengan berbagai jenis huruf untuk satu naskah selain kelihatan kurang rapi akan menyulitkan pihak penerbit dalam menaksir banyaknya halaman setelah dicetak nantinya.
4. Yang diketik hanya pada satu muka saja (jangan timbal-balik), dengan jarak antar baris adalah 2 (dua) spasi ( ini bila Anda menggunakan mesin tulis. Pada mesin tulis 1 spasi adlah 2 gig putaran. Jadi 2 (dua) spasi adalah 4 (empat) gigi putaran, yakni 4 (empat) detakan bila ban mesin tulis diputar dengan tangan). Begitu juga bila Anda menggunakan komputer, jarak ideal antar baris adalah 1,5 dimana sama dengan jarak 2 spasi pada mesin tulis. Dan terakhir yang perlu dipastikan adalah bahwa jumlah baris pada setiap halaman haruslah sama.
5. Tinggalkan ruang marjin - bebas (kosong) di sebelah kiri selebar lebih kurang 4 cm, di sebelah kanan 2 cm, di sebelah atas 5 cm (dari baris pertama, bukan dari nomor halaman) dan dari bawah 4 cm. Ruang marjin bebas ini untuk tempat catatan bagi korektor atau editor di penerbit.
6. Bab atau judul-judul pada naskah buku, selalu dimulai dpada halaman baru, ditempakan di posisi tenah, ditempatkan agak sedikit ke bawah. Jadi dimuail agak ke bawah sedikit dari baris pertama halaman biasa. Penomoran halaman ditempatkan pada sudut bagian bawah, tapi bisa juga pada sudtu bagian atas. Pada naskah cerpen ataupun artikel, nama pengarang dpat ditempatkan di bawah judul, tapi biasa juga diterakan pada akhir karangan.
7. Untuk cerpen dan artikel, harus dituliskan jenis karangan di halaman pertama pada sudut kiri atas, misalnya: cerpen, artikel kesenian, artikel olahraga dan sebaginya.
8. Teks "catatan kaki" (footnote) ditempatkan pada halaman bagian bawah, namun apabila keterangan yang harus diteakan terlalu panjang, dapat ditempatkan plada halaman khusus di akhir karangan.
Copyright © 2009 http://www.indexarticles.com/































